Sejarah Kota Mekkah

Kita dimulai dari Kota Mekkah. Dikatakan bahwa ketika Adam dan Hawa pertama diusir dari surga, keduanya pun terpisah. Dengan Hawa turun di dekat kota Mekkah, dan Adam turun di suatu tempat di timur jauh. Setelah bertahun-tahun saling mencari, Adam akhirnya berhasil berjalan melewati Semenajung Arab hingga sampai ke Mekkah. Dan di puncak Gunung Arafat, tepat di luar kota Mekkah, dimana keduanya akhirnya bertemu kembali.

Image : pixabay.com

Mekkah juga penting karena dia merupakan tempat pertama di bumi dimana Tuhan Yang Maha Kuasa diesakan dan disembah. Jadi di tempat itu, Ibrahim dan anaknya, Ismail, membuat bangunan peribadatan yang pertama untuk Tuhan. Sebagai penghormatan, Tuhan Yang Maha Kuasa telah membangun bangunan yang serupa di langit untuk para malaikat.

Baca Juga :
Sejarah Kota Bandung
Sejarah Kota Medan

Dan dikatakan bahwa setiap harinya terdapat 70.000 malaikan datang ke bangunan itu untuk beribadah dan kemudian pergi, berniat tidak pernah kembali lagi. Ketika Ibrahim dan Ismail telah selesai membangun Ka’bah, masih ada satu bata yang belum ditempatkan. Jadi Ibrahim mengirim putranya, Ismail, untuk menemukan sebuah batu yang unik untuk ditempatkan disana.

Tapi Tuhan Yang Maha Kuasa menakdirkan bahwa batu terakhir yang akan ditempatkan tidak berasal dari dunia ini, melainkan sebuah batu langsung dari jantung surga. Malaikat Jibril kemudian memberikan batu itu kepada Ibrahim, yang kemudian menempatkannya di tempat yang sesuai. Dikatakan bahwa ketika batunya pertama kali dibawa turun, warnanya adalah putih murni.

Namun karena ketidakmurnian dari dunia ini, dan dosa-dosa dari manusia, maka batu itu perlahan mulai memudar, dan pada akhirnya menjadi hitam. Seiring berjalannya waktu, kota itu mulai berkembang, dengan penduduk Mekkah tetap memegang teguh monoteisme atau bertauhid, hanya menyembah Tuhan yang Maha Esa, terlepas dari fakta bahwa Mesir, Mesopotamia, dan Syam telah mempraktekkan paganisme (penyembahan berhala) selama berabad-abad.

Tapi semua ini berubah ketika seorang pedagang bernama Amru Ibn Luhai memutuskan untuk berbisnis di luar Mekkah. Amru kemudian berpergian ke utara, sampai ke negeri Syam. Disana, Amru menyaksikan untuk pertama kalinya, hal-hal seperti arsitektur modern, literatur yang canggih, dan tentu saja praktek penyembahan berhala.

Amru sangat terkesan dengan semua yang dia lihat, dan sebelum pergi, dia meminta untuk membawa salah satu berhala ke kampung halamannya. Penduduk setempat setuju. Jadi Amru membawa berhalanya dan menempatkannya dengan barang-barang dagangan lainnya dalam karavannya. Ketika Amru sampai di rumah, dia langsung membawa berhala itu dan menempatkannya tepat di depan Ka’bah.

Dia kemudian memberi tahu ornag-orang bahwa berhala itu mulai dari sekarang menjadi tuhan yang mereka sembah. Sayangnya, konsep ini hampir tidak mendapat penentangan. Seiring waktu berjalan, orang-orang mulai menyembah lebih banyak berhala, sampai dikatakan pada akhir abad ke 6, ada lebih dari 360 berhala di sekitar Ka’bah di Mekkah.

Seiring tahun-tahun berlalu dan paganisme menjadi lebih tersebar di seluruh dunia, orang-orang yang masih mempraktekkan monoteisme atau tauhid mengatahui bahwa kedatangan nabi yang baru sudah dekat. Jadi, baik melalui akal sehat, atau melalui penafsiran ayat-ayat kitab suci, banyak yang berkesimpulan bahwa Semenanjung Arab adalah tempat yang paling mungkin dimana Tuhan akan mengutus nabi baru-Nya.

Saat itu Imperium Romawi dan Kerajaan Persia mempunyai pemerintahan yang sangat represif, dan sangat memusuhi pemberontakan bentuk apapun, entah itu secara ideologis atau politis. Sedangkan Semenanjung Arab di sisi lain, meskipun juga terperosok jauh ke dalam penyembahan berhala, adalah negeri yang diperintah oleh hukum kesukuan, dan tidak pernah punya pemerintah pusat yang sejati.

Seiring waktu yang berlalu, tampaknya lebih banyak orang mulai berdatangan ke Semenanjung Arab untuk menunggu kedatangan nabi selanjutnya. Dengan demikian, di negeri dimana manusia pertama kali menyembah Pencipta mereka, disanalah, dimana Tuhan menakdirkan bahwa nabi terakhir dan penutup itu akan muncul.


Sumber : Youtube, Simply Seerah Studios  

Cerita Lain Dari Relief Candi Penataran Jawa Timur

Pembuatan sebuah candi biasanya bertujuan sebagai sarana pemujaan kepada dewa-dewa yang sebagian tergambar pada relief-relief yang berada di sekitar candi tersebut. Namun pernahkah terfikir oleh anda bila relief-relief ini justru memiliki arti lain misalnya mengenai peradaban kita yang ada di nusantara. Terletak di Kecamatan Nglegok Blitar Jawa Timur berdiri Candi Penataran yang dibangun pada tahun 1.194 oleh Raja Srengga. Sang raja memerintah Kerajaan Kediri pada tahun 1.190 hingga 1200 masehi.

Image : wikipedia.org

Candi penataran merupakan candi termegah dan terluas di Jawa Timur. Berada di tanah seluas hampir 13.000 meter persegi, candi ini berjajar dari barat laut ke timur dan tenggara. Candi Penataran juga disebut Candi Palah. Pembangunannya dilakukan secara bertahap oleh tiga kerajaan yang berbeda, dari masa Kerajaan Kediri hingga Kerajaan Majapahit. Memasuki halaman gerbang candi, pengunjung disambut Archa Dwarapala yang menjadi penjaga pintu candi. Pada kedua archa ini terdapat pahatan angka tahun 1242 saka atau 1320 masehi yang diyakini sebagai tahun diresmikannya candi pada masa pemerintahan Jayanegara dari Majapahit.

Baca Juga :
Candi Singosari, Bukti Peninggalan Kerajaan Singosari
Candi Muara Takus, Peninggalan Terbesar Sriwijaya?

Di Candi Penataran juga terdapat balai agung pendopo teras candi induk dan prasasti palah. Semuanya memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing. Balai agung menurut N.J. Krom yang seorang sejarawan asal Belanda berfungsi sebagai tempat musyawarah para pendeta pada zamannya. Candi Penataran di lereng barat daya Gunung Kelud dibangun diatas tanah harum dan subur. Candi ini menjadi pusat pertemuan setiap daerah dan dekat dengan air. Candi ini dibangun dengan harapan dapat menangkal penduduk dari bencana Gunung Kelud.

Dosen Antropologi Universitas Airlangga, Djoko Adi pernah menuturkan bahwa ‘’Terkait dengan masalah penolak balak dan tidak, itu sebenarnya secara akademis menunjukkan bahwa bangunan suci dibangun, khususnya candi, itu tergantung daripada fungsi. Nah, kalau fungsi disini itu sebagai tempat peribadatan, maka bangunan itu dipergunakan sebagai tempat peribadahan.’’ Di dalam komplek peninggalan masa silam ini terdapat Candi Angka yang lebih dikenal masyarakat Jawa Timur sebagai Candi Brawijaya yang juga menjadi lambang Kodam V Brawijaya.

Selain menjadi tempat beribadah, Candi Penataran diperkirakan menjadi tempat perabuan Ken Arok. Dugaan ini timbul karena kesamaan nama Giri Indra yang disebutkan dalam kitab Negara Kertagama. Bangunan di komplek Candi Penataran ini terdiri dari tiga teras tersusun dengan tinggi tujuh meter lebih. Pada teras pertama terdapat penggambaran cerita tentang Ramayana yang mengikuti arah Prasawiya dari sudut barat laut. Relief yang terdapat pada candi di Jawa Timur biasanya dipahat berdasarkan analogi riwayat hidup tokoh yang diprabukan.

Kisah Ramayana dan Krisnayana misalnya, terdapat pada dinding Candi Penataran dan ditafsirkan mirip dengan kisah Ken Arok serta Ken Dedes. Candi Penataran juga memiliki kekhasan dalam reliefnya. Gaya relief candi ini berbeda dari candi di Jawa Tengah sebelum abad kesebelas. Beberapa wujud relief kekhasannya digambarkan mirip dengan wayang kulit. Seperti yang dapat dijumpai pada gaya pengukiran relief di Candi Sukuh yang merupakan candi dari masa akhir periode Hindu-Budha.

Menarik pada Candi Penataran terdapat gambaran tentang masa lain, diantaranya gambaran tentang bangsa lain. Diantaranya gambar Bangsa Han atau Tiongkok, Bangsa Campa, Maya dan Yahudi. Bangsa Yahudi terlihat tunduk dan menyerah pada nenek moyang kita. Gambaran ini menimbulkan pemikiran bahwa nenek moyang kita pernah melakukan invasi hingga ke Benua Amerika dan mengalahkan Bangsa Indian serta sempat berperang dengan Bangsa Maya.

Pada salah satu relief terdapat sosok patung prajurit Bangsa Maya dari Kerajaan Copan yang saat ini terletak di Honduras. Terdapat juga relief pakaian dan asesoris kepala yang mirip bangsa di Turki, India hingga Pakistan. Pada relief lain juga tergambar peperangan leluhur kita dengan bangsa lain di dunia. Timbul Pertanyaan, apakah leluhur kita sudah memiliki peradapan sejak 6500 tahun yang lalu. Pada relief juga terdapat gambar Gajah zaman purba yang menurut para ahli Amerika sudah punah 6500 tahun yang lalu.

Djojo Adi kembali melanjutkan ‘’Sehingga tidak salah kalau tadi dikatakan dalam relief itu ada yang seolah-olah bahwa etnis tertentu itu menunjukkan penghormatannya kepada bangsa nusantara ini. Jadi memang itu sudah selayaknya seperti itu.’’ Candi Penataran atau Candi Palah kini menjadi tujuan wisata di Blitar. Hubungan tiga kerajaan dengan Tuhan terlihat di komplek candi ini. Relief dapat menjadi sebuah penggambaran mengenai cerita masa lalu leluhur kita, namun dengan hadirnya beragam relief yang menggambarkan tentang kehidupan serta wajah-wajah yang hadir dari seluruh penjuru dunia menghadirkan sebuah pertanyaan yakni sebenarnya apa maksud dan tujuanya.

Mungkinkah dari relief tersebut justru menggambarkan bahwa peradaban yang ada di dunia berasal dari nusantara kita ataukah ini hanyalah sebuah relief belaka tanpa cerita apa-apa. Meskipun demikian sebenarnya ada pengaruh apa jika memang benar peradapan berasal dari kita, apakah ada pengaruhnya bagi kita saat ini dan kedepannya.



Sumber : Rahasia Zaman, Trans7 

Candi Singosari, Bukti Peninggalan Kerajaan Singosari

Singosari merupakan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Kawasan Singosari berada di sebelah utara kota Malang yang dilintasi jalur utama Surabaya Malang. Singosari terletak pada ketinggian empat ratus hingga tujuh ratus meter dari permukaan laut dan suhu udara di kawasan Singosari hingga hari ini masih cukup sejuk. Nama Kerajaan Singosari tentu bukan suatu yang asing bagi kita semua. Karena Singosari sangat identik dengan Ken Arok dan banyak cerita maupun lakon drama yang mengambil ide cerita dari riwayat hidupnya.

image : pixabay.com

Di kawasan Singosari juga terdapat beberapa situs sejarah, diantaranya adalah Candi Singosari maupun Patung Dwarpala yang merupakan patung besar di Indonesia dan kini keberadaan patung tersebut dijadikan sebagai salah satu pemikat wisata di kawasan Singosari. Keberadaan Kerajaan Singosari di dalam peninggalan situs sejarahnya masih menjadi misteri bagi para arkeologi. Singosari terus menjadi perhatian untuk berusaha bisa membongkar kembali kisah-kisah lama atas kejayaan Kerajaan Singosari pada zaman dahulu.

Baca Juga :
Candi Muara Takus, Peninggalan Terbesar Sriwijaya?
Candi Borobudur Sebagai Penunjuk Waktu Masa Lampau

Menurut cerita-cerita lama, keberadaan Kerajaan Singosari ini juga merupakan salah satu referensi kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara. Dan sayangnya banyaknya peninggalan asas sejarah yang banyak terbengkalai di masa lalu menjadikan patung-patung maupun kekayaan kerajaan lainnya tidak dijumpai kembali dan sebagian lainnya tersimpan di museum-museum di luar negeri. Di tempat ini pula anda bisa menjadikan kawasan Singosari sebagai sarana alternatif wisata budaya.

Bangunan Candi Singosari terbuat dari batu andesit  yang menghadap ke barat berdiri pada alas bujur sangkar berukuran empat belas meter dikali empat belas meter dan tinggi candi mencapai 15 meter. Candi ini kaya akan ornamen berukiran arca dan relief. Meski para pengunjung yang datang ke lokasi candi Singosari ini dari waktu ke waktu mengalami pasang surut, namun peninggalan situs sejarah ini nampaknya masih diminati dan dijadikan sebagai tempat kunjungan wisata budaya.

Di lokasi tersebut juga difungsikan sebagai sarana pembelajaran bagi para pelajar masyarakat bahkan para wisatawan mancanegara. Kebanyakan para tamu asing yang datang ke lokasi ini berasal dari Belanda dan meski kedatangan mereka sekedar berwisata namun tak jarang kedatangan ini untuk membuktikan secara dekat keberadaan candi Singosari yang sebagian arcanya kini tersimpan di museum Leiden Belanda.

Komplek percandian ini menempati areal dua ratus meter dikali empat ratus meter dan terdiri dari beberapa candi. Di sisi barat laut komplek terdapat patung arca raksasa besar dan tingginya hampir mencapai 4 meter. Arca ini disebut arca Dwarpala dan posisi gada senjatanya menghadap ke bawah. Ini menunjukkan arti, meskipun penjaganya adalah raksasa, tapi masih ada rasa sayang terhadap semua makhluk hidup dan ungkapan selamat datang bagi semuanya.

Keberadaan arca ini hanya ada di Singosari dan tidak ditemukan di kerajaan lainnya. Peradapan Kerajaan Singosari yang menyimpan berbagai misteri ini terus menjadikan perhatian khusus bagi para arkeolog. Singosari memiliki banyak sekali potensi yang sangat menarik dari potensi sejarah dan juga potensi kekayaan alamnya. Termasuk juga potensi dari pemandian Kendedes dimana tempat tersebut pada masa Kerajaan Singasari dijadikan tempat pesanggrahan atau dalam istilahnya adalah tempat peristirahatan bagi keluarga Kerajaan Singasari.

Limpahan sumber mata air kendedes menjadikan pengembangan potensi wisata air. Tak heran kalau dari zaman Kerajaan Singosari juga dijadikan tempat pemandian, tempat peristirahatan dan juga ritual lainnya.




Sumber : www.indonesiatimes.co.id

Kategori

Kategori