Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Tidak Sanggup Bayar Utang, Jamu Nyonya Meneer Dinyatakan Pailit

Pabrik jamu legendaris PT. Nyonya Meneer akhirnya dinyatakan  pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang. Usaha jamu yang dirintis sejak tahun 1919 itu dinyatakan tidak sanggup membayar utang sebesar Rp. Milliar rupiah. Setelah berdiri sejak tahun 1919, kegiatan usaha Jamu Nyonya Meneer akhirnya harus berakhir.

Image : Merdeka.Com

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Pengadilan Negeri Semarang Nani Indrawati pada pekan ini memutuskan untuk mengabulkan gugatan salah satu kreditur dari Sukoharjo bernama Hendriarto Bambang Santoso. Hakim juga menyatakan, perjanjian perdamaian yang telah disepakati antara debitur, kreditur dan pihak kulator dibatalkan.

Baca Juga :
Kebangkutran Platform Digital Audio
5 Keluarga Terkaya di Indonesia

Perusahaan juga dinyatakan dalam keadaan pailit. Pada persidangan tersebut, ada sebuah gugatan yang diajukan oleh pemohon. Gugatan itu adalah gugatan yang menyatakan bahwa Jamu Nyona Meneer sedang dalam keadaan pailit. Hal ini memang dirasa harus dilakukan oleh pemohon karena Nyonya Meneer berhutang sehingga tidak bisa menyelesaikan hutangnya sesuai dengan proposal perdamaian.

Hendrianto hanya menerima 118 juta rupiah dari total hutang sekitar 7 miliar rupiah. Perusahaan jamu Nyonya Meneer didirikan oleh perempuan keturunan Tionghoa. Terlahir sebagai Lauw Ping Nio nama Meneer yang disandangnya bukan karena ia adalah istri seorang Meneer Belanda meinkan dari Ibunya yang berasal dari nama beras menir yaitu sisa butir halus penumbukan padi.

Setelah menikah Meneer mengikuti suaminya pindah ke Kota Semarang. Di kota inilah Meneer mulai menekuni, mengasah dan mempraktekkan pengetahuan meracik jamu yang merupakan warisan dari orang tuanya. Setelah berhasil merawat suaminya yang menjadi korban kekejaman pemerintah Kolonial Belanda.

Seiring berjalannya waktu, racikan rempah dan tanaman berkasiat yang dibuat Meneer mulai dikenal oleh warga kemudian merambah ke kota-kota di sekitar Semarang. Karena banyaknya permintaan, Meneer tidak mampu memenuhi seluruhnya. Untuk meminta maaf, Meneer mencantumkan fotonya pada kemasan jamu buatannya.

Tidak ada yang menduga jika di kemudian hari jamu dengan potret wanita itu menjadi begitu melegenda dan bertahan hingga hampir satu abad. Pada tahun 1919, demi mendukung kemampuan Meneer meracik jamu yang untuk membantu banyak orang, suami dan keluargan mendukung pendirian usaha pembuatan jamu di Semarang Jawa Tengah.

Kerja keras Meneer dan usaha membangun usaha jamu legendaris di Indonesia kini dapat disaksikan di Museum Jamu Nyonya Meneer yang didirikan pada Januari 1984 di Semarang yang sekaligus menjadi museum jamu pertama di Indonesia.


Sumber : Berita Satu TV

Pesona Kota Wali di Timur Pulau Jawa

Kabupaten Tuban merupakan salah satu titik penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sunan Bonang yang memiliki nama asli Syech Mahnum Ibrahim merupakan tokoh penting penyebaran Agama Islam di Tuban. Sekitar abad ke 16 Sunan Bonang Mulai Berdakwah di Tuban dan sekitarnya.

Image : flickr.com

Melalui media tembang atau lagu berisi ajaran Islam. Iringannya menggunakan musik pukul bonang. Melalui Pantai Boom di Tuban Agama Islam masuk ke Tuban. Pantai ini di masa Kerajaan Majapahit jadi pelabuhan terbesar di Tuban. Dari sinilah para saudagar Timur Tengah datang dan menyebarkan Agama Islam untuk wilayah Tuban dan sekitarnya.

Baca Juga :
Pesona Islam Masjid Agung Kauman di Semarang
Masjid Sunan Muria, Situs Sejarah Islam di Ketinggian 1600 Meter 

Tuban tumbuh menjadi salah satu destinasi jelajah sejarah Islam. Apalagi Sunan Bonang yang merupakan salah satu Wali Songo juga dimakamkan disini. Bersebelahan dengan kawasan makam Sunan Bonang, berdiri kokoh masjid indah nan megah bernama Masjid Agung Tuban. Atap warna warni jadi ciri khas gaya bangunan masjid ini. Corak ini mirip dengan yang ada di India ataupun timur tengah.

Masjid ini merupakan masjid yang sangat bersejarah khususnya bagi warga muslim di Tuban Jawa Timur. Masjid ini terletak tepat di jantung Kota Tuban persisnya berada tepat di depan alun-aluk Kota Tuban. Tak hanya menyimpan sejarah yang panjang, masjid ini mempunyai keunikan yang berhasil menarik perhatian pengunjung. Atapnya yang berwarna cerah serta perpaduan arsitekturnya.

Bagian luar masjid diadopsi dari gaya masjid Iran, sedangkan interiornya dari masjid Cordoba Spanyol yang khas dengan lengkung-lengkungnya. Dibangun pada abad ke 15, bangunan ini sudah dirombak sebanyak tiga kali dan perombakan terakhir dilakukan pada 2004. Warna warni yang ada di masjid ini bukan tanpa makna, melainkan menjadi simbol Rukun Islam dan Rukun Iman.

Gaya arsitektur masjid yang sudah modern tetap tak meninggalkan bagian-bagian yang dibangun sejak masjid berdiri. Pintu utama masjid yang terbuat dari kayu dan berhiaskan ukiran khas Jawa serta jendela besi ini. Memasuki ruang sholat utama tampilkan gaya khas nusantara juga tercermin pada mimbar yang terbuat dari kayu berukir.

Luas bangunan masjid ini sebesar 3724 meter persegi, berdiri di atas tanah seluas 5246 meter persegi. Tempat ibadah ini tidak pernah sepi dari jamaahnya, mulai dari shalat atau membaca Al-Qur’an kala menunggu saat azan tiba. Salah satu kegiatan rutin yang lainnya adalah pembelajaran Al-Qur’an yang diselenggarakan setiap sore usai shalat Ashar dan anak-anak usia 6 hingga 12 tahun adalah para pesertanya.

Keelokan arsitektur masjid ini berhasil menarik minat peziarah dari luar kota. Banyaknya kegiatan yang rutin digelar di Masjid Agung Tuban, hanyalah salah satu cara untuk menarik minat umas muslim untuk rajin beribadah di masjid. Tak hanya megah bangunannya, Masjid Agung Tuban ini juga menjadi simbol semangat bagi umat muslim tuban dalam menjalankan ajaran Islam di Bumi.


Sumber : Net.

 

Kota Barus, Sejarah Yang Hilang

Barus, sebuah kota kecil dan terpencil di pesisir barat pantai Sumatera Utara. Barus berjarak 414 kilometer atau sekitar 12 jam perjalanan darat dari Medan Sumatera Utara. Barus adalah kota tertua di Nusantara. Tidak diketahui asal mula Barus serta penduduk aslinya. Seluruh catatan dan bukti sejarah yang ada menunjukkan bahwa masyarakat lokal penghuni Barus masa lalu adalah para pendatang dari Batak, Aceh, Melayu dan Minang.

Image : aswilblog.files.wordpress.com

Pada periode 627 Masehi atau sekitar tahun pertama hijriah, bangsa Arab mulai mengenalkan Islam di Barus. Saat Islam tiba di Barus, komunitas masyarakat Barus adalah penyembah berhala. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri. Misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 Masehi dalam bukunya silsilatus tawarih. Ajaran Islam yang pertama kali diperkanalkan di Barus hanya jalan Tauhid dengan bacaan dua kalimat syahadat.

Beberapa ayat Al-Quran yang telah diajarkan di Barus adalah surat-surat Tauhid yang diturunkan di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah pada tahun 621 Masehi. Di Barus inilah untuk pertama kalinya Islam dikenal oleh bangsa-bangsa di Nusantara. Ajaran Islam yang diajarkan belum sampai syariat, karena pada saat komunitas Islam pertama ada di Barus ini, Rasulullah belum menerima perintah shalat dan juta puasa.

Sejarah Islam di Barus dan keberadaan raja-raja Barus masih harus diteliti pembuktiannya. Hingga kini sisa-sisa sejarah tentang Kerajaan Barus belum dapat ditemukan para arkeolog maupun sejarawan yang ada. Belum ada prasasti yang menemukan bahwa dulu Barus merupakan kota perdagangan yang sibuk. Seperti halnya prasasti-prasasti pada kerajaan Malaka, Aceh, Sriwijaya dan lain-lainnya yang memang menjadi sebuah bukti kuat keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut.

Besar kemungkinan pada masa kesultanan Barus, kontrol penguasa terhadap kota-kotanya kurang. Nama Barus mengalami pasang surut dalam sejarah nusantara. Berdasarkan catatan sejarah tiga kemungkinan musnahnya kejayaan Barus disebabkan oleh alam, dampak peperangan dan karena adanya sistem perdagangan monopoli.


Sumber : Seputar Indonesia, RCTI

Kota Lama Semarang

Pertengahan abad ke 18, Semarang terkenal dengan kota modern yang menguasai perdagangan dunia. Jejak kota kosmopolitan masa lalu itu masih terasa dengan bangunan beraksitektur Eropa. Zaman dahulu kawasan tersebut terkenal dengan nama The Little Nederland atau Belanda Kecil. Kejayaan masa lalu yang pernah singgah 4 abad lalu itu meninggalkan sebuah kesan yang mendalam tentang sejarah masa lalu melalui bangunan indahnya.

Image : wikipedia.org

Kini wajah Venesia dari timur itu berangsung merana dan terancam hilang. Wajah bangunan megah itu berganti rupa dengan dinding-dinding yang semakin kusam tak terawat. Sejumlah bangunan terancam roboh dibiarkan tak terurus oleh pemiliknya. Dari sekitar 250 bangunan di kota lama, sebanyak 105 bangunan yang masuk dalam bangunan cagar budaya. Terdapat sekitar 15 bangunan penting yang bersejarah hilang begitu saja.

Baca Juga :
Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan
Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi

Usaha pelestarian dan perawatan sepertinya masih menjadi kendala terbesar. Revitalisasi yang direncanakan pemerintah seolah terhenti tanpa aksi. Namun bagi sebagian orang, kota lama selalu memberikan inspirasi dan gairah. Salah satunya adalah geliat sejumlah komunitas untuk menghidupkan kembali kota yang lama mati.

Menurut Wawan salah seorang penggiat Komunitas Kota Lama Semarang mentakan “Saat ini di kota lama sendiri sudah terdapat berbagai macam aktivitas kegiatan. Salah satunya dari teman-teman penggiat kota lama yang mempunyai agenda setiap bulan berupa kletian kota lama dari orat oret dan komunitas seni rupanya kemudian ada juga kegiatan besar setiap tahun. Saya disini sebagai perwakilan dari teman-teman komunitas di kota lama merasa tertantang.

Dimana saya sebagai warga semarang merasakan bahwa saya sedari kecil melihat kota lama ini terlalu lama tidur panjang. Untuk itu bersama teman-teman komunitas, kami berharap kota lama bisa hidup lagi. Dengan berbagai macam aktivitas di kota Semarang, maka kota lama dijadikan sebuah ikon baru Semarang. Namun sayangnya saat ini para pemilik dari bangunan-bangunan lama sangat tidak care. Untuk itu kami dari komunitas penggiat kegiatan di kota lama mempunyai suatu pandangan yang berbeda dengan pemerintah.

Dalam arti disini kami ikut mengampanyekan dan memiliki visi dan misi. Kami ingin menunjukkan bahwa kota lama juga sangat menarik untuk dinikmati. Disitu ada sebuah cafe yang dinamakan dengan Cafe Noeri yang baru sekitar satu tahun yang lalu dibuka. Didalamnya terdapat segala sesuatu yang unik dan menarik. Dimana isinya menyesuaikan dengan keberadaan bangunan di kota lama.

Keberadaan cefe ini tidaklah mengubah bentuk bangunan aslinya, hanya merawatnya dan mendesain ulang asesories yang ada di dalamnya. Karena menurut kami, sebuah bangunan tua jika tidak dirubah bentuknya namun hanya dirubah fungsinya, maka bangunan tersebut cenderung akan bisa menarik orang untuk masuk ke dalamnya tanpa rasa takut”. Cafe Noeri menjadi sebuah oase bagi wisatawan untuk sekedar duduk atau merasakan atmosfer masa lalu.


Sumber : Harian Kompas 


Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan

Tidak sekedar menyandang Kota Pahlawan, Kota Pahlawan Surabaya menyimpan sejarah perjuangan panjang dibaliknya. Hingga kini semangat pahlawan menjadi bagian tak terpisahkan dari warga dan kehidupan kota ini. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di nusantara. Pada usianya yang ke 270 tahun, Surabaya masih dan terus menjadi rumahnya bagi tak kurang 3 juta penghuninya.

Image : flickr.com

Kota ini juga tak henti torehkan deretan prestasi. Pemerintah masa depan terbaik se Asia Pasifik tahun 2013, kota ramah pejalan kaki, dan kota seribu taman baru sebagian diantaranya. Namun predikat yang senantiasa melekat erat, Surabaya adalah Kota Pahlawan. Predikat Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan berawal dari pertempuran besar pada tanggal 19 September 1945.

Baca Juga :
Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi
Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta

Sejarah tersebut bermula dari sebuah Hotel yang bernama Hotel Yamato yang sekarang berubah nama menjadi Hotel Majapahit. Berdiri sejak tahun 1910 tepat di jantung kota, pemilik awalnya pedagang asal Armenia Lucas Martin Sarkis, perancangnya seorang arsitek asal Inggris James Afprey. Melewati serangkaian cerita kota, sekaligus menjadi saksi sejarah sebuah bangsa, Yamato, Oranje, dan Majapahit masa kini senantiasa kokoh berdiri.

Masih di tahun yang sama yaitu 1945 pasca kemerdekaan, bendera Belanda berkibar di tiap sudut Kota Surabaya dan salah satunya di puncak Hotel Yamato. Kondisi tersebut memicu kemarahan arek-arek Suroboyo (anak-anak Surabaya) dan dengan tekad mempertahankan Indonesia. Seorang pemuda berani keluar dari kerumunan dan memanjat tiang setinggi 12 meter untuk merobek warna biru bendera Belanda.

Dan akhirnya Sang Saka Merah Putih tetap berkibar di Kota Surabaya. Hotel Majapahit bukan satu-satunya fragmen dalam kisah patriotisme kota ini. Sebuah bangunan megah di Jalan Tunjungan yang kini beralih fungsi menjadi salah satu sentra bergulirnya roda ekonomi juga menyimpan sejuta histori. Salah satu tempat perbelanjaan megah berdiri di Jalan Tunjungan yaitu Tunjungan City yang menjadi pusat perbelanjaan elektronik di Kota Surabaya.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa gedung Tunjungan City dahulu merupakan benteng untuk menahan serangan sekutu dari arah utara di tahun 1945. Sejatinya, setiap langkah, setiap ruas jalan dan setiap sudut Surabaya adalah sejarah. Tapi ada satu tempat yang merangkumkan semuanya dalam diorama-diorama juga mendokumentasi beragam prasasti, berbagai bukti serta menyimpan tekad dan semangat.

Puncak pertempuran besar terjadi 10 November 1945, salah satu tempatnya berada di sebuah bentang Jembatan Merah yang berada di pusat Kota Surabaya. Seorang Sejarawan Imam Widodo menorehkan sepenggal peristiwa berdarah ini di dalam bukunya. Kini 10 November di Kota Surabaya telah menjadi sejarah panjang membuat bukti kemerdekaan dan gelora perjuangan jadi bagian tak terpisahkan pada sendi kehidupan setiap warga.

Dan para penghuni kota punya sejuta cara mengenang perjuangan leluhur sekaligus pahlawan mereka. Salah satunya menghidupkan semangat juang dalam pertunjukan seni. Bukan sekedar unjuk gigi atau pamer kebolehan, melainkan berlandas kesadaran bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mengharga jasa pahlawan serta senantiasa ingat pada akar sejarahnya.


Sumber : Net.TV

Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi

Meski sumber alamnya tidak begitu banyak dan wilayahnya juga tidak begitu besar, namun Cimahi menjadi salah satu kawasan strategis dan memiliki potensi untuk menjadi kota maju. Terbukti kota ini pernah dijadikan basis militer terbesar dan juga berkembang menjadi kota otonom. Perkembangan tata kota dan pembangunan yang pesat merupakan suatu bukti perjalanan panjang perubahan yang terjadi pada suatu daerah.

Image : panoramio.com

Seperti Kota Cimahi, salah satu daerah di kawasan Bandung yang memiliki luas 48.000 kilometer persegi ini. Nama Cimahi berasal dari kata Cai dan Mahi yang berarti air yang cukup. Dalam hal ini dimaknai dengan air sungai yang mampu mencukupi hajat hidup masyarakat di sekitarnya. Di masa penjajahan, wilayah pegunungan dan lingkungan yang bersih seperti Cimahi kala itu menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga :
Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta
Sejarah Kota Mekkah

Bahkan Cimahi juga dipersiapkan untuk menjadi basis militer terbesar di tanah Hindia. Berbicara Cimahi tidak bisa lepas dari unsur militer. Sejumlah pembangunan sarana dan prasarana dilakukan untuk mendukung pertahanan Hindia Belanda kala itu. Mulai dari sarana transportasi dengan dibangunnnya jalur kereta api serta stasiun kereta api yang didirakan tahun 1884.

Selain memudahkan mobilitas warga saat  itu, jalur kereta api tersebut juga dianggap strategis karena menghubungkan kawasan Batavia dan Bandung. Bahkan hingga menjelang kemerdekaan rel kereta menjadi jalur pengiriman pasukan serta senjata dari pabriknya di Kiara Condong menuju gudang penyimpanan senjata di Cimahi sebelum disebar ke kawasan-kawasan pertempuran.

Sarana yang masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik hingga saat ini adalah rumah sakit. Rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Dustira yang dulunya dikenal dengan nama Militer Hospital. Dulu rumah sakit Dustira dibangun khusus para prajurit tentara Belanda yang sakit dan luka dalam pertempuran.

Di era kemerdekaan wilayah Cimahi mengalami beberapa kali perubahan sistem pemerintahan. Mulai dari menjadi bagian Kabupaten Bandung sebagai daerah kewedanaan yang terdiri dari lima kecamatan yaitu kecamatan Cimahi, Padalarang, Batujajar, Cipatat dan Cisarua. Pada tahun 1976 statusnya ditingkatkan menjadi kota administratif dan Cimahi menjadi kota ketiga di Indonesia setelah Bitung Sulawesi Utara dan Kota Banjar Kalimantan Selatan. Hal ini dikarenakan Cimahi memiliki beberapa potensi yang justru harus diperhatikan.

Selama 26 tahun menjadi kota administratif Cimahi menjadi salah satu wilayah penyokong pendapatan Kabupaten Bandung, namun pembangunan saat itu justru terasa minim. Hingga akhirnya masyarakat mendorong untuk dijadikannya sebuah daerah otonom. Hasil dari berbagai kajian yang dilakukan oleh pemerintah pusat, tahun 2001 Cimahi ditetapkan sebagai kota otonomi hingga saat ini.

Kota Cimahi yang dihuni 586.586 jiwa yang tersebar di 3 kecamatan serta 15 kelurahan kini dapat menentukan kebijakan sesuai kondisi daerah serta mengatur peruntukan dana di wilayah secara mandiri. Usaha dalam meningkatkan perkembangan kota kearah yang lebih baik dan maju tidak lantas budaya dan adat istiadat ditinggalkan. Salah satunya desa adat Cireundeu yang masih bertahan sejak tahun 1918.

Kepercayaan, budaya dan tradisi warisan leluhur masih terus dijalankan warga desa ada Cireundeu hingga saat ini. Perkembangan suatu kota bukan hanya semata-mata merubah status ataupun penampilan luarnya saja, tetapi semangat menjaga dan melestarikan budaya yang ada juga menjadi penting dalam mencapai suatu perubahan.


Sumber : Net Jabar

Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta

Inilah bangunan-bangunan tua di kawasan Kota Tua Jakarta. Bangunan tua bersejarah dibiarkan kumuh, terlantar dan nyaris runtuh dimakan usia. Satu diantaranya, komplek bangunan gudang tua VOC yang dibangun sekitar abad ke 17. Pada abad 17 hingga 18, Belanda membangun benteng sekaligus sebagai kota pelabuhan yang lengkap dengan gudang-gudang logistik penyimpanan rempah-rempah.

Image : flickr.com

Satu dari gudang itu kini digunakan sebagai rumah dinas pegawai sebuah instansi pemerintah. Surya, adalah seorang penghuni bangunan tua ini. Dia lahir dan dibesarkan disini. Orang tuanya telah menempati bangunan tua ini sejak 1950an. Semasa kecil ia masih dapat berlari-lari di sekitar bangunan. Namun sejalan dengan perkembangan kota, kawasan ini tergenang air karena daerahnya lebih rendah dari bangunan di sekitarnya.

Baca Juga :
Sejarah Asal Stasiun Jakarta Kota Sebagai Salah Satu Cagar Budaya
Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta

Bangunan gudang tua yang dihuni Surya dan enam kepala keluarga lainnya masih terawat dibandingkan dengan bangunan lainnya yang dibiarkan kosong. Banyak warga Jakarta yang mungkin tak tahu bahwa komplek bangunan tua yang dulu berfungsi sebagai benteng milik VOC adalah cikal bakal Kota Jakarta. Kawasan Kota Tua Jakarta terletak di wilayah seluas 139 hektar di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Kadis Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan menuturkan “Ternyata banyak sekali, dan saya harus mengakui bahwa kemi pemerintah Jakarta belum mampu melestarikan Kota Tua Jakarta sebagaimana seharusnya. Semestinya semua benda itu dikonservasikan, siapapun pemiliknya. Nah, ternyata ada beberapa bangunan cagar budaya yang pemilikannya bukan oleh kami”.

Bangunan gudang sisi barat dahulu merupakan tempat penyimpanan komoditas dagang terpenting seperti lada, cengkeh, biji pala sebelum diangkut kapal menuju Eropa. Sementara reruntuhan bangunan sisi timur yang kini terletak di sisi jalan layang tol Cengkareng Tanjung Priok dahulu dikenal sebagai Osaider Park Ocean. Bangunan ini berfungsi sebagai gudang persediaan logistik makanan bagi para pelaut yang akan berlayar selama berbulan-bulan menuju Eropa.

Kedua bangunan ini merupakan tanda batas barat dan timur komplek benteng kota Batavia. Seorang sejarawan bernama Adolf Heuken menuturkan “Gudang yang menghubungkan antara benteng dan kota ini dulu sangat penting karena menjadi bagian dari tembok kota Batavia sampai ke Benteng. Untuk menutup halaman yang kosong antara benteng dan kota, VOC abad ke 18 bangunan gudang yang sekaligus di sebelah timurnya adalah Benteng Kota”.

Meski kini bangunan tua itu seperti hilang tersapu kemajuan zaman, tetapi tak selayaknya bangunan-bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua dilupakan. Bangunan tersebut merupakan aset bangsa dan warisan budaya sehingga perawatan dan perlindungannya menjadi tanggung jawab bersama. Perjalanan panjang sejarah bangsa tidak bisa dilepaskan dari jejak masa lalu yang membentuk sejarah itu sendiri.

Salah satu jejak masa lalu yang dapat kita saksikan di masa sekarang ini adalah berupa bangunan tua bersejarah. Namun sayangnya bangunan-bangunan tua itu seakan tidak mendapat kepedulian dan terlupakan oleh perkembangan waktu dan zaman. Untuk itu sudah seharusnya masyarakat dan instansi pemerintah yang terkait untuk bisa memberikan kepeduliannya untuk merawat dan melestarikan bangunan-bangunan tua yang bersejarah sebagai warisan budyaa yang tak ternilai bagi generasi kita di masa yang akan datang.


Sumber : Kota Kita

Komplek Candi Muaro Jambi

Kali ini kita berkesempatan untuk jalan-jalan ke Candi Muaro Jambi. Sebagai salah satu andalan Provinsi Jambi dan merupakan salah satu destinasi wisata yang ‘Jambi Banget’ yang terkenal di dalam maupun luar negeri. Bahkan komplek inipun sudah masuk ke dalam daftar tentatif World Heritage.

Image : ulinulin.com

Tempat wisata budaya ini berada di Kecamatan Muaro Sebo Kabupaten Muaro Jambi atau sekitar 26 kilometer dari pusat Kota Jambi. Komplek candi ini disebut sebagai candi beraliran Budhisme peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

Baca Juga :
Candi Singosari, Bukti Peninggalan Kerajaan Singosari
Cerita Lain Dari Relief Candi Penataran Jawa Timur

Tempat wisata di Jambi ini juga disebut sebagai kompleks candi terluas di Indonesia. Pada tahun 2009 UNESCO menetapkan candi yang berupa susunan bata merah ini sebagai salah satu situs warisan dunia yang wajib dilindungi. Perlu diketahui, ada tiga hal yang ‘TER’ di Jambi.

Pertama Candi Muaro Jambi sebagai Candi Terluas, Kedua Sungai Batang Hari sebagai Sungai Terpanjang dan Terluas, Serta Ketiga Masjid dengan Tiang Terbanyak yaitu Masjid Seribu Tiang di jantung Kota Jambi. Kembali ke kompleks Candi Muaro Jambi, candi ini ditemukan oleh S.C. Crooke, seorang letnan Inggris pada tahun 1820.

Candi Muaro Jambi kemudian dipugar oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1975. Sampai saat ini terhitung ada 61 buah candi yang sebagian besar masih tertutup tanah. Kompleks candi ini sangat luas, lebih dari 12 kilometer persegi luasnya. Ada 9 candi besar yaitu  Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Letak antara candi satu dengan candi yang lain jaraknya sangat jauh sekali. Sehingga untuk bisa menjangkau keseluruhan kompleks candi diperlukan alat transportasi. Anda bisa menggunakan sepeda ataupun sepeda motor. Terutama bagi anda yang ingin mengelilingi kompleks. Untuk mempermudah jangkauan, warga sekitar menyediakan penyewaan sepeda dengan harga cukup terjangkau yaitu Rp. 10.000 setiap jamnya.


Asal Usul Pulau Bali

Menurut legenda Pulau Bali dahulu merupakan daratan yang menyatu dengan Pulau Jawa. Akan tetapi para ahli hingga saat ini belum mengetahui sejak kapan kedua pulau ini kini terpisah. Menurut beberapa sumber dari Kitab Usana Bali dan Babad Manik Angkeran, Pulau Bali dan Pulau Jawa terpisah kala itu akibat meditasi yoga dari Ide Mpu Bekung atau yang lebih dikenal sebagai  Danghyang Siddhimantra yang merupakan seorang Brahmana atau Pendeta asal Kerajahan Daha Jawa Timur.

Image : pixabay.com

Menurut cerita Danghyang Siddhimantra memiliki seorang anak bernama Manik Angkeran. Manik Angkeran memiliki kebiasaan bermain judi, namun karena sering kalah judi akhirnya Manik Angkeran mempunyai banyak hutang dan akhirnya meminta tolong kepada sang ayah. Merasa kasihan dengan putranya, Danghyang Siddhimantra memohon bantuan kepada Naga Basuki yang berada di Gunung Agung. Dengan membunyikan genta, Danghyang Siddimantra membangunkan Sang Naga Basuki yang kemudian memberikannya beberapa keping emas.

Pertemuan antara Danghyang Siddimantra dan Naga Basuki diketahui oleh putranya Manik Angkeran. Karena didorong kegemaran berjudinya, Manik Angkeran kemudian datang sendiri memohon emas kepada Sang Naga. Melihat ekor Sang Naga yang bermahkotakan intan dan beralaskan emas, maka muncul sifat jahat dari Manik Angkeran. Saat Sang Naga lengah, Manik memotong ekor Naga Basuki. Lalu Naga Basuki marah dan menyemburkan api hingga membunuh Manik Angkeran.

Mengetahui putranya tewas, Mpu Bekung memohon kepada Naga Basuki untuk menghidupkannya kembali. Permintaan itu dituruti Sang Naga asalkan Mpu Bekung dapat mengembalikan ekornya. Lalu ekor Sang Naga pun dapat kembali seperti semula dan Manik Angkeran dihidupkan kembali. Setelah hidup Manik Angkeran diserahkan kepada Sang Naga Basuki untuk mengabdi di Gunung Agung. Mpu Bekung kemudian kembali ke Kerajaan Daha dengan meninggalkan Manik Angkeran di kaki Gunung Agung.

Saat tiba di tanah genting, Mpu Bekung teringat kembali akan sifat gemar berjudi Manik Angkeran. Untuk mencegah anaknya kembali ke Daha dan berjudi, melalui sebuah meditasi Yoga, goresan tongkat Mpu Bekung di tanah genting kemudian berubah menjadi perairan. Perairan tersebut kini dikenal dengan Selat Bali, yakni selat yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Jawa. Walaupun belum dapat dipastikan kebenarannya, tetapi bukti yang ada saat ini juga sulit dibantah.

Di lokasi Danghyang Siddhimantra beryoga sebelum memisahkan Bali dan Jawa kini berdiri kokoh sebuah pulau bernama Pura Segara Rupek. Pura ini berlokasi di Taman Nasional Bali Barat, tepat di ujung Bali. Lokasi Pura berjarak sekitar 2 kilometer dari Pulau Jawa. Selain itu keturunan Manik Angkeran yang disebut Ngurah Sidemen hingga hari inipun masih berkewajiban menjadi pemangku di Pura Besakih di kaki Gunung Agung. Sumber lain yakni beberapa penulis Eropa seperti Raffles dan J. Hagemen juga membenarkan bahwa Bali dan Jawa dahulu merupakan satu daratan.

Namun menurut para penulis tersebut, terpisahnya Pulau Bali dan Pulau Jawa disebabkan oleh bencana letusan sebuah Gunung Berapi. Ketiga penulis menerangkan, Terpisahnya Bali dan Jawa terjadi pada abad ke 13. Raffles menerangkan peristiwa tersebut pun terjadi pada tahun 1.204 masehi. Setali tiga uang dengan asal usulnya, kapan pulau berbentu Palu Godam ini disebut dengan Bali  tidak ada yang dapat memastikannya. Sumber-sumber historis belum memberikan informasi tuntas mengenai permulaan nama Bali.

Ida Bagus Putu Bangli dalam buku Mutiara Dalam Budaya Hindu Bali menguraikan, tiga nama untuk Pulau Bali yakni Wali, Bali dan Banten. Ketiga istilah memiliki makna yang sama yakni persembahan. ketiga nama tersebut paling sering disebut dalam berbagai prasasti yang ditemukan. Dalam Prasasti  Blanjong yang berangka tahun 835 saka tertera kata Wali Dwipa. Prasasti Blajong disebut prasasti tertua yang ditemukan di Bali. Kata ‘Bali’ untuk menyebut nama Pulau Bali juga ditemukan dalam Prasasti Buahan D yang berangka tahun 1103 saka.

Sedangkan kata ‘Banten’ untuk menyebut nama pulau ini ditemukan dalam Prasasti Tengkulak A yang berangka tahun 945 saka. Sebutan Banten ditemukan pula dalam kaitannya dengan nama Raja Bali Kuna yang ditemukan dalam Prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 saka. Raja bali ini bernama Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yang dapat diartikan Rajat Ibarat Delapan Dewa sebagai permatanya Pulau Banten.

Bali, Wali maupun Banten memiliki arti yang sama yakni persembahan. Cerita perjalanan Maharesi Markandeya bersama ratusan pengikutnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari nama ini. Sesuai dengan petunjuk yang didapat, untuk dapat tinggal di Pulau Bali, Maharesi Markandeya harus melakukan upacara penolak balak yang disebut Panca Datu. Maharesi kemudian mengajarkan kepada pengikutnya dengan melakukan ritual penyembahan surya tiga kali dalam sehari memakai alat-alat berbali atau sesajen yang mengandung tiga unsur meliputi api, air dan bunga.

Lama kelamaan ajaran agama itu disebut dengan Agama Bali, dan nama Bali dipakai juga untuk menamai daerah tersebut. Dapat dikatakan asal nama Pulau Bali diartikan sebagai daerah yang melakukan segala sesuatu  menggunakan berbali atau sesajen. Hal ini semakin diperkuat dengan bukti bahwa warga Bali sangat identik dan tidak lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.



Sumber : NET. Bali - Bali Story | Asal Usul Pulau Bali

Menara Kudus, Simbol Pluralisme di Awal Perkembangan Islam

Sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Jawa, Kota Kudus menyimpan banyak situs-situs Islam. Salah satunya adalah Masjid Menara Kudus. Menara yang dibangun pada tahun 1549 masehi memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa. Pendirinya yaitu KH. Jafar Sodik atau lebih terkenal dengan nama Sunan Kudus sengaja mengambil batu dari Baitul Maqdis Palestina dan digunakan sebagai batu pertama pembangunan Masjid.

Image : flickr.com

Desain arsitektur menara lebih mendekati pada arsitektur Jawa Hindu. Menara dengan tinggi 18 meter dan luas dasar 100 meter persegi ini menyerupai candi pada masa Majapahit. Bahan konstruksi terbuat dari susunan batu bata merah yang disusun tanpa perekat. Walaupun bangunan ini merupakan menara dari sebuah Masjid, namun bentuknya menyerupai candi. Kaki atau pondasinya disebut Pradak Sinapata yang biasa di temukan pada candi-candi di Pulau Jawa.

Baca Juga :
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Masjid Sunan Muria, Situs Sejarah Islam di Ketinggian 1600 Meter 

Teknik konstruksi jawa juga dapat dilihat pada atap menara yang ditopang soko guru atau empat pilar penyangga. Sesuai fungsinya pada zaman dulu, menara Masjid digunakan untuk mengumandangkan azan. Yang unik dari menara Masjid Kudus ini adalah bedug dan kentongan yang berada di atas menara, biasanya adanya di serambi Masjid. Ornamen perhiasan pada menaralah yang membedakan Menara Kudus dengan Candi.

Tidak ditemukannya ornamen bergambar makhluk hidup pada menara, karena budaya Islam tidak memperkenankan penggambaran makhluk hidup. Ornamen menara lebi menonjolkan pada presisi penyusunan batu bata. Selain menara masih ada beberapa elemen unik di Komplek Masjid Menara Kudus, salah satunya adalah yaitu sebuah gerbang yang disebut dengan Gerbang Kembar. Bentunya menyerupai bangunan-bangunan pra Islam di Pulau Jawa. Bangunan Gerbang Kembar menyerupai Gapura Hindu.

Gapura ini berfungsi sebagai penyekat antara ruang profan dan sakral. Setiap tahunnya, Masjid ini dikunjungi ribuan peziarah dari berbagai daerah. Keberadaan makam Sunan Kudus di areal komplek Masjid Menara Kudus menjadi daya tarik tersendiri. Umumnya pengunjung beribadah dan berziarah di Masjid Menara Kudus ini. Salah satu elemen yang tak kalah unik adalah tempat wudhu kuno yang berada di sebelah masjid. Arcanya menyerupai bentuk kepala sapi, namun masyarakat Kudus menamainya dengan Kerbau Gumarang.

Karena pada zaman dahulu binatang sapi sangat dihormati oleh masyarakat Hindu Kota Kudus. Pancuran Kerbau Gumarang berjumlah delapan buah. Jumlah ini dikaitkan dengan falsafah Budha yaitu Asta Arya Marga yang berarti Delapan Jalan Utama, yang isinya pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan kompementasi yang benar.



Sumber : CMN Channel

Masjid Sunan Muria, Situs Sejarah Islam di Ketinggian 1600 Meter

Salah satu situs peninggalan Islam di Pulau Jawa adalah Masjid peninggalan Sunan Muria yang berada di Desa Colo Pegunungan Muria Kudus Jawa Tengah. Masjid tersebut berada di ketinggian 1.600 meter diatas permukaan laut. Salah satu keunikan Masjid Sunan Muria adalah bentuk Mihrab atau tempat Imam Masjid dan sejumlah benda bersejarah dengan ornamen Tiongkok.

Image : flickr.com

Untuk mencapai Masjid Muria pengunjung harus menyusuri jalan sempit yang menanjak sekitar 3 kilometer. Dari lokasi Masjid pada pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Kudus hingga Kabupaten Pati. Selama ratusan tahun Masjid sekaligus makam Sunan Muria di lokasi ini telah mengalami banyak perubahan.

Baca Juga :
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Cerita Dibalik Masjid Istiqlal Yang Bediri Kokoh 

Namun beberapa benda dan bagian bangunan di dalam Masjid yang dibangun Sunan Muria hingga kini masih utuh. Salah satunya tempat Imam Masjid atau Mihrab. Berbeda dengan biasanya, Mihrab disini menjorok kedalam. Susunan bata pada bangunan ini juga masih utuh seperti aslinya. Termasuk puluhan cawan dari Tiongkok yang ditempel di dinding bangunan. Semasa hidupnya Sunan Muria dikenal sangat egaliter dan dengan dengan rakyat jelata.

Di dalam masjid terdapat benda-benda hasil peninggalan Sunan Muria. Dan kesemua benda tersebut merupakan sebuah penanda dan petunjuk kemuliaan dari ajaran beliau. Menurut penuturan sang Pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria yaitu Bapak Mastur “Ini adalah Masjid dan Makam Sunan Muria pertama. Sunan Muria namanya adalah Raden Umar Said. Beliau bermukim di Puncak Gunung Muria, menyebarkan agama Islam di Gunung Muria dan sekitarnya sampai wafat di Gunung Muria sehingga beliau terkenal dengan nama Sunan Muria”.

Benda lain peninggalan Sunan Muria adalah Bedug yang terbuat dari kayu jati kuno. Terdapat pahatan berbentuk ukiran naga dan ayam jantan diatas Bedug. Berdasar tanggal yang tertera, bedug ini dibuat pada tahun 1884 masehi. Ada pula gentong Sunan Muria yang sering menjadi tempat tujuan para pengunjung setelah berziarah di makam Sang Wali. Dari dalam gentong, air yang berasal dari mata air pengunungan Muria senantiasa mengalir sepanjang waktu.

Semasa hidupnya, Sunan Muria atau Raden Umar Said dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat jelata. Beliau meninggalkan keramaian Kerajaan Demak dan membangun Masjid di lereng Gunung Muria sebagai pusat pembinaan masyarakat.


Sumber : CNN Indonesia

Cerita Dibalik Masjid Istiqlal Yang Bediri Kokoh

Sejarah bangsa ini tak akan istimewa tanpa kehadiran Masjid Istiqlal. Sebuah masjid monumental yang terbesar di Asia Tenggara dan mampu menampung hingga 200 ribu jamaah. Masjid Istiqlal dibangun di bekas Taman Wilhelmina atau Wilhelmina Park di sisi timur laut Lapangan Medan Merdeka. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1951 dan diarsiteki oleh Friedrich Silaban seorang kristen. Friedrich memenangkan sayembara rancang bangun masjid dan mengalahkan 22 peserta lainnya.

Image : flickr.com

Menurut salah satu Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar mengungkapkan “Mereka (para tamu asing) sangat takjub, karena ternyata arsitek pembangunan Masjid Istiqlal yang begini kokoh itu ialah Silaban seorang non muslim (Katolik / Kristen). Mereka kaget kok bisa seorang kristen membuat gambar Masjid? Apa yang salah? Tidak ada. Sebab, seperti yang biasanya juga terjadi berapa banyak para ilmuan-ilmuan Muslim memberikan konstribusi terhadap rumah-rumah ibadah agama lain juga. Jadi umat Islam Indonesia itu adalah pembaca sejarah. Kami juga membaca bahwa salah satu ketakjuban mereka (tamu-tamu asing), ialah mengenai bangunan Masjid itu. Masjid seperti ini kokoh tidak ada satupun kayu di dalamnya dan semuanya besi-besi. Jadi kokoh sekali, sangat maskulin, sangat tangguh dan itulah lambang ke Indonesiaan itu sendiri. Bahwa Indonesia itu tangguh dan bisa disimbolkan dari Masjid Istiqlal”.

Baca Juga :
Pesona Islam Masjid Agung Kauman di Semarang
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 

Dalam perjalanannya, pembangunan Masjid Istiqlal sempat tensendat. Sejak direncanakan sejak tahun 1950 sampai 1965, pembangunannya tak mengalami banyak kemajuan. Lantaran masalah dana dan situasi politik yang kurang kondusif. Tujuh belas tahun kemudian Masjid Istiqlal selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Suharto pada 22 Februari 1978. Semangat nasionalisme pun berpadu dengan filosofi religi pada arsitektur geometris modern Masjid yang dibangun dengan biaya 7 Milliar Rupiah ini. Masjid Istiqlal dibangun lima lantai sebagai simbol dari pondasi utama umat yakni rukun Islam. Diameter kubah yang panjangnya mencapai 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Tinggi menara yang mencapai 6.666 centimeter adalah representasi dari jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an.

Nasaruddin Umar melanjutkan “Kalau ke Masjid Istiqlal, maka disamping masjid itu ada Gereja Besar Katedral. Nah, ini dua rumah ibadah yang besar berdampingan, yang mana itu juga merupakan simbol toleransi yang sangat penting di Indonesia. Dan ini merupakan hal yang sangat mahal. Salah satu faktor yang jadi pemersatu bangsa ini adalah Masjid Istiqlal itu sendiri. Masjid Istiqlal itu merangkum seluruh golongan-golongan umat Islam di Indonesia. Entah itu Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Al Wasliyah dan ada 64 ormas-ormas Islam, maka ‘Welcome to Masjid Istiqlal’. Masjid Istiqlal itu adalah Masjid bersama. Siapapun, Mahzab manapun boleh masuk di Masjid Istiqlal.

Islam adalah rahmat bagi semesta, Islam mengajarkan toleransi dan keterbukaan. Pesan inilah yang membuat pengunjung dan ribuan turis tak pernah surut mendatangi Masjid Istiqlal setiap bulannya.Salah satu pengunjung dari negeri tetangga Australia benama Emil menuturkan “Sangat Unik. Saya belum pernah melihat Masjid sebesar ini sebelumnya. Cukup menakjubkan. Hal yang pertama yang saya perhatikan dan saya pikir menakjubkan (karena letaknya bersebelahan dengan Gereja Katedral) adalah tempat ibadah dua agama yang berbeda berdiri saling berhadapan. Dan bagi saya itulah simbol kebersamaan yang sangat baik”.

Istiqlal yang dalam bahasa Arab berarti merdeka ini lahir sebagai perwujudan rasa syukur atas kemerdekaan bangsa. Masjid Istiqlal terbuka bagi siapapun yang ingin melihat Islam dan nilai kebangsaan Indonesia saling mengisi.



Sumber : CNN Indonesia 

Sejarah Masjid Raya Baiturahhman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh memiliki sejarah panjang. Masjid ini menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di Aceh. Dalam perjalanannya, Masjid kebanggaan masyarakat Serambi Mekah ini telah mengalami beberapa kali perluasan dan pemugaran.

Image : flickr.com

Masjid Raya Baiturrahman merupakan Masjid negara yang berada di jantung Kota Banda Aceh. Masjid ini dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 hijiriah atau 1612 masehi. Berdasarkan informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, ada dua versi sejarah dalam riwayat pembangunan Masjid ini.

Baca Juga :
Pesona Islam Masjid Agung Kauman Semarang
Sejarah Organisasi Hizbut Tahrir Hingga Masuk ke Indonesia

Sebagian sumber menyebutkan, Masjid ini didirikan pada tahun 1292 oleh Sultan Alaudin Johan Mahmud Syah, sumber lain menyebutkan Masjid raya ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda di tahun 1612. Masjid ini pernah dibakar Belanda saat menyerang Kutaraja atau yang sekarang disebut Banda Aceh pada tanggal 10 April 1873.

Rakyat Aceh pun marah pada saat itu dan terjadilah pertempuran antara masyarakat Aceh dan Belanda. Pada pertempuran ini Belanda kehilangan panglima mereka yang bernama Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kรถhler pada 14 April 1873. Pada bulan Maret 1877, empat tahun setelah Masjid Baiturrahman terbakar, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid yang memiliki pengaruh besar bagi rakyat Aceh.

Pembangunan kembali Masjid Raya Banda Aceh berlangsung pada 1879 hingga 1881. Arsitektur bangunan mengadaptasi gaya moghul India dengan hanya sebuah kubah. Pada tahun 1935 Masjid diperluas di bagian kiri dan kanannya masing-masing dua kubah hingga akhirnya Masjid memiliki lima buah kubah.

Di tahun 1975 Masjid kembali diperluas dengan menambah dua kubah dan dua menara. Hal ini dilakukan dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat nasional ke 12 tahun 1981. Terakhir pada tahun 1991 dimasa Gubernur Ibrahim Hasan, Masjid Baiturahhman kembali mengalami perluasan yakni meliputi halaman depan dan belakang serta menambah dua kubah.


Sumber : CNN Indonesia 

Pesona Islam Masjid Agung Kauman di Semarang

Semarang, Ibukota Jawa Tengah kini menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Indonesia. Dan salah satu kawasan yang tak pernah luput dari incaran pelancong pecinta sejarah adalah Kawasan Kauman. Disini wisata sejarah dan religi jadi pesonanya. Pernah menjadi Masjid terbesar di kota Semarang, Masjid Agung Kauman memiliki pesonanya tersendiri.

Image : flickr.com

Masjid ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang mulai dari abad ke 16 hingga mengawal kemerdekaan Indonesia. Meski telah melewati waktu yang panjang namun madjid ini masih memiliki tempat di hati masyarakat Kauman. Masjid Agung Kauman merupakan salah satu Masjid tertua di Kota Semarang Jawa Tengah. Masjid ini dibangun pada masa Kesultanan Demak di abad ke 16.

Baca Juga :
Sejarah Organisasi Hizbut Tahrir Hingga Masuk ke Indonesia
Sejarah Kota Mekkah

Saat itu seorang utusan Kerajaan Demak Maulana Ibnu Abdul Salam atau Sunan Padanaran menemukan kota pesisir yang diberi nama Semarang. Masjid Agung Kauman awalnya berdiri di kawasan megah Semarang Selatan. Namun berkali-kali alami kebakaran, Masjid akhirnya dipindahkan ke kawasan Kauman tahun 1749. Karena banyaknya renovasi yang dialami Masjid ini, maka terdapat empat prasasti menghiasi gapura masuk yang juga menceritakan perjalanan sejarah Masjid.

Keempat prasasti ditulis dalam empat bahasa yang berbeda-beda yakni bahasa Indonesia, Jawa, Belanda dan Arab. Tahukan anda bahwa Masjid Agung Kauman jadi satu-satunya masjid di Indonesia, yang mengumumkan kemerdekaan Indonesia? Hal ini terjadi secara terbuka beberapa jam setelah diproklamasikan. Informasi yang harus dibayar mahal, karena setelah melaksanakan shalat, tentara Jepang langsung mengejar pengurus masjid.

Memasuki pelataran Masjid Kauman, pintu-pintu dengan rangkaian daun waru menyambut. Ornamen campuran Jawa dan Persia terasa kental. Masjid Agung ditopang dengan 36 pilar yang kokoh. Jumlah ini memiliki filosofi perkalian 6 kali 6 yang berasal dari surat keenam ayat enam dalam Al-Quran. Dalam Surah Al-An’am di ayat enam tersirat bahwa meski musibah terjadi berkali-kali, sesungguhnya dalam setiap musibah itu ada hikmah untuk generasi masa mendatang yang lebih baik.

Kebakaran yang menimpa masjid ini berkali-kali dipercaya serupa dengan ayat tersebut. Semua terjadi demi sesuatu yang lebih baik. Di dalam Masjid terdapat Mihrab yang runcing dengan langit-langit dari beton. Mihrab dihiasi 99 nama Allah SWT atau Asmaul Husna. Mimbar Imam terbuat dari kayu jati dilengkapi ornamen ukir khas Jawa yang indah. Atap Masjid Agung Kauman Semarang berbentuk tajub tumpang tiga. Atap bertingkat tiga merupakan simbol dari filosofi Iman, Islam, dan paling atas adalah Ihsan.

Wisata religi disini makin lengkap karena tak jauh dari Masjid Kauman berdiri pula pesantren Raudatul Qur’an. Berdiri sejak tahun 1952, disinilah para santri hafiz Qur’an atau penghafal Qur’an menuntut ilmu. Total sudah ada 500 penghafal Qur’an yang lulus dari pesantren ini. Selama menempuh ilmu di pesantren, santri tidak diperkenankan belajar di sekolah umum ataupun bekerja.

Hal ini dilakukan agar santri fokus pada penghafalan Al-Qur’an. Lebih dari 160 santri ada disini. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari Malaysia. Pesantren ini mengajarkan untuk memprioritaskan aspek agama terlebih dahulu sebelum kehidupan dunia. Karena niscaya ketika agama telah didalami, seseorang dapat hidup di dunia dengan landasan agama yang kuat. seperti yang tertera di Surat Al-Fatir ayat 29 dan 30.

Asrama merupakan wakaf dari warga Kauman yang ditujukan sebagai tempat tinggal. Saat ini terdapat 16 asrama yang tersebar di kawasan Kauman Semarang. Banyaknya etnis Arab disini menjadi salah satu pemicu dan aktivitas keagamaan di kawasan Kauman juga membuat daerah ini dinobatkan sebagai Kampung Al-Qur’an Februari 2016 lalu.


Sumber : Net.5

Bengawan Solo Purba Jawa Tengah

Sebagian dari anda pasti tahu dan pernah mendengar lagu tentang sungai terpanjang yang ada di Pulau Jawa ciptaan sang maestro Gesang. Tapi apakah anda tahu jika sebelum bermuara di Laut Jawa atau tepatnya di Gresik Jawa Timur Sungai Bengawan Solo juga sempat bermuara di Pantai Sadeng Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Jogjakarta.

Image : flickr.com

Sepintas Pantai Sadeng di Gunung Kidul Jogjakarta ini nyaris tidak berbeda dari pantai-pantai lainnya yang ada di Pulau Jawa. Warga pesisir pantainya menggantungkan hidup dari laut. Pantai Sadeng dimanfaatkan sebagai pelabuhan bagi nelayan sejak tahun 1983. Meski awalnya ada kearifan lokal yang melarang masyarakat untuk melaut di pantai tersebut, kini Pantai Sadeng justru menjadi salah satu pelabuhan nelayan tersibuk di Pulau Jawa.

Baca Juga :
Indonesia Merupakan Negeri di Tengah Cincin Api
Letusan Mahadasyat, Menyisakan Sejarah Toba di Tanah Samosir

Pantai Sadeng dulunya merupakan muara terakhir Sungai Bengawan Solo. Temuan ini karena ceruk pantai berbentuk teluk yang diperkirakan menjadi muara terakhir dari sungai yang mengalir dari utara menuju selatan. Terhentinya aliran Sungai Bengawan Solo terjadi pada akhir masa atau sekitar dua juga tahun yang lalu. Saat itu batu gamping formasi Wonosari pun mulai terangkat keatas permukaan laut.

Batu gamping muncul karena proses pengangkatan Geologi Subduksi dari lempeng Indo-Australia yang berada di bawah lempeng Eurasia. Bentunya menyerupai Pulau Jawa. Arah pergerakan lempeng yang menuju ke utara menjadi faktor pendukung munculnya formasi batu koral keatas permukaan laut. Hujaman lempeng dari jarak 150 kilo meter Laut Jawa inilah yang akhirnya mengakibatkan munculnya batuan koral dasar laut ke atas permukaan.

Hal ini yang kemudian mengakibatkan membaliknya arah Sungai Bengawan Solo yang dulu mengalir dari utara menuju selatan. Kecepatan proses pengangkatan yang tidak diimbangi pengerusan aliran Sungai Bengawan Solo, akhirnya mengakibatkan aliran sungai terbendung dan membentuk lingkaran danau di sekitaran lembah Baturetno sampai ke daerah Eromoko.

Salah satu penelitian yang dilakukan pakar geologi dari Belanda RW Van Bemenlen menyatakan Sungai Bengawan Solo secara geologis terletak di Pulau Jawa bagian timur. Hal ini terlihat dari lima satuan tektonik yang ada. Pertama jalur pegunungan yang merupakan sedimen gamping yang terangkat pada kala miosen sekitar 14 hingga 26 juga tahun yang lalu. Kedua jalur depresi tengah yang juga muncul jalur vulkanik kuarter di mulai dari Merapi Merbabu menuju ke arah timur.

Ketiga jalur kandeng yang berupa antiklorium timur barat berupa sedimen laut memiliki lebar 20 kilometer dengann panjang 250 kilometer. Keempat jalur depresi randublatung dengan lebar 10 sampai 20 kilometer yang dimana secara struktur merupakan bentuk negatif yang diisi oleh endapan aluvial di mulai dari Semarang/Randublatung/Cepu/Bojonegoro hingga Selat Madura.

Kelima jalur Rembang yang merupakan antiklinorium dengan lebar 80 kilometer yang terdiri dari bebatuan gamping atau curam bagian utara dengan pelipatan intensif dnegna bentuk asimetri yang sempit. Hingga saat ini jalur aliran Sungai Bengawan Solo yang dulu bermuara ke Pantai Sandeng atau Sungai Bengawan Solo Purba masih dapat kita saksikan jelas keelokannya di sekitar Kecamatan Girisubo Gunung Kidul.

Bekas bentukan aliran sungai berupa lembah Giritontro yang sangat terjal membentuk huruf U dengan kedalaman 100 hingga 200 meter memanjang dari Gunung Payung di sebelah barat Giriwoyo menuju kearah selatan yang kemudian berakhir di Pantai Sadeng Gunung Kidul. Perbedaan ketinggian lembah Giritontro yang merupakan bekas aliran Sungai Bengawan Solo Purba dengan lembah sungai Bengawan Solo saat ini mengalir ke arah laut Jawa berkisar 100 meter.

Hal ini disebabkan struktur cesar Pucunglangan yang memanjang dari Gunung Batok di daerah Pacitan sampai dengan Gunung Kukusan di  daerah Wonogiri. Struktur cesar Pucunglangan mengakibatkan terbentuknya cekungan Baturetno dan lembah menggantung dibatasi tebing curam di sebelah timur Desa Sumur. 

Lembah ini merupakan bagian dari alur Lembah Giritontro yang terpotong tebing curam di sisi tenggaran cekungan Baturetno. Terbentuk secara alami akibat naiknya lempengan dasar laut ke atas permukaan dikelilingi topografi perbukitan di sisi barat dan timur. Sisi ini dibatasi gawir-gawir bertingkat dan terjal dari arah timur laut sampai barat daya. Ketidakselarsan formasi wonosari menyebabkan batu lempung hitam dan batu pasir konglomerat terendap di atasnya.

Batu lumpur hitam terendap di bagian tengah sedangkan batu pasir kongklomerat di alur lembah. Kini Sungai Bengawan Solo telah mengalir tenang menuju laut Jawa melewati dua kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun peradaban sudah semakin maju, hingga kini masih banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari aliran sungai ini.

Hulu sungai berasal dari perbukitan kapur di Pegunungan Seribu Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah menjadi penyuplai Waduk Gajah Mungkur. Waduk buatan ini sebelumnya merupakan waduk alami bagian dari cekungan Baturetno. Gejala alam memang selalu memberikan kejutan tersendiri bagi kita yang tinggal di atasnya.

Tidak terkecuali bagi Sungai Bengawan Solo yang dahulu mengalir tenang ke laut selatan Pulau Jawa, namun tiba-tiba berubah karena adanya pergerakan lempeng bumi yang ada dibawahnya. Dengan sifat dinamisnya bumi kita mungkinkan aliran Sungai Bengawan Solo ini akan berubah lagi?



Rahasia Zaman, Trans7

Ayo Mengenal Gedung Sate Yang Jadi Ikonnya Jawa Barat

Gouvernements Bedrijven atau yang bisa kita kenal dengan nama Gedung Sate adalah bangunan bersejarah yang terletak di Kota Bandung. Gedung bergaya arsitektur Indo-Eropa ini dirancang oleh seorang arsitek dari belanda bernama Ir. John Gerber. Pada tanggal 27 Juli 1920 diletakkan batu pertama oleh Johanna Catherina Coops yang mana beliau adalah putri dari Walikota Bandung saat itu.

Image : flickr.com

Dan kenapa disebut gedung sate? Karena di bagian atas kita dapat melihat ornamen yang berbentuk tusuk sate yang terdiri dari enam bagian. Dan enam bagian itu melambangkan biaya dari pembangunan Gedung Sate itu sendiri seharga 6 Juta Gulden. Ada salah satu yang menarik dari bangunan bersejarah ini yaitu terdapatknya jalur khusus untuk penyandang disabilitas.

Baca Juga :
Sejarah Asal Mula Jalan Malioboro di Yogyakarta
Sejarah Asal Stasiun Jakarta Kota Sebagai Salah Satu Cagar Budaya

Dengan demikian, Gedung Sate merupakan gedung yang ramah disabilitas. Gedung peninggalan zaman Belanda ini memang menjadi ikon kebanggan bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Kota Bandung. Karena tidak hanya keunikan arsitektur bangunan saja, namun taman yang tertata rapipun menjadi tempat favorit para wisatawan untuk sekedar berfoto di depannya saja.

Sebenarnya tidak terlalu sulit bagi anda yang ingin memasuki gedung putihnya Jawa Barat ini. Asalkan anda mengikuti prosedur yang ada, maka anda akan bisa masuk ke tempat ini. Pada tahun 1980, Gedung Sate dialihfungsikan menjadi kantor pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat. Namun dengan dialihfungsikan menjadi kantor pemerintah, bukan berarti Gedung Sate tertutup untuk umum. Tertebih di akhir pekan, warga dan wisatawan bisa berkunjung ke sini.

Salah satu tempat atau ruangan yang wajib anda kunjungi yakni ruang pamer. Karena di ruang ini kita akan disuguhkan dengan pengetahuan, budaya dan pariwisata Provinsi Jawa Barat. Tidak hanya ruang pamer, ternyata di teras menara juga menjadi andalan di Gedung Sate. Sebab diatas ketinggian tersebut, kita bisa melihat pemandangan Kota Bandung yang dikelilingi oleh gunung-gunung dari ketinggian lebih dari 100 meter.

Kita juga jangan sampai ketinggalan untuk perfoto atau berselfie di tempat ini. Saking indahnya pemandangannya, di teras tersebut juga bisa dipakai untuk menyambut atau menjamu tamu-tamu kenegaraan. Sebelum kita bergegas meninggalkan Gedung Sate, maka tidak lengkap rasanya jika anda tidak berjalan-jalan terlebih dahulu di Taman Gedung Sate.




Sumber : Humas Jabar

Hotel Majapahit, Saksi Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Halo sahabat, hari ini kita akan membahas tentang bangunan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya bagi warga Surabaya sendiri. Inilah Hotel Majapahit yang merupakan gambaran perjuangan arek-arek Suroboyo dalam merebut kemerdekaan. Di mana pada saat itu, di Hotel Inilah para pejuang arek-arek Suroboyo merubek bendera Belanda sehingga menjadikannya Bendera Indonesia demi sebuah harga diri bangsa.

Image : flickr.com

Sejak berdiri satu abad yang lalu, Hotel Majapahit memiliki daya tarik luar biasa dari sisi sejarah. Bahkan hotel yang berada di Jalan Tunjungan Surabaya ini hingga sekarang tidak menghilangkan keasliannya. Ini terbukti dari bermacam bangunan-bangunan dan benda-benda bersejarah masih terpajang rapi di dalam Hotel. Di dalamnya masih ada furniture-furnitur kuno bahkan juga terdapat mobil yang sudah tua. Dan kebanyakan dari benda-benda tersebut masih terdapat tulisan-tulisan berupa huruf HO yang artinya Hotel Oranje.

Baca Juga :
Sejarah Asal Stasiun Jakarta Kota Sebagai Salah Satu Cagar Budaya
Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta

Pihak hotel sendiri memang ingin sedikit mengajak para pengunjung untuk flashback kembali ke zaman dulu. Dalam perjalanannya, Hotel Majapahit mengalami pergantian nama beberapa kali. Di tahun 1910, Hotel Majapahit pertama kali dibangun dengan nama Oranje Hotel oleh Sarkies bersaudara. Selanjutnya di tahun 1942, berubah nama menjadi Yamato Hoteru atau Yamato karena penjajah Jepang masuk ke Indonesia dan menguasai hotel ini.

Tahun 1945, Hotel Yamato berubah menjadi Hotel Merdeka atau Hotel Liberty karena di hotel inilah warga Surabaya merobek bendera Belanda menjadi Bendera Merah Putih. Kemudian di tahun 1969, nama Majapahit digunakan untuk hotel ini karena ada kerajaan besar yang dikenal dengan Majapahit. Kemudian nama Majapahit pun bertahan hingga saat ini. Hotel Majapahit saat ini memiliki ratusan kamar, namun hanya beberapa yang memiliki sejarah seperti kamar nomor 33 yang dulunya adalah markas sekutu.

Tiang bendera juga masih terpancang di atap Hotel Majapahit. Beberapa prasasti menceritakan beberapa peristiwa bersejarah juga masih tertulis jelas di dinding atap Hotel Majapahit. Saat ini Hotel Yamato atau Hotel Majapahit merupakan cagar budaya yang mampu menceritakan perjuangan para pahlawan agar keberanian Arek-arek Suroboyo tetap dikenang oleh generasi muda nantinya.



Sumber : iNews Tv

Mengenal Batik Pekalongan, Sebagai Kota Produksi Batik Terbesar di Indonesia

Predikat Kota Batik tak serta merta melekat pada salah satu kota di Jawa Tengah Ini. Dunia perBatikan di Pekalongan sudah dimulai pada Abad ke 18. Di kota ini, Batik yang awalnya hanya dipergunakan di lingkungan elite mampu berkembang menjadi produk handal yang bisa digunakan semua kalangan. Pertumbuhan industri Batik semakin tinggi.

Image : flickr.com

Didukung diberlakukannya ekonomi kerakyatan tahun 1950. Sejak saat itulah, muncul berbagai rumah produksi kerajinan Batik yang tersebar seantero Pekalongan. Salah satu industri Batik yang bisa dijadikan refernsi adalah Batik Nurlaba. Industri Batik ini lebih menitikberatkan pada karya cap. Teknik yang mereka gunakan bukan canting, melainkan menggunakan stempel tembaga berdimensi 20 x 20.

Satu rumah produksi Batik cap bisa memiliki ratusan hingga ribuan stempel tembaga dengan disain yang berbeda-beda. Untuk menghasilkan kain Batik, stempel tembaga dicelupkan pada cairan malam yang sudah direbus dalam suhu 60 hingga 70 derajat celcius. Sebagai informasi, ‘malam’ atau yang umumnya disebut sebagai lilin, adalah salah satu bahan baku yang penting untuk pembuatan kreasi Batik, khususnya Batik cap dan Batik tulis.

Nah, kembali kepada pencelupan stempal pada kain malam tadi, selanjutnya stempel ditekankan ke kain mori untuk membentuk corak awal. Jika cairan telah meresap, kain mori kemudian dicelupkan kedalam tangki yang berisi cairan pewarna. Pada tahap ini, cairan malam yang sudah mengeras akan terpisah dari kain dengan sendirinya. Proses pengecapan hingga pewarnaan ini diulang sesuai kompleksitas corak kain Batik. Setelah corak terbentuk, kain kemudian dijemur dengan cara dianginkan kurang lebih tiga hari.

Kain yang dijemur tidak diperkenankan terpapar matahari langsung untuk mencegah perubahan warna dan melelehnya cairan warna. Seiring kemajuan zaman, cara memBatik lebih beragam. Banyak terobosan-terobosan baru yang mampu mempermudah dalam mempersingkat waktu pengerjaan. Modernisasi proses produksi kain Batik ini secara tidak langsung memicu persaingan baru dikalangan perajin Batik Pekalongan.

Perang harga pun tidak bisa dihindari lagi. kain Batik dijual secara massal dengan berbagai macam model dan kegunaannya. Hal inilah yang lambat laun membentuk masyarakat Pekalongan menjadi pelaku bisnis kreatif. Di tengah semua keterbatasan, Pekalongan mampu tumbuh menjadi kota dengan produksi Batik terbesar di negeri ini. Sekaligus menjadi pelopor komersialisasi industri kain Batik.

Soal motif, pekalongan tidak terpaku pada satu pakem. Mengingat Batik merupakan salah satu bentuk ekonomi. Di kota ini menjadikan motif sebagai media penarik minat pembeli. Untuk menampung kreatifitas para perajin Batik di Kota Pekalongan, berbagai sentra penjualan Batik sengaja dibangun. Salah satu yang tersohor adalah Pasar Grosir Setono. Berdiri sejak awal tahun 2000an, Pasar Grosir Setono dipenuhi berbagai hasil produksi Batik.

Pasar Grosir ini juga membantu masyarakat yang ingin berburu kain Batik yang berkualitas dengan harga relatif murah. Dari proses panjang ini, tak berlebihan rasanya jika Pekalongan berpredikat sebagia Kota Batik. Kota yang mampu menghasilkan Batik dan hidup dari Batik.



Sumber : Net. Jawa Tengah

Sejarah Organisasi Hizbut Tahrir Hingga Masuk ke Indonesia

Sejak Menteri Politik, Hukum dan Ham menyatakan pelarangan dan pembubaran organisasi Hizbut Tahrir di Indonesia, banyak masyarakat yang meresponnya. Lalu seperti apakah kira-kira organisasi tersebut? Mari kita simak bersama supaya kita lebih tahu dan tidak gagal paham. Hizbut Tahrir pertama kali berdiri pada tahun 1953 di Al-Kutz Palestina.

Image : flickr.com

Gerakan tersebut memperjuangkan kebangkitan umat islam dengan mengembalikan sistem pemerintahan Islam atau Khilafah Islamiah. Gerakan ini dipelopori oleh Taqiyuddin An-Nabhani. Nama panjangnya adalah Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani.

Nama an-Nabhani dinisbahkan kepada kabilah Bani Nabhan. Kabilah ini serupakan satu kabilah arab yang menghuni Padang Sahara di Palestina. Taqiyuddin An-Nabhani awalnya pernah menjadi hakim di Mahkamah Syariah Palestina. Hizbut Tahrir adalah sebuah organisasi dengan massa besar. Yang mana tujuan besarnya adalah menegakkan sistem khilafah.

Dalam sistem ini, cita-cita seluruh umat Islam di dunia berada di dalam satu pemerintahan yang melepaskan batas teritorial dan kewilayahan. Sebuah negeri yang dipimpin dalam sistem kekhalifahan yang membangkitkan kembali sistem hukum Islam sebagai sebuah pedoman dalam mengatur dan menjalankan kehidupan duniawi. Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada tahun 1980.

Mereka merekrut anggotanya dengan cara dakwah di kampus-kampus di seluruh Indonesia. Di era tahun 1990, dakwah Hizbut Tahrir berkembang ke masyarakat luas. Melalui aktivitas dakwah di pemukiman, perkantoran hingga masjid. Walaupun jumlah anggotan Hizbut Tahrir Indonesia belum dipastikan, dari akun sosial media facebooknya, Hizbut Tahrir disukai sebanyak 55 ribu akun facebook.

Menurut situs resminya, Hizbut Tahrir merupakan organisasi politik dan bukan organisasi keagamaan, ilmiah, pendidikan dan lembaga sosial. Dalam situsnya, Hizbut Tahrir Indonesia menegaskan bahwa mereka bertujuan mengembalikan posisi umat Islam ke masa kejayaan dan keemasannya seperti dulu.


Sumber : CNN Indonesia

Indonesia Merupakan Negeri di Tengah Cincin Api

Sebagai sebuah negara yang terdiri dari beribu pulau, Indonesia sudah ditakdirkan berada pada jalur gempa yang paling aktif di muka bumi. Indonesia pun berada pada posisi antara tumpukan tiga lempeng benua yakni pada bagian utara ada lempeng Eurasia, di selatan ada lempeng Indo-Australia dan di bagian timurnya dengan lempeng Pasifik. Kondisi tersebut mengakibatkan hampir seluruh tanah yang berada di Indonesia nyaris saja rawan terhadap bermacam ancaman kegempaan. Pulau Kalimantan dalam hal ini termasuk pengecualian. Sebagaimana hal tersebut telah tertera pada sejarah kegempaan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan juga Geofisika atau yang biasa disingkat BMKG.

Image : flickr.com

Gempa, Tsunami dan juga Letusan Gunung Berapi telah menjadi bagian dari sejarah panjang peradaban di nusantara. Berada di tengah cincin api, Indonesia adalah rumah bagi sejumlah bencana alam terkuat yang pernah terjadi di bumi. Gempa dan Tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004 merupakan salah satunya. Sekitar 130 ribu jiwa tewas akibat bencana tersebut. Gunung berapi yang memiliki letusan terdasyat di bumi juga ada di negeri ini.

Baca Juga :
Letusan Mahadahsyat, Menyisakan Sejarah Toba di Tanah Samosir
Fenomena Karst Gunung Kidul Yang Menakjubkan

Gunung Tambora di Sumbawa Nusa Tenggara Barat yang meletus pada April 1815 telah mengguncang dunia. Letusan ini termasuk salah satu bencana berskala global. Kemudian letusan Gunung Krakatao di Selat Sunda pada Agustus 1883 yang membangunkan dunia. Erupsinya diperkirakan setara 13.000 kali ledakan Bom Atom Heroshima pada masa perang dunia ke dua. Letusannya menciptakan Tsunami hebat dan melahirkan anak Krakatao yang tumbuh cepat dari dasar laut.

Amuk Kelud di Kediri Jawa Timur yang terjadi 2014 juga mengakibatkan 100 ribu penduduk terpaksa mengungsi. Abu vulkanik yang disemburkan gunung tersebut menjangkau wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebelumnya ada Merapi yang memuntahkan lahar panasnya pada Oktober 2010 dan merenggut nyawa juru kuncinya, Mbah Marijan, yang menolak diungsikan. Juga ada Sinabung yang meletus pada November 2013 dan membuat puluhan ribu keluarga terpaksa mendiami posko pengungsian.

Nyatanya, diatas bumi yang paling bergejolak ini, masyarakat tumbuh dan berkembang selama ribuan tahun. Indonesia menjadi negara yang penduduknya terbanyak tinggal di dalam jangkauan gunung api. Ada sekitar 127 gunung berapi yang masih aktif yang saling terjalin dan melintasi Indonesia ini. Dari semua jumlah itu, di pulau Jasa saja jumlahnya mencapai 30. Itu semua berarti terdapat sekitar 120 juta orang yang sekarang ini hidupnya berada pada bayang-bayang gunung berapi. Dekat dan akrabnya warga ke lokasi gunung berapi memang sudah terbukti kefatalannya. Sebab sedikinya ada 150 ribu jiwa akhirnya tewas akibat letusan gunung berapi di seluruh nusantara dalam kuran waktu yang lama yaitu 500 tahun terakhir.

Namun dibalik kehancuran yang diakibatkannya, gunung berapi menyimpan berkah yang memberikan penghidupan. Debu akibat letusannya menyuburkan tanah seolah melihat untaian zamrud yang berjajar sepanjang katulistiwa. Petani di Jawa, Bali, hingga Nusantara bisa memanen padi hingga tiga kali setiap tahun. Berkah yang tak bisa dilakukan di belahan bumi lain. Kini masyarakat modern menemukan berkah lain dari gunung berapi yaitu Sumber Energi Tenaga Panas Bumi .

Indonesia menjadi tuan rumah bagi sebagian besar energi bersih ini di bumi. Selain itu juga terdapat kekayaan jenis dan sebaran mineral yang terendapkan dari proses geologi ekstrem yang kemudian menjadi berkah tersendiri di dalam bayang-bayang bencana. Bagaimana pun kita telah menjadi bagian dari alam, dengan demikian hidup berdampingan dan selaras dengan alam adalah keharusan yang tidak bisa ditawar. Bencana ataupun nikmat dari alam adalah salah satu sisi dari keping mata uang yang sama sehingga harus disikapi berbarengan. Serti Mbah Marijan dan puluhan warga yang percaya merapi adalah rumah yang harus diterima dalam kondisi baik ataupun buruk.     


Sumber : Metro Tv

Kategori

Kategori