Showing posts with label Tempat Bersejarah. Show all posts
Showing posts with label Tempat Bersejarah. Show all posts

Pesona Kota Wali di Timur Pulau Jawa

Kabupaten Tuban merupakan salah satu titik penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sunan Bonang yang memiliki nama asli Syech Mahnum Ibrahim merupakan tokoh penting penyebaran Agama Islam di Tuban. Sekitar abad ke 16 Sunan Bonang Mulai Berdakwah di Tuban dan sekitarnya.

Image : flickr.com

Melalui media tembang atau lagu berisi ajaran Islam. Iringannya menggunakan musik pukul bonang. Melalui Pantai Boom di Tuban Agama Islam masuk ke Tuban. Pantai ini di masa Kerajaan Majapahit jadi pelabuhan terbesar di Tuban. Dari sinilah para saudagar Timur Tengah datang dan menyebarkan Agama Islam untuk wilayah Tuban dan sekitarnya.

Baca Juga :
Pesona Islam Masjid Agung Kauman di Semarang
Masjid Sunan Muria, Situs Sejarah Islam di Ketinggian 1600 Meter 

Tuban tumbuh menjadi salah satu destinasi jelajah sejarah Islam. Apalagi Sunan Bonang yang merupakan salah satu Wali Songo juga dimakamkan disini. Bersebelahan dengan kawasan makam Sunan Bonang, berdiri kokoh masjid indah nan megah bernama Masjid Agung Tuban. Atap warna warni jadi ciri khas gaya bangunan masjid ini. Corak ini mirip dengan yang ada di India ataupun timur tengah.

Masjid ini merupakan masjid yang sangat bersejarah khususnya bagi warga muslim di Tuban Jawa Timur. Masjid ini terletak tepat di jantung Kota Tuban persisnya berada tepat di depan alun-aluk Kota Tuban. Tak hanya menyimpan sejarah yang panjang, masjid ini mempunyai keunikan yang berhasil menarik perhatian pengunjung. Atapnya yang berwarna cerah serta perpaduan arsitekturnya.

Bagian luar masjid diadopsi dari gaya masjid Iran, sedangkan interiornya dari masjid Cordoba Spanyol yang khas dengan lengkung-lengkungnya. Dibangun pada abad ke 15, bangunan ini sudah dirombak sebanyak tiga kali dan perombakan terakhir dilakukan pada 2004. Warna warni yang ada di masjid ini bukan tanpa makna, melainkan menjadi simbol Rukun Islam dan Rukun Iman.

Gaya arsitektur masjid yang sudah modern tetap tak meninggalkan bagian-bagian yang dibangun sejak masjid berdiri. Pintu utama masjid yang terbuat dari kayu dan berhiaskan ukiran khas Jawa serta jendela besi ini. Memasuki ruang sholat utama tampilkan gaya khas nusantara juga tercermin pada mimbar yang terbuat dari kayu berukir.

Luas bangunan masjid ini sebesar 3724 meter persegi, berdiri di atas tanah seluas 5246 meter persegi. Tempat ibadah ini tidak pernah sepi dari jamaahnya, mulai dari shalat atau membaca Al-Qur’an kala menunggu saat azan tiba. Salah satu kegiatan rutin yang lainnya adalah pembelajaran Al-Qur’an yang diselenggarakan setiap sore usai shalat Ashar dan anak-anak usia 6 hingga 12 tahun adalah para pesertanya.

Keelokan arsitektur masjid ini berhasil menarik minat peziarah dari luar kota. Banyaknya kegiatan yang rutin digelar di Masjid Agung Tuban, hanyalah salah satu cara untuk menarik minat umas muslim untuk rajin beribadah di masjid. Tak hanya megah bangunannya, Masjid Agung Tuban ini juga menjadi simbol semangat bagi umat muslim tuban dalam menjalankan ajaran Islam di Bumi.


Sumber : Net.

 

Kota Barus, Sejarah Yang Hilang

Barus, sebuah kota kecil dan terpencil di pesisir barat pantai Sumatera Utara. Barus berjarak 414 kilometer atau sekitar 12 jam perjalanan darat dari Medan Sumatera Utara. Barus adalah kota tertua di Nusantara. Tidak diketahui asal mula Barus serta penduduk aslinya. Seluruh catatan dan bukti sejarah yang ada menunjukkan bahwa masyarakat lokal penghuni Barus masa lalu adalah para pendatang dari Batak, Aceh, Melayu dan Minang.

Image : aswilblog.files.wordpress.com

Pada periode 627 Masehi atau sekitar tahun pertama hijriah, bangsa Arab mulai mengenalkan Islam di Barus. Saat Islam tiba di Barus, komunitas masyarakat Barus adalah penyembah berhala. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri. Misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 Masehi dalam bukunya silsilatus tawarih. Ajaran Islam yang pertama kali diperkanalkan di Barus hanya jalan Tauhid dengan bacaan dua kalimat syahadat.

Beberapa ayat Al-Quran yang telah diajarkan di Barus adalah surat-surat Tauhid yang diturunkan di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah pada tahun 621 Masehi. Di Barus inilah untuk pertama kalinya Islam dikenal oleh bangsa-bangsa di Nusantara. Ajaran Islam yang diajarkan belum sampai syariat, karena pada saat komunitas Islam pertama ada di Barus ini, Rasulullah belum menerima perintah shalat dan juta puasa.

Sejarah Islam di Barus dan keberadaan raja-raja Barus masih harus diteliti pembuktiannya. Hingga kini sisa-sisa sejarah tentang Kerajaan Barus belum dapat ditemukan para arkeolog maupun sejarawan yang ada. Belum ada prasasti yang menemukan bahwa dulu Barus merupakan kota perdagangan yang sibuk. Seperti halnya prasasti-prasasti pada kerajaan Malaka, Aceh, Sriwijaya dan lain-lainnya yang memang menjadi sebuah bukti kuat keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut.

Besar kemungkinan pada masa kesultanan Barus, kontrol penguasa terhadap kota-kotanya kurang. Nama Barus mengalami pasang surut dalam sejarah nusantara. Berdasarkan catatan sejarah tiga kemungkinan musnahnya kejayaan Barus disebabkan oleh alam, dampak peperangan dan karena adanya sistem perdagangan monopoli.


Sumber : Seputar Indonesia, RCTI

Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto

Museum Goedan Ransoem, awalnya kawasan dapur umum yang dibangun pada tahun 1918 oleh Kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat tambak. Dahulu kawasan ini terdiri dari dapur umum, sistem generator, pabrik es, gudang es, gudang pangan, dan rumah potong hewan. Museum ini diresmikan pada tanggal 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla.


RSUD Sawahlunto, dulu kawasan dibangun pada tahun 1915. Bangunan ini merupakan rumah sakit terbesar  di Sumatera bagian tengah pada saat itu. Kawasan pusat kota tua terdiri dari Gereja Santa Barbara, Sekolah Eropa Santa Lusia, Hotel Ombilin, Gedung Koperasi Onsblang, Teksin Kek, Kantor Pegadaian, Gedung Sociated, dan Perumahan Ir. Tambang Belanda, Bengkel Mobil Tambang, Perumahan Buruh Kontrak Tanah Lapak.

Kantor PT Bukit Asam (Persero) dulu lebih dikenal Kantor Ombilin Mijnan, dibangun 1916. Kawasan Saringan atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Zeb Huis merupakan pusat pengolahan batu bara. Disini juga terdapat bengkel sebagai penunjang aktivitas penambangan batu bara. Lubang Tambang Mbah Soero yang dulu juga lebih dikenal dengan nama Lubang Tambang Soegar dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898 yang berada di tengah kawasan perkampungan buruh tangsi baru.

Museum Kereta Api dulu merupakan stasiun kereta api yang dibangun pada tahun 1912 oleh Kolonial Belanda. Sekarang menjadi museum kereta api kedua di Indonesia setelah Ambarawa. Diresmikan 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla. Masjid Agung Nurul Iman, dahulunya merupakan pusat penghasil listrik untuk aktivitas penambangan batubara. Dibangun pada tahun 1894, bangunan ini memiliki menara dengan ketinggian 85 meter yang sekaran befungsi sebagai menara Masjid Agung.

Rumah dinas walikota Sawahlunto, dahulunya merupakan kediaman asli Asisten Resident Tanah Datar. Disamping rumah dinas Walikota terdapat dua bangunan yang dahulunya merupakan kediaman pejabat kejaksaan. Terowongan Kereta Api atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lubang Kalam. Terowongan ini menghubungkan Muaro Kelaban dengan Sawahlunto. Yang memiliki panjang 828 meter. Kompleks pemakaman Belanda atau yang dulu lebih dikenal dengan Kerkof yang terletak di daerah lubang panjang. Total makam yang ada disini yaitu 94 makam.






Kota Lama Semarang

Pertengahan abad ke 18, Semarang terkenal dengan kota modern yang menguasai perdagangan dunia. Jejak kota kosmopolitan masa lalu itu masih terasa dengan bangunan beraksitektur Eropa. Zaman dahulu kawasan tersebut terkenal dengan nama The Little Nederland atau Belanda Kecil. Kejayaan masa lalu yang pernah singgah 4 abad lalu itu meninggalkan sebuah kesan yang mendalam tentang sejarah masa lalu melalui bangunan indahnya.

Image : wikipedia.org

Kini wajah Venesia dari timur itu berangsung merana dan terancam hilang. Wajah bangunan megah itu berganti rupa dengan dinding-dinding yang semakin kusam tak terawat. Sejumlah bangunan terancam roboh dibiarkan tak terurus oleh pemiliknya. Dari sekitar 250 bangunan di kota lama, sebanyak 105 bangunan yang masuk dalam bangunan cagar budaya. Terdapat sekitar 15 bangunan penting yang bersejarah hilang begitu saja.

Baca Juga :
Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan
Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi

Usaha pelestarian dan perawatan sepertinya masih menjadi kendala terbesar. Revitalisasi yang direncanakan pemerintah seolah terhenti tanpa aksi. Namun bagi sebagian orang, kota lama selalu memberikan inspirasi dan gairah. Salah satunya adalah geliat sejumlah komunitas untuk menghidupkan kembali kota yang lama mati.

Menurut Wawan salah seorang penggiat Komunitas Kota Lama Semarang mentakan “Saat ini di kota lama sendiri sudah terdapat berbagai macam aktivitas kegiatan. Salah satunya dari teman-teman penggiat kota lama yang mempunyai agenda setiap bulan berupa kletian kota lama dari orat oret dan komunitas seni rupanya kemudian ada juga kegiatan besar setiap tahun. Saya disini sebagai perwakilan dari teman-teman komunitas di kota lama merasa tertantang.

Dimana saya sebagai warga semarang merasakan bahwa saya sedari kecil melihat kota lama ini terlalu lama tidur panjang. Untuk itu bersama teman-teman komunitas, kami berharap kota lama bisa hidup lagi. Dengan berbagai macam aktivitas di kota Semarang, maka kota lama dijadikan sebuah ikon baru Semarang. Namun sayangnya saat ini para pemilik dari bangunan-bangunan lama sangat tidak care. Untuk itu kami dari komunitas penggiat kegiatan di kota lama mempunyai suatu pandangan yang berbeda dengan pemerintah.

Dalam arti disini kami ikut mengampanyekan dan memiliki visi dan misi. Kami ingin menunjukkan bahwa kota lama juga sangat menarik untuk dinikmati. Disitu ada sebuah cafe yang dinamakan dengan Cafe Noeri yang baru sekitar satu tahun yang lalu dibuka. Didalamnya terdapat segala sesuatu yang unik dan menarik. Dimana isinya menyesuaikan dengan keberadaan bangunan di kota lama.

Keberadaan cefe ini tidaklah mengubah bentuk bangunan aslinya, hanya merawatnya dan mendesain ulang asesories yang ada di dalamnya. Karena menurut kami, sebuah bangunan tua jika tidak dirubah bentuknya namun hanya dirubah fungsinya, maka bangunan tersebut cenderung akan bisa menarik orang untuk masuk ke dalamnya tanpa rasa takut”. Cafe Noeri menjadi sebuah oase bagi wisatawan untuk sekedar duduk atau merasakan atmosfer masa lalu.


Sumber : Harian Kompas 


Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan

Tidak sekedar menyandang Kota Pahlawan, Kota Pahlawan Surabaya menyimpan sejarah perjuangan panjang dibaliknya. Hingga kini semangat pahlawan menjadi bagian tak terpisahkan dari warga dan kehidupan kota ini. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di nusantara. Pada usianya yang ke 270 tahun, Surabaya masih dan terus menjadi rumahnya bagi tak kurang 3 juta penghuninya.

Image : flickr.com

Kota ini juga tak henti torehkan deretan prestasi. Pemerintah masa depan terbaik se Asia Pasifik tahun 2013, kota ramah pejalan kaki, dan kota seribu taman baru sebagian diantaranya. Namun predikat yang senantiasa melekat erat, Surabaya adalah Kota Pahlawan. Predikat Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan berawal dari pertempuran besar pada tanggal 19 September 1945.

Baca Juga :
Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi
Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta

Sejarah tersebut bermula dari sebuah Hotel yang bernama Hotel Yamato yang sekarang berubah nama menjadi Hotel Majapahit. Berdiri sejak tahun 1910 tepat di jantung kota, pemilik awalnya pedagang asal Armenia Lucas Martin Sarkis, perancangnya seorang arsitek asal Inggris James Afprey. Melewati serangkaian cerita kota, sekaligus menjadi saksi sejarah sebuah bangsa, Yamato, Oranje, dan Majapahit masa kini senantiasa kokoh berdiri.

Masih di tahun yang sama yaitu 1945 pasca kemerdekaan, bendera Belanda berkibar di tiap sudut Kota Surabaya dan salah satunya di puncak Hotel Yamato. Kondisi tersebut memicu kemarahan arek-arek Suroboyo (anak-anak Surabaya) dan dengan tekad mempertahankan Indonesia. Seorang pemuda berani keluar dari kerumunan dan memanjat tiang setinggi 12 meter untuk merobek warna biru bendera Belanda.

Dan akhirnya Sang Saka Merah Putih tetap berkibar di Kota Surabaya. Hotel Majapahit bukan satu-satunya fragmen dalam kisah patriotisme kota ini. Sebuah bangunan megah di Jalan Tunjungan yang kini beralih fungsi menjadi salah satu sentra bergulirnya roda ekonomi juga menyimpan sejuta histori. Salah satu tempat perbelanjaan megah berdiri di Jalan Tunjungan yaitu Tunjungan City yang menjadi pusat perbelanjaan elektronik di Kota Surabaya.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa gedung Tunjungan City dahulu merupakan benteng untuk menahan serangan sekutu dari arah utara di tahun 1945. Sejatinya, setiap langkah, setiap ruas jalan dan setiap sudut Surabaya adalah sejarah. Tapi ada satu tempat yang merangkumkan semuanya dalam diorama-diorama juga mendokumentasi beragam prasasti, berbagai bukti serta menyimpan tekad dan semangat.

Puncak pertempuran besar terjadi 10 November 1945, salah satu tempatnya berada di sebuah bentang Jembatan Merah yang berada di pusat Kota Surabaya. Seorang Sejarawan Imam Widodo menorehkan sepenggal peristiwa berdarah ini di dalam bukunya. Kini 10 November di Kota Surabaya telah menjadi sejarah panjang membuat bukti kemerdekaan dan gelora perjuangan jadi bagian tak terpisahkan pada sendi kehidupan setiap warga.

Dan para penghuni kota punya sejuta cara mengenang perjuangan leluhur sekaligus pahlawan mereka. Salah satunya menghidupkan semangat juang dalam pertunjukan seni. Bukan sekedar unjuk gigi atau pamer kebolehan, melainkan berlandas kesadaran bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mengharga jasa pahlawan serta senantiasa ingat pada akar sejarahnya.


Sumber : Net.TV

Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi

Meski sumber alamnya tidak begitu banyak dan wilayahnya juga tidak begitu besar, namun Cimahi menjadi salah satu kawasan strategis dan memiliki potensi untuk menjadi kota maju. Terbukti kota ini pernah dijadikan basis militer terbesar dan juga berkembang menjadi kota otonom. Perkembangan tata kota dan pembangunan yang pesat merupakan suatu bukti perjalanan panjang perubahan yang terjadi pada suatu daerah.

Image : panoramio.com

Seperti Kota Cimahi, salah satu daerah di kawasan Bandung yang memiliki luas 48.000 kilometer persegi ini. Nama Cimahi berasal dari kata Cai dan Mahi yang berarti air yang cukup. Dalam hal ini dimaknai dengan air sungai yang mampu mencukupi hajat hidup masyarakat di sekitarnya. Di masa penjajahan, wilayah pegunungan dan lingkungan yang bersih seperti Cimahi kala itu menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga :
Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta
Sejarah Kota Mekkah

Bahkan Cimahi juga dipersiapkan untuk menjadi basis militer terbesar di tanah Hindia. Berbicara Cimahi tidak bisa lepas dari unsur militer. Sejumlah pembangunan sarana dan prasarana dilakukan untuk mendukung pertahanan Hindia Belanda kala itu. Mulai dari sarana transportasi dengan dibangunnnya jalur kereta api serta stasiun kereta api yang didirakan tahun 1884.

Selain memudahkan mobilitas warga saat  itu, jalur kereta api tersebut juga dianggap strategis karena menghubungkan kawasan Batavia dan Bandung. Bahkan hingga menjelang kemerdekaan rel kereta menjadi jalur pengiriman pasukan serta senjata dari pabriknya di Kiara Condong menuju gudang penyimpanan senjata di Cimahi sebelum disebar ke kawasan-kawasan pertempuran.

Sarana yang masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik hingga saat ini adalah rumah sakit. Rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Dustira yang dulunya dikenal dengan nama Militer Hospital. Dulu rumah sakit Dustira dibangun khusus para prajurit tentara Belanda yang sakit dan luka dalam pertempuran.

Di era kemerdekaan wilayah Cimahi mengalami beberapa kali perubahan sistem pemerintahan. Mulai dari menjadi bagian Kabupaten Bandung sebagai daerah kewedanaan yang terdiri dari lima kecamatan yaitu kecamatan Cimahi, Padalarang, Batujajar, Cipatat dan Cisarua. Pada tahun 1976 statusnya ditingkatkan menjadi kota administratif dan Cimahi menjadi kota ketiga di Indonesia setelah Bitung Sulawesi Utara dan Kota Banjar Kalimantan Selatan. Hal ini dikarenakan Cimahi memiliki beberapa potensi yang justru harus diperhatikan.

Selama 26 tahun menjadi kota administratif Cimahi menjadi salah satu wilayah penyokong pendapatan Kabupaten Bandung, namun pembangunan saat itu justru terasa minim. Hingga akhirnya masyarakat mendorong untuk dijadikannya sebuah daerah otonom. Hasil dari berbagai kajian yang dilakukan oleh pemerintah pusat, tahun 2001 Cimahi ditetapkan sebagai kota otonomi hingga saat ini.

Kota Cimahi yang dihuni 586.586 jiwa yang tersebar di 3 kecamatan serta 15 kelurahan kini dapat menentukan kebijakan sesuai kondisi daerah serta mengatur peruntukan dana di wilayah secara mandiri. Usaha dalam meningkatkan perkembangan kota kearah yang lebih baik dan maju tidak lantas budaya dan adat istiadat ditinggalkan. Salah satunya desa adat Cireundeu yang masih bertahan sejak tahun 1918.

Kepercayaan, budaya dan tradisi warisan leluhur masih terus dijalankan warga desa ada Cireundeu hingga saat ini. Perkembangan suatu kota bukan hanya semata-mata merubah status ataupun penampilan luarnya saja, tetapi semangat menjaga dan melestarikan budaya yang ada juga menjadi penting dalam mencapai suatu perubahan.


Sumber : Net Jabar

Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta

Inilah bangunan-bangunan tua di kawasan Kota Tua Jakarta. Bangunan tua bersejarah dibiarkan kumuh, terlantar dan nyaris runtuh dimakan usia. Satu diantaranya, komplek bangunan gudang tua VOC yang dibangun sekitar abad ke 17. Pada abad 17 hingga 18, Belanda membangun benteng sekaligus sebagai kota pelabuhan yang lengkap dengan gudang-gudang logistik penyimpanan rempah-rempah.

Image : flickr.com

Satu dari gudang itu kini digunakan sebagai rumah dinas pegawai sebuah instansi pemerintah. Surya, adalah seorang penghuni bangunan tua ini. Dia lahir dan dibesarkan disini. Orang tuanya telah menempati bangunan tua ini sejak 1950an. Semasa kecil ia masih dapat berlari-lari di sekitar bangunan. Namun sejalan dengan perkembangan kota, kawasan ini tergenang air karena daerahnya lebih rendah dari bangunan di sekitarnya.

Baca Juga :
Sejarah Asal Stasiun Jakarta Kota Sebagai Salah Satu Cagar Budaya
Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta

Bangunan gudang tua yang dihuni Surya dan enam kepala keluarga lainnya masih terawat dibandingkan dengan bangunan lainnya yang dibiarkan kosong. Banyak warga Jakarta yang mungkin tak tahu bahwa komplek bangunan tua yang dulu berfungsi sebagai benteng milik VOC adalah cikal bakal Kota Jakarta. Kawasan Kota Tua Jakarta terletak di wilayah seluas 139 hektar di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Kadis Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan menuturkan “Ternyata banyak sekali, dan saya harus mengakui bahwa kemi pemerintah Jakarta belum mampu melestarikan Kota Tua Jakarta sebagaimana seharusnya. Semestinya semua benda itu dikonservasikan, siapapun pemiliknya. Nah, ternyata ada beberapa bangunan cagar budaya yang pemilikannya bukan oleh kami”.

Bangunan gudang sisi barat dahulu merupakan tempat penyimpanan komoditas dagang terpenting seperti lada, cengkeh, biji pala sebelum diangkut kapal menuju Eropa. Sementara reruntuhan bangunan sisi timur yang kini terletak di sisi jalan layang tol Cengkareng Tanjung Priok dahulu dikenal sebagai Osaider Park Ocean. Bangunan ini berfungsi sebagai gudang persediaan logistik makanan bagi para pelaut yang akan berlayar selama berbulan-bulan menuju Eropa.

Kedua bangunan ini merupakan tanda batas barat dan timur komplek benteng kota Batavia. Seorang sejarawan bernama Adolf Heuken menuturkan “Gudang yang menghubungkan antara benteng dan kota ini dulu sangat penting karena menjadi bagian dari tembok kota Batavia sampai ke Benteng. Untuk menutup halaman yang kosong antara benteng dan kota, VOC abad ke 18 bangunan gudang yang sekaligus di sebelah timurnya adalah Benteng Kota”.

Meski kini bangunan tua itu seperti hilang tersapu kemajuan zaman, tetapi tak selayaknya bangunan-bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua dilupakan. Bangunan tersebut merupakan aset bangsa dan warisan budaya sehingga perawatan dan perlindungannya menjadi tanggung jawab bersama. Perjalanan panjang sejarah bangsa tidak bisa dilepaskan dari jejak masa lalu yang membentuk sejarah itu sendiri.

Salah satu jejak masa lalu yang dapat kita saksikan di masa sekarang ini adalah berupa bangunan tua bersejarah. Namun sayangnya bangunan-bangunan tua itu seakan tidak mendapat kepedulian dan terlupakan oleh perkembangan waktu dan zaman. Untuk itu sudah seharusnya masyarakat dan instansi pemerintah yang terkait untuk bisa memberikan kepeduliannya untuk merawat dan melestarikan bangunan-bangunan tua yang bersejarah sebagai warisan budyaa yang tak ternilai bagi generasi kita di masa yang akan datang.


Sumber : Kota Kita

Menara Kudus, Simbol Pluralisme di Awal Perkembangan Islam

Sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Jawa, Kota Kudus menyimpan banyak situs-situs Islam. Salah satunya adalah Masjid Menara Kudus. Menara yang dibangun pada tahun 1549 masehi memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa. Pendirinya yaitu KH. Jafar Sodik atau lebih terkenal dengan nama Sunan Kudus sengaja mengambil batu dari Baitul Maqdis Palestina dan digunakan sebagai batu pertama pembangunan Masjid.

Image : flickr.com

Desain arsitektur menara lebih mendekati pada arsitektur Jawa Hindu. Menara dengan tinggi 18 meter dan luas dasar 100 meter persegi ini menyerupai candi pada masa Majapahit. Bahan konstruksi terbuat dari susunan batu bata merah yang disusun tanpa perekat. Walaupun bangunan ini merupakan menara dari sebuah Masjid, namun bentuknya menyerupai candi. Kaki atau pondasinya disebut Pradak Sinapata yang biasa di temukan pada candi-candi di Pulau Jawa.

Baca Juga :
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Masjid Sunan Muria, Situs Sejarah Islam di Ketinggian 1600 Meter 

Teknik konstruksi jawa juga dapat dilihat pada atap menara yang ditopang soko guru atau empat pilar penyangga. Sesuai fungsinya pada zaman dulu, menara Masjid digunakan untuk mengumandangkan azan. Yang unik dari menara Masjid Kudus ini adalah bedug dan kentongan yang berada di atas menara, biasanya adanya di serambi Masjid. Ornamen perhiasan pada menaralah yang membedakan Menara Kudus dengan Candi.

Tidak ditemukannya ornamen bergambar makhluk hidup pada menara, karena budaya Islam tidak memperkenankan penggambaran makhluk hidup. Ornamen menara lebi menonjolkan pada presisi penyusunan batu bata. Selain menara masih ada beberapa elemen unik di Komplek Masjid Menara Kudus, salah satunya adalah yaitu sebuah gerbang yang disebut dengan Gerbang Kembar. Bentunya menyerupai bangunan-bangunan pra Islam di Pulau Jawa. Bangunan Gerbang Kembar menyerupai Gapura Hindu.

Gapura ini berfungsi sebagai penyekat antara ruang profan dan sakral. Setiap tahunnya, Masjid ini dikunjungi ribuan peziarah dari berbagai daerah. Keberadaan makam Sunan Kudus di areal komplek Masjid Menara Kudus menjadi daya tarik tersendiri. Umumnya pengunjung beribadah dan berziarah di Masjid Menara Kudus ini. Salah satu elemen yang tak kalah unik adalah tempat wudhu kuno yang berada di sebelah masjid. Arcanya menyerupai bentuk kepala sapi, namun masyarakat Kudus menamainya dengan Kerbau Gumarang.

Karena pada zaman dahulu binatang sapi sangat dihormati oleh masyarakat Hindu Kota Kudus. Pancuran Kerbau Gumarang berjumlah delapan buah. Jumlah ini dikaitkan dengan falsafah Budha yaitu Asta Arya Marga yang berarti Delapan Jalan Utama, yang isinya pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan kompementasi yang benar.



Sumber : CMN Channel

Masjid Sunan Muria, Situs Sejarah Islam di Ketinggian 1600 Meter

Salah satu situs peninggalan Islam di Pulau Jawa adalah Masjid peninggalan Sunan Muria yang berada di Desa Colo Pegunungan Muria Kudus Jawa Tengah. Masjid tersebut berada di ketinggian 1.600 meter diatas permukaan laut. Salah satu keunikan Masjid Sunan Muria adalah bentuk Mihrab atau tempat Imam Masjid dan sejumlah benda bersejarah dengan ornamen Tiongkok.

Image : flickr.com

Untuk mencapai Masjid Muria pengunjung harus menyusuri jalan sempit yang menanjak sekitar 3 kilometer. Dari lokasi Masjid pada pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Kudus hingga Kabupaten Pati. Selama ratusan tahun Masjid sekaligus makam Sunan Muria di lokasi ini telah mengalami banyak perubahan.

Baca Juga :
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Cerita Dibalik Masjid Istiqlal Yang Bediri Kokoh 

Namun beberapa benda dan bagian bangunan di dalam Masjid yang dibangun Sunan Muria hingga kini masih utuh. Salah satunya tempat Imam Masjid atau Mihrab. Berbeda dengan biasanya, Mihrab disini menjorok kedalam. Susunan bata pada bangunan ini juga masih utuh seperti aslinya. Termasuk puluhan cawan dari Tiongkok yang ditempel di dinding bangunan. Semasa hidupnya Sunan Muria dikenal sangat egaliter dan dengan dengan rakyat jelata.

Di dalam masjid terdapat benda-benda hasil peninggalan Sunan Muria. Dan kesemua benda tersebut merupakan sebuah penanda dan petunjuk kemuliaan dari ajaran beliau. Menurut penuturan sang Pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria yaitu Bapak Mastur “Ini adalah Masjid dan Makam Sunan Muria pertama. Sunan Muria namanya adalah Raden Umar Said. Beliau bermukim di Puncak Gunung Muria, menyebarkan agama Islam di Gunung Muria dan sekitarnya sampai wafat di Gunung Muria sehingga beliau terkenal dengan nama Sunan Muria”.

Benda lain peninggalan Sunan Muria adalah Bedug yang terbuat dari kayu jati kuno. Terdapat pahatan berbentuk ukiran naga dan ayam jantan diatas Bedug. Berdasar tanggal yang tertera, bedug ini dibuat pada tahun 1884 masehi. Ada pula gentong Sunan Muria yang sering menjadi tempat tujuan para pengunjung setelah berziarah di makam Sang Wali. Dari dalam gentong, air yang berasal dari mata air pengunungan Muria senantiasa mengalir sepanjang waktu.

Semasa hidupnya, Sunan Muria atau Raden Umar Said dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat jelata. Beliau meninggalkan keramaian Kerajaan Demak dan membangun Masjid di lereng Gunung Muria sebagai pusat pembinaan masyarakat.


Sumber : CNN Indonesia

Cerita Dibalik Masjid Istiqlal Yang Bediri Kokoh

Sejarah bangsa ini tak akan istimewa tanpa kehadiran Masjid Istiqlal. Sebuah masjid monumental yang terbesar di Asia Tenggara dan mampu menampung hingga 200 ribu jamaah. Masjid Istiqlal dibangun di bekas Taman Wilhelmina atau Wilhelmina Park di sisi timur laut Lapangan Medan Merdeka. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1951 dan diarsiteki oleh Friedrich Silaban seorang kristen. Friedrich memenangkan sayembara rancang bangun masjid dan mengalahkan 22 peserta lainnya.

Image : flickr.com

Menurut salah satu Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar mengungkapkan “Mereka (para tamu asing) sangat takjub, karena ternyata arsitek pembangunan Masjid Istiqlal yang begini kokoh itu ialah Silaban seorang non muslim (Katolik / Kristen). Mereka kaget kok bisa seorang kristen membuat gambar Masjid? Apa yang salah? Tidak ada. Sebab, seperti yang biasanya juga terjadi berapa banyak para ilmuan-ilmuan Muslim memberikan konstribusi terhadap rumah-rumah ibadah agama lain juga. Jadi umat Islam Indonesia itu adalah pembaca sejarah. Kami juga membaca bahwa salah satu ketakjuban mereka (tamu-tamu asing), ialah mengenai bangunan Masjid itu. Masjid seperti ini kokoh tidak ada satupun kayu di dalamnya dan semuanya besi-besi. Jadi kokoh sekali, sangat maskulin, sangat tangguh dan itulah lambang ke Indonesiaan itu sendiri. Bahwa Indonesia itu tangguh dan bisa disimbolkan dari Masjid Istiqlal”.

Baca Juga :
Pesona Islam Masjid Agung Kauman di Semarang
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 

Dalam perjalanannya, pembangunan Masjid Istiqlal sempat tensendat. Sejak direncanakan sejak tahun 1950 sampai 1965, pembangunannya tak mengalami banyak kemajuan. Lantaran masalah dana dan situasi politik yang kurang kondusif. Tujuh belas tahun kemudian Masjid Istiqlal selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Suharto pada 22 Februari 1978. Semangat nasionalisme pun berpadu dengan filosofi religi pada arsitektur geometris modern Masjid yang dibangun dengan biaya 7 Milliar Rupiah ini. Masjid Istiqlal dibangun lima lantai sebagai simbol dari pondasi utama umat yakni rukun Islam. Diameter kubah yang panjangnya mencapai 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Tinggi menara yang mencapai 6.666 centimeter adalah representasi dari jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an.

Nasaruddin Umar melanjutkan “Kalau ke Masjid Istiqlal, maka disamping masjid itu ada Gereja Besar Katedral. Nah, ini dua rumah ibadah yang besar berdampingan, yang mana itu juga merupakan simbol toleransi yang sangat penting di Indonesia. Dan ini merupakan hal yang sangat mahal. Salah satu faktor yang jadi pemersatu bangsa ini adalah Masjid Istiqlal itu sendiri. Masjid Istiqlal itu merangkum seluruh golongan-golongan umat Islam di Indonesia. Entah itu Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Al Wasliyah dan ada 64 ormas-ormas Islam, maka ‘Welcome to Masjid Istiqlal’. Masjid Istiqlal itu adalah Masjid bersama. Siapapun, Mahzab manapun boleh masuk di Masjid Istiqlal.

Islam adalah rahmat bagi semesta, Islam mengajarkan toleransi dan keterbukaan. Pesan inilah yang membuat pengunjung dan ribuan turis tak pernah surut mendatangi Masjid Istiqlal setiap bulannya.Salah satu pengunjung dari negeri tetangga Australia benama Emil menuturkan “Sangat Unik. Saya belum pernah melihat Masjid sebesar ini sebelumnya. Cukup menakjubkan. Hal yang pertama yang saya perhatikan dan saya pikir menakjubkan (karena letaknya bersebelahan dengan Gereja Katedral) adalah tempat ibadah dua agama yang berbeda berdiri saling berhadapan. Dan bagi saya itulah simbol kebersamaan yang sangat baik”.

Istiqlal yang dalam bahasa Arab berarti merdeka ini lahir sebagai perwujudan rasa syukur atas kemerdekaan bangsa. Masjid Istiqlal terbuka bagi siapapun yang ingin melihat Islam dan nilai kebangsaan Indonesia saling mengisi.



Sumber : CNN Indonesia 

Sejarah Masjid Raya Baiturahhman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh memiliki sejarah panjang. Masjid ini menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di Aceh. Dalam perjalanannya, Masjid kebanggaan masyarakat Serambi Mekah ini telah mengalami beberapa kali perluasan dan pemugaran.

Image : flickr.com

Masjid Raya Baiturrahman merupakan Masjid negara yang berada di jantung Kota Banda Aceh. Masjid ini dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 hijiriah atau 1612 masehi. Berdasarkan informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, ada dua versi sejarah dalam riwayat pembangunan Masjid ini.

Baca Juga :
Pesona Islam Masjid Agung Kauman Semarang
Sejarah Organisasi Hizbut Tahrir Hingga Masuk ke Indonesia

Sebagian sumber menyebutkan, Masjid ini didirikan pada tahun 1292 oleh Sultan Alaudin Johan Mahmud Syah, sumber lain menyebutkan Masjid raya ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda di tahun 1612. Masjid ini pernah dibakar Belanda saat menyerang Kutaraja atau yang sekarang disebut Banda Aceh pada tanggal 10 April 1873.

Rakyat Aceh pun marah pada saat itu dan terjadilah pertempuran antara masyarakat Aceh dan Belanda. Pada pertempuran ini Belanda kehilangan panglima mereka yang bernama Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kรถhler pada 14 April 1873. Pada bulan Maret 1877, empat tahun setelah Masjid Baiturrahman terbakar, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid yang memiliki pengaruh besar bagi rakyat Aceh.

Pembangunan kembali Masjid Raya Banda Aceh berlangsung pada 1879 hingga 1881. Arsitektur bangunan mengadaptasi gaya moghul India dengan hanya sebuah kubah. Pada tahun 1935 Masjid diperluas di bagian kiri dan kanannya masing-masing dua kubah hingga akhirnya Masjid memiliki lima buah kubah.

Di tahun 1975 Masjid kembali diperluas dengan menambah dua kubah dan dua menara. Hal ini dilakukan dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat nasional ke 12 tahun 1981. Terakhir pada tahun 1991 dimasa Gubernur Ibrahim Hasan, Masjid Baiturahhman kembali mengalami perluasan yakni meliputi halaman depan dan belakang serta menambah dua kubah.


Sumber : CNN Indonesia 

Pesona Islam Masjid Agung Kauman di Semarang

Semarang, Ibukota Jawa Tengah kini menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Indonesia. Dan salah satu kawasan yang tak pernah luput dari incaran pelancong pecinta sejarah adalah Kawasan Kauman. Disini wisata sejarah dan religi jadi pesonanya. Pernah menjadi Masjid terbesar di kota Semarang, Masjid Agung Kauman memiliki pesonanya tersendiri.

Image : flickr.com

Masjid ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang mulai dari abad ke 16 hingga mengawal kemerdekaan Indonesia. Meski telah melewati waktu yang panjang namun madjid ini masih memiliki tempat di hati masyarakat Kauman. Masjid Agung Kauman merupakan salah satu Masjid tertua di Kota Semarang Jawa Tengah. Masjid ini dibangun pada masa Kesultanan Demak di abad ke 16.

Baca Juga :
Sejarah Organisasi Hizbut Tahrir Hingga Masuk ke Indonesia
Sejarah Kota Mekkah

Saat itu seorang utusan Kerajaan Demak Maulana Ibnu Abdul Salam atau Sunan Padanaran menemukan kota pesisir yang diberi nama Semarang. Masjid Agung Kauman awalnya berdiri di kawasan megah Semarang Selatan. Namun berkali-kali alami kebakaran, Masjid akhirnya dipindahkan ke kawasan Kauman tahun 1749. Karena banyaknya renovasi yang dialami Masjid ini, maka terdapat empat prasasti menghiasi gapura masuk yang juga menceritakan perjalanan sejarah Masjid.

Keempat prasasti ditulis dalam empat bahasa yang berbeda-beda yakni bahasa Indonesia, Jawa, Belanda dan Arab. Tahukan anda bahwa Masjid Agung Kauman jadi satu-satunya masjid di Indonesia, yang mengumumkan kemerdekaan Indonesia? Hal ini terjadi secara terbuka beberapa jam setelah diproklamasikan. Informasi yang harus dibayar mahal, karena setelah melaksanakan shalat, tentara Jepang langsung mengejar pengurus masjid.

Memasuki pelataran Masjid Kauman, pintu-pintu dengan rangkaian daun waru menyambut. Ornamen campuran Jawa dan Persia terasa kental. Masjid Agung ditopang dengan 36 pilar yang kokoh. Jumlah ini memiliki filosofi perkalian 6 kali 6 yang berasal dari surat keenam ayat enam dalam Al-Quran. Dalam Surah Al-An’am di ayat enam tersirat bahwa meski musibah terjadi berkali-kali, sesungguhnya dalam setiap musibah itu ada hikmah untuk generasi masa mendatang yang lebih baik.

Kebakaran yang menimpa masjid ini berkali-kali dipercaya serupa dengan ayat tersebut. Semua terjadi demi sesuatu yang lebih baik. Di dalam Masjid terdapat Mihrab yang runcing dengan langit-langit dari beton. Mihrab dihiasi 99 nama Allah SWT atau Asmaul Husna. Mimbar Imam terbuat dari kayu jati dilengkapi ornamen ukir khas Jawa yang indah. Atap Masjid Agung Kauman Semarang berbentuk tajub tumpang tiga. Atap bertingkat tiga merupakan simbol dari filosofi Iman, Islam, dan paling atas adalah Ihsan.

Wisata religi disini makin lengkap karena tak jauh dari Masjid Kauman berdiri pula pesantren Raudatul Qur’an. Berdiri sejak tahun 1952, disinilah para santri hafiz Qur’an atau penghafal Qur’an menuntut ilmu. Total sudah ada 500 penghafal Qur’an yang lulus dari pesantren ini. Selama menempuh ilmu di pesantren, santri tidak diperkenankan belajar di sekolah umum ataupun bekerja.

Hal ini dilakukan agar santri fokus pada penghafalan Al-Qur’an. Lebih dari 160 santri ada disini. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari Malaysia. Pesantren ini mengajarkan untuk memprioritaskan aspek agama terlebih dahulu sebelum kehidupan dunia. Karena niscaya ketika agama telah didalami, seseorang dapat hidup di dunia dengan landasan agama yang kuat. seperti yang tertera di Surat Al-Fatir ayat 29 dan 30.

Asrama merupakan wakaf dari warga Kauman yang ditujukan sebagai tempat tinggal. Saat ini terdapat 16 asrama yang tersebar di kawasan Kauman Semarang. Banyaknya etnis Arab disini menjadi salah satu pemicu dan aktivitas keagamaan di kawasan Kauman juga membuat daerah ini dinobatkan sebagai Kampung Al-Qur’an Februari 2016 lalu.


Sumber : Net.5

Ayo Mengenal Gedung Sate Yang Jadi Ikonnya Jawa Barat

Gouvernements Bedrijven atau yang bisa kita kenal dengan nama Gedung Sate adalah bangunan bersejarah yang terletak di Kota Bandung. Gedung bergaya arsitektur Indo-Eropa ini dirancang oleh seorang arsitek dari belanda bernama Ir. John Gerber. Pada tanggal 27 Juli 1920 diletakkan batu pertama oleh Johanna Catherina Coops yang mana beliau adalah putri dari Walikota Bandung saat itu.

Image : flickr.com

Dan kenapa disebut gedung sate? Karena di bagian atas kita dapat melihat ornamen yang berbentuk tusuk sate yang terdiri dari enam bagian. Dan enam bagian itu melambangkan biaya dari pembangunan Gedung Sate itu sendiri seharga 6 Juta Gulden. Ada salah satu yang menarik dari bangunan bersejarah ini yaitu terdapatknya jalur khusus untuk penyandang disabilitas.

Baca Juga :
Sejarah Asal Mula Jalan Malioboro di Yogyakarta
Sejarah Asal Stasiun Jakarta Kota Sebagai Salah Satu Cagar Budaya

Dengan demikian, Gedung Sate merupakan gedung yang ramah disabilitas. Gedung peninggalan zaman Belanda ini memang menjadi ikon kebanggan bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Kota Bandung. Karena tidak hanya keunikan arsitektur bangunan saja, namun taman yang tertata rapipun menjadi tempat favorit para wisatawan untuk sekedar berfoto di depannya saja.

Sebenarnya tidak terlalu sulit bagi anda yang ingin memasuki gedung putihnya Jawa Barat ini. Asalkan anda mengikuti prosedur yang ada, maka anda akan bisa masuk ke tempat ini. Pada tahun 1980, Gedung Sate dialihfungsikan menjadi kantor pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat. Namun dengan dialihfungsikan menjadi kantor pemerintah, bukan berarti Gedung Sate tertutup untuk umum. Tertebih di akhir pekan, warga dan wisatawan bisa berkunjung ke sini.

Salah satu tempat atau ruangan yang wajib anda kunjungi yakni ruang pamer. Karena di ruang ini kita akan disuguhkan dengan pengetahuan, budaya dan pariwisata Provinsi Jawa Barat. Tidak hanya ruang pamer, ternyata di teras menara juga menjadi andalan di Gedung Sate. Sebab diatas ketinggian tersebut, kita bisa melihat pemandangan Kota Bandung yang dikelilingi oleh gunung-gunung dari ketinggian lebih dari 100 meter.

Kita juga jangan sampai ketinggalan untuk perfoto atau berselfie di tempat ini. Saking indahnya pemandangannya, di teras tersebut juga bisa dipakai untuk menyambut atau menjamu tamu-tamu kenegaraan. Sebelum kita bergegas meninggalkan Gedung Sate, maka tidak lengkap rasanya jika anda tidak berjalan-jalan terlebih dahulu di Taman Gedung Sate.




Sumber : Humas Jabar

Hotel Majapahit, Saksi Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Halo sahabat, hari ini kita akan membahas tentang bangunan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya bagi warga Surabaya sendiri. Inilah Hotel Majapahit yang merupakan gambaran perjuangan arek-arek Suroboyo dalam merebut kemerdekaan. Di mana pada saat itu, di Hotel Inilah para pejuang arek-arek Suroboyo merubek bendera Belanda sehingga menjadikannya Bendera Indonesia demi sebuah harga diri bangsa.

Image : flickr.com

Sejak berdiri satu abad yang lalu, Hotel Majapahit memiliki daya tarik luar biasa dari sisi sejarah. Bahkan hotel yang berada di Jalan Tunjungan Surabaya ini hingga sekarang tidak menghilangkan keasliannya. Ini terbukti dari bermacam bangunan-bangunan dan benda-benda bersejarah masih terpajang rapi di dalam Hotel. Di dalamnya masih ada furniture-furnitur kuno bahkan juga terdapat mobil yang sudah tua. Dan kebanyakan dari benda-benda tersebut masih terdapat tulisan-tulisan berupa huruf HO yang artinya Hotel Oranje.

Baca Juga :
Sejarah Asal Stasiun Jakarta Kota Sebagai Salah Satu Cagar Budaya
Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta

Pihak hotel sendiri memang ingin sedikit mengajak para pengunjung untuk flashback kembali ke zaman dulu. Dalam perjalanannya, Hotel Majapahit mengalami pergantian nama beberapa kali. Di tahun 1910, Hotel Majapahit pertama kali dibangun dengan nama Oranje Hotel oleh Sarkies bersaudara. Selanjutnya di tahun 1942, berubah nama menjadi Yamato Hoteru atau Yamato karena penjajah Jepang masuk ke Indonesia dan menguasai hotel ini.

Tahun 1945, Hotel Yamato berubah menjadi Hotel Merdeka atau Hotel Liberty karena di hotel inilah warga Surabaya merobek bendera Belanda menjadi Bendera Merah Putih. Kemudian di tahun 1969, nama Majapahit digunakan untuk hotel ini karena ada kerajaan besar yang dikenal dengan Majapahit. Kemudian nama Majapahit pun bertahan hingga saat ini. Hotel Majapahit saat ini memiliki ratusan kamar, namun hanya beberapa yang memiliki sejarah seperti kamar nomor 33 yang dulunya adalah markas sekutu.

Tiang bendera juga masih terpancang di atap Hotel Majapahit. Beberapa prasasti menceritakan beberapa peristiwa bersejarah juga masih tertulis jelas di dinding atap Hotel Majapahit. Saat ini Hotel Yamato atau Hotel Majapahit merupakan cagar budaya yang mampu menceritakan perjuangan para pahlawan agar keberanian Arek-arek Suroboyo tetap dikenang oleh generasi muda nantinya.



Sumber : iNews Tv

Sejarah Asal Stasiun Jakarta Kota Sebagai Salah Satu Cagar Budaya

Bagi anda yang tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya pastinya sudah tahu dong apa itu Stasiun Jakarta Kota. Di Indonesia sendiri stasiun ini merupakan stasiun Kereta Api terbesar. Lokasinya berada di Pinangsia Kawasan Kota Tua Jakarta Indonesia. Stasiun kota tua ini juga jadi salah stasiun Kereta Api di Indonesia yang memiliki tipe terminus, artinya tempat perjalanan awal dan perjalanan akhir dan tidak ada lagi jalur lanjutannya. 


Pada tahun 2015 sampai sekarang, stasiun ini difungsikan hanya untuk rute komuter saja. Tujuannya yaitu ke daerah-daerah sekitaran Jakarta seperti Depok, Nambo, Bogor, Bekasi dan Tanjung Priok. Sebutan lain dari Stasiun Jakarta Kota adalah Stasiun Beos. Biarpun penamaan stasiun ini ‘Stasiun Jakarta Kota’ sejak pertama kali berdiri, akan tetapi orang-orang lebih mengenal stasiun ini dengan nama ‘Stasiun Kota’.

Baca Juga :
Patung Pemuda Membangun Bediri Kokoh Di Bundaran Senayan
Inilah 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Harus Dikunjungi

Nama dari ‘Stasiun Kota’ juga bisa dikatakan merujuk pada salah satu stasiun yang berada di Surabaya yaitu ‘Stasiun Surabaya Kota’. Stasiun ini saat ini sedang diperdebatkan keberadaannya karena ada wacana untuk merenovasinya dengan program penambahan ruang komersial. Padahal sebenarnya stasiun ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya di Indonesia. 

Disamping bangunannya yang masih kuno, stasiun ini juga merupakan stasiun tujuan perjalanan terakhir. Sebagaimana stasiun lainnya seperti di Surabaya yaitu Stasiun Surabaya Kota dan Stasiun Semut, kedua stasiun ini juga merupakan stasiun cagar budaya yang pernah direnovasi sehingga menimbulkan dianggap juga kontroversial. 

# Sejarah Stasiun Jakarta Kota

Di masa lalu, karena memang sudah sangat terkenal, stasiun ini pernah dijadikan sebauh acara oleh salah satu stasiun televisi swasta. Hanya saja mungkin tidak banyak warga di Jakarta yang mengatahui arti dari Beos, dan Beos ini sendiri memiliki banyak sekali versi. Arti pertama, Beos itu singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), yaitu salah satu perusahaan swasta yang difungsikan untuk menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. 

Arti yang kedua, kata Beos itu asal mulanya dari kata Batavia En Omstreken, yang memiliki arti Batavia dan juga sekitarnya, yang berasal dari fungsi dari stasiun sebagai pusat dari tranportasi Kereta Api yang menghubungkan antara kota Batavia dan kota lain semisal Bekassie atau Bekasi, Buitenzorg atau Bogor, Parijs van Java atau Bandung, dan Karavam atau Karawang dan lain sebagainya. 

Sebetulnya masih terdapat nama-nama lain dari Stasiun Jakarta Kota. Antara lain Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Penamaan tersebut ada karena di akhir abad yang ke -19, Batavia telah mempunyai lebih banyak stasiun Kereta Api. Salah satunya adalah Stasiun Batavia Noord atau Batavia Utara yang letakknya berada di selatan Museum Sejarah Jakarta yang sekarang. Pada awalnya, Batavia Noord ini adalah milik perusahaan Kereta Api Nederlands-Indische Sporweg Maatschappij, dan merupakan sebuah terminus bagi jalur Batavia-Buitenzorg. 

Di tahun 1913, jalur dari Batavia-Buitenzorn ini dijual kepada pemerintahan Hindia Belanda dan kemudian dikelola oleh Staatsspoorwegen. Pada saat itu, kawasan Jatinegara dan kawasan Tanjung Priok belumlah termasuk pada gemeente Batavia. Awalnya Batavia Zuid pada tahun 1870-an, lalu ditutup pada tahun 1926 dengan tujuan untuk direnovasi madi bangunan yang sekarang ini kita lihat. Dalam jangka waktu stasiun ini dibangun, hampir semua Kereta Api memakai Stasiun Batavia Noord. 

Jaraknya sekitar 200 meter dari stasiun yang ditutup ini dan dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang bisa kita saksikan. Pembangunan Stasiun ini selesai pada bulan Agustus 1929 tepatnya pada tanggal 19. Sehingga secara resmi stasiun ini dipakai pada tanggal 8 Oktober 1929. Acara peresmian dibuat sangat meriah dengan diadakan acara penanaman kepala kerbau yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal jhr. A.C.D. de Graeff yang saat itu berkuasa pada Hindia Belanda di sejak tahun 1926 hingga 1931. 

Lalu siapakah dibalik kemegahan Stasiun Jakarta Kota? Ternyata dibalik kemegahannya ada sebuah nama Frans Johan Louwrens Ghijsels yang lahir di Tulungagung pada tanggal 8 September 1882. Dia tidak sendiri, namun beberapa temannya juga ikut dalam proyek ini antara lain Hein von Essen dan F. Stolts. Frans Johan Louwrens Ghijsels menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delpf. Dia juga mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (IAI). 

Beberapa karya dari biro ini adalah gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan dan juga Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta. Salah satu karya terbesar dari Ghijsels adalah Stasiun Beos. Oleh karena itulah adalah sebuah ungkapan yang mengatakan Het Indiesche Bouwen atau perpaduan antara teknik modern barat dan struktur yang dipadukan dengan bentuk-bentuk tradisional daerah setempat. 

Dengan menggunakan balutasn art deco yang kental, kesan dari rancangan dari Ghijsels ini terlihat sederhana walaupun sebenarnya bercita rasa yang tinggi. Sesuai dengan sebuah filosofi dari Yunani Kuno, bahwa kesederhanaan adalah jalan paling pendek untuk menuju kecantikan. 

# Stasiun Jakarta Kota di Masa Kini

Stasiun Jakarta Kota pada akhirnya ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya lewat surat keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta No. 475 pada tahun 1993. Walaupun status dari stasiun ini masih berfungsi, namun masih terlihat bangunan yang kurang terawat di beberapa tempat di dalam Stasiun ini. Bahkan keberadaanya mulai jadi kontroversi dan cukup terusik dengan kabar berita yang menyebutkan bahwa diatas stasiun ini akan dibangun sebuah mal. 

Masalah yang lain yang timbul di Stasiun ini adalah adanya sampah yang berserakan dimana-mana terutama di bagian rel-rel Kereta Api. Disamping itu, banyaknya orang-orang yang membangun tempat tinggal di samping kiri dan kanan rel kereta menjadikan Stasiun terasa kurang estetikanya sebagai salah satu stasiun kebanggaan ini. Saat ini pihak KAI lewat Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah sudah mulai menata kembali stasiun yang sangat bersejarah ini. 

Patung Pemuda Membangun Bediri Kokoh Di Bundaran Senayan

Halo sahabat sekalian, bagaimana kabar kalian hari ini? Tentunya senantiasan baik-baik saja ya. Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin berbagi artikel singkat tentang ‘Patung Pemuda Membangun Bediri Kokoh Di Bundaran Senayan’. Artikel ini saya buat sebagai sarana informasi kepada kita semua untuk mengenal lebih jauh tentang Patung Pemuda Membangun yang saya yakin tidak semua orang tahu akan sejarah patung yang berdiri kokoh di Bundaran Air Mancur Senayan ini. 


Sebutan lainnya untuk Patung Pemuda Membangun adalah Patung Pizza Man. Patung ini merupakan monumen yang berada tepat di tengah-tengah bundaran air mancur Senayan. Lokasinya tidak jauh dari pusat pertokoan yang cukup terkenal di Jakarta Selatan yaitu Ratu Plaza. Pembuatnya merupakan tim patung yang dipimpin oleh Imam Supardi yaitu Insinyur Seiman Arsitektur (ISA).

Baca Juga :
Inilah 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Harus Dikunjungi
Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta

Kala itu penanggung jawab pelaksananya dipegang oleh Munir Pamuncak. Patung ini dibuat bukan tanpa tujuan, melainkan dibuat dengan tujuan agar mampu mendorong semangat untuk membangun yang hakekatnya haruslah dilakukan oleh para pemuda kita ataupun bagi orang-orang yang berjiwa muda. Oleh sebab itulah mengapa patung ini diberi nama sebagai ‘Patung Pemuda Membangun’. 

Pembuatan patung tersebut diletakkan di Bundaran Air Mancur Senayan dengan alasan lokasi ini cukup praktis dan strategis. Kenapa disebut praktis? Karena tempatnya dianggap luas dan memenuhi persyaratan agar bisa memasang patung yang berukuran besar dan strategis karena lokasi tersebut adalah titik pertemuan dari dan ke segala penjuru kota Kebayoran Baru dan daerah sekitar. Disamping itu letak patung ini juga tidak jauh dari kompleks olahraga Senayan dan juga dari Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat. 

MENGENAI ASAL MULA PATUNG PEMUDA MEMBANGUN

Menurut penjelasan para ahli, patung ini diciptakan menggunakan beton bertulang dengan adukan semen dan pada bagian luarnya dilapisi dengan bahan teraso. Pengerjaanya dimulai pada bulan Juli 1971 dan peresmiannya diadakan pada bulan Maret 1972. Semula, rencananya peresmiannya akan dilakukan di acara Peringatan Hari Sumpah Pemudah tanggal 28 Oktober tahun 1971. 

Akan tetapi pada waktuitu patung belum selesai didirikan sehingga proses peresmian ditunda sampai beberapa bulan. Biaya pembuatan patung seluruhnya ditanggung oleh perusahaan Pertamina. Saat itu Ibnu Sutowo sebagai puncak pimpinan tertinggi ikut memegang peran. Kenapa patung tersebut dinamakan ‘Pemuda Membangun’? Sebab patung tersebut mengambarkan seorang pemuda yang membawa obor dengan semangat yang begitu berkobar-kobar. 

Sekilas kalau dilihat dari jauh patung ini seperti tidak menggunakan busana, guratan-guratangan serta gumpalan otot-otot yang ditonjolkan didesain untuk mendukung ekspresi gerakan dari tokoh pemuda. Sedangkan obor sendiri bermakna sebagai alat penerangan dan memiliki arti filosofis yaitu menerangi hati dan jiwa yang gelap. Hal ini digambarkan sebagai harapan pada kaum pemuda untuk ikut mengambil peran penting dalam usaha untuk membangun bangsa. 

Para pemuda diharapkan ikut berpartisipasi aktif untuk memajukan bangsa sangatlah diperlukan sebab lewat tangan para pemuda lah terletak cita-cita dan harapan bangsa. Patung ini memiliki tinggi yang cukup menjulang. Upaya perawatan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, antara lain lewat Dinas Pertanaman dan Dinas Pemadam Kebakaran yang bertugas memandikan patung. 

Demikianlah artikel singkat saya tentang ‘Patung Pemuda Membangun Bediri Kokoh Di Bundaran Senayan’ ini. Semoga bisa memberikan manfaat kepada kita semua agar lebih tahu tentang asal-usul Patung Pemuda Membangun. Terima kasih banyak saya ucapkan pada para pembaca yang sudah singgah di blog saya yang sangat sederhana ini. Semoga saya terus bisa memberikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi anda semua. 

Inilah 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Harus Dikunjungi

Assalamu’alaikum. Halo sahabat sekalian. Apa kabarnya kalian hari ini? Tentunya baik-baik saja bukan? Semoga anda senantiasa diberikan kesehatan, rizky melimpah dan panjang umur ya. Baiklah, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi artikel yang berjudul “Inilah 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Harus Dikunjungi”. 


UNESCO sebagai organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB baru-baru ini telah merilis sebanyak 21 situs warisan budaya terbaru. Dimana sejumlah situs warisan tersebut diketahui mempunyai keindahan dan nilai sejarah yang sangat tinggi. Dari ke-21 situs tersebut, ada 8 situs yang dimasukkan UNESCO ke dalam list perjalanan anda.

Baca Juga :
Sejarah Asal Mula Jalan Malioboro di Yogyakarta
Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta 

Nah, 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Wajib Dikunjungi, antara lain :

1. China – Hubei Shennogjia


Letak dari Hubei Shennogjia berada di Provinsi Hubei. Lokasi ini merupakan salah satu hutan kuno paling besar di negeri tirai bambu – Tiongkok. Inilah hutan lebat yang telah menjadi tempat penting untuk pengembangan penelitian botani dan rumah untuk sejumlah satwa liar yang terancam kepunahan. Hewan-hewan yang hampir punah tersebut antara lain macan tutul, si monyet hidup pesek dan beruang hitam.

2. India – Khangchendzonga National Park

Di India, Khangchendzonga National Park adalah tempat yang disucikan oleh masyarakat adat Sikkim. Letaknya berada di area gunung Khangchendzonga yang merupakan gunung tertinggi ketiga di dunia. Di wilayah taman nasional yang luas areanya mencakup area lembah, gletser, danau dan hutan kuno.

3. Brasil - Pampulha Modern Ensemble

Situs warisan dunia satu ini dibangun pada tahun 1940. lokasi pembuatannya berada di Belo Horizonte di sekitar danau buatan. Inilah situs yang merupakan pusat rekreasi dan budaya. perancangnya adalah Oscar Niemeyer yang merupakan arsitek terkenal dan legendaris dari Brasil. Disini anda juga bisa menikmati dan menjelajahi Hutan dan Sungai Amazon.

4. Kanada - Mistaken Point

Di mistaken point anda bisa melakukan sesuatu yang berbeda. Di sebelah tenggara pantai Newfoundland terdapat jajaran tebing yang panjangnya mencapai 17 kilometer. Disanalah anda bisa menemukan beberapa fosul laut paling tua di dunia. Fosil-fosil tersebut diduga telah terbentuk sedemikian rupa sejak 560 juta tahun yang lalu. Namun jika anda kesana jangan lupa untuk mampir ke kota kecilnya. Anda bisa menjelajahi daerah perkotaan kecil disana. Desain bangunannya unik dan berwarna warni.

5. Kanada – Kepulauan Revillagigedo

Letak Kepulauan Revillagigedo terletak di kepulauan yang terpencil di Samudera Pasifik bagian timur. Kepulauan tersebut merupakan bagian dari sebuah pegunungan terendam. Pulau-pulau yang terdapat di dalamnya berjumlah empat buah pulau yaitu Socorro, San Benedicto, Clarion dan Roca Partida. Keempat wilayah tersebut merupakan tempat berkembang biaknya burung laut yang jumlahnya mencapai ribuan ekor.

6. Antiqua dan Barbuda – Pelabuhan Antiqua

Sejak zaman dahlu para pelaut, pedagang dan juga wisatawan Eropa sering terjadi pertemuan di pelabuhan ini. Salah satu bukitnya yang tinggi bisa digunakan sebagai tempat untuk menikmati panorama indahnya teluk yang sempit dan juga dalam. Tempat ini sangat cocok bagi anda yang hobi berenang, diving ataupun bersantai. Karena memang pulau ini merupakan pulau yang sudah sangat terkenal keindahannya.

7. Iran – The Persian Qanat

Di salah satu negara timur tengah yaitu Iran, terdapat sebuah sistem irigasi bawah tanah kuno atau yang biasa disebut dengan Qanat. Sistem irigasi tersebut panjang dan difungsikan untuk menjaga aliran distribusi air di seluruh penjuru kota. Nah, sistim irigasi inilah yang kemudian disebut The Persian Qanat.    

8. Turki – Eruntuhan Kota Ani

Eruntuhan Kota Ani merupakan kota yang letaknya berada di lintas perdagangan dunia pada 1.500 tahun lalu. Letaknya beradai di sungai Akhurian, disisi yang lain berada di pegunungan berbahaya. Bagi warga Turki, situs ini merupakan salah satu kebanggaan bagi mereka.

Sekian Artikel dari saya yang berjudul “Inilah 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Harus Dikunjungi”. Semoga bisa menambah wawasan pengetahuan kita bersama. Terima kasih telah berkunjung ke blog saya yang sederhana ini. Sampai bertemu lagi pada artikel-artikel berikutnya yang lebih menarik. Wassalamu’alaikum.

Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta

Halo sahabatku sekalin, bagaimana kabar kalian? Tentunya baik-baik saja bukan. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi artikel tentang Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Yogyakarta. Baiklah, tidak usah panjang lebar, kita langsung saja pada inti pembahasan. Tugu Jogja merupakan Landmark dari kota Jogjakarta yang paling dikenal. Monumen ini letaknya ada tepat di tengah perempatan jalan. Yaitu antara jalan Pangeran Mangkubumi, jalan Jenderal Sudirman, jalan AM Sangaji, dan jalan Diponegoro. 


Keberadaan Tugu jogja usianya sudah mencapai hampir 3 abad. Tugu ini memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Jogjakarta. Tugu ternyata juga menjadi salah satu poros imajiner pihak keraton Jogjakarta. Jika ditarik garis lurus dari selatan ke utara atau sebaliknya, maka akan ditemukan garis lurus yaitu laut selatan yang konon dikuasai oleh Kanjeng Ratu Kidul, Krapyak, Keraton Jogjakarta, Tugu, dan Gunung Merapi.

Baca Juga :
Inilah 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Harus Dikunjungi
Sejarah Asal Mula Jalan Malioboro di Yogyakarta

Bahkan Sultan sebagai penguasa Keraton Jogjakarta jika duduk di singgasana di sisi pinggir keraton, ia bisa memandang ia bisa melihat Gunung Merapi di sisi utara. Ikatan magis antara Laut Kidul, Keraton dan Gunung Merapi hingga saat ini dipercaya oleh warga Jogja. Oleh sebab itu budaya larungan selalu dilaksanakan pada bulan syuro di Laut Selatan maupun Gunung Merapi oleh pihak keraton. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwono I (Pendiri Keraton Jogjakarta) untuk memperingati perjuangan bersama-sama rakyat dalam melawan penjajah.

Sehingga menghasilkan Perjanjian Giyanti yang terjadi pada Kamis Kliwon Jumadilawal tahun 1680 atau 13 Februari 1755 yang membagi Mataram menjadi 2 wilayah Kesultanan yaitu Kesultanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Ngayokjakarto Hadiningrat. Dengan badan bangunan tiang berbentuk cilinder atau disebut gilik dan berbentuk bulat seperti bola atau golong pada puncaknya terbuat dari batu bata. Catatan waktu yang tepat untuk pembangunan tugu ini belum dapat ditemukan.

Akan tetapi menurut perkiraan para pakar sejarah, bangunan ini didirikan setahun setelah Perjanjian Giyanti dan Pangeran Mangkubumi sudah bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Kasultanan Ngayogjakarta. Pendapat ini didasarkan pada bangunan tugu yang didirikan di sebelah utara siti hinggil Keraton Jogjakarta atau 2,5 km keraton dan apabila ditarik garis lurus, tugu ini dapat berada di satu garis dengan keraton Jogjakarta.

Sehingga selain berfungsi sebagai tugu pemandangan, pada saat Sri Sultan duduk diatas singgasananya di Bangsal Manguntur Tangkil dan sebagai petunjuk bagi masyarakat yang akan menghadap Sultan. Tetapi sangat disayangkan, masyarakat sekarang belum pernah menyaksikan bentuk tugu Golog Gilig asli ciptaan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Karena pada hari Senin Wage Tanggal 4 Safar tahun 1796 atau 10 Juni 1867 Kota Jogjakarta diguncang gempa bumi yang sangat dasyat sehingga tugu tersebut roboh menjadi tiga bagian. Pada saat awal berdirinya bangunan ini secara tegas menggambarkan manunggaling kawulo gusti (semangat persatuan rakyat dengan penguasa) untuk melawan penjajah.

Bangunan tugu merupakan bentuk atau gambaran Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig. Bentuk tiangnya silinder atau gilig dan puncaknya berbentuk golong atau bulat. Oleh karena itulah mengapa Tugu tersbeut disebut Tugu Golong Gilig. Di awal pembangunannya Tugu Jogja saat pertama kali dibangun bentuknya berupa tiang silinder yang panjang dan mengerucut keatas. Di bagian bentuk dasarnya berupa pagar yang melingkar. Sedangkan pada bagian puncak bentuknya bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.

Kemudian pada tahun 1889 saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu, tugu itu kemudian diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat atau kepala dinas pekerjaan umum JWS van Brussel di bawah penguasaan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Lalu tugu baru itu diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada 3 Oktober 1889 atau 7 Safar 1819 tahun jawa. Oleh pemerintah Belanda tugu itu disebut De Witt Paal atau tugu putih. Ketinggian bangunan juga lebih rendah, hanya sekitar 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula.

Pada bulan November tahun 2012 Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menerima paku emas dan akan ditancapkan pada bagian puncak atau pucuk Tugu Pal Putih Jogjakarta yang berbentuk uliran dari kayu jati. Pemberian paku emas ini merupakan rangkaian renovasi penginggalan bersejarah yang dibuat pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono Ke VII tersebut. Sultan menerima paku emas dari kepala dinas kebudayaan Daerah Istimewa Yogjakarta GBPH Yudaningrat dan kemudian dipasang pada puncak.

Puncak Tugu Pal Putih Jogjakarta telah keropos sehingga harus diganti dengan kayu baru. Adapun bangunan ini telah berusia ratusan tahun. Sehingga sangat wajar jika saat ini sering ada perbaikan. Kayu pengganti puncak didatangkan dari Blora Jawa Tengah. Kayu tersebut adalah kayu jati berusia ratusan tahun dengan tinggi 1,5 meter dan diameter di bagian bawah 36 centimeter.

Demikianlah artikel kali ini tentang Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Yogyakarta. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan bagi anda khususnya bagi saya sendiri. Saran, Kritik dan masukan yang membangun sangat dibutuhkan untuk kemajuan blog ini. Silahkan isi bagian komentar bagi anda yang ingin berkomentar. Terima Kasih


Sumber Artikel : kitabicara.tv

Sejarah Asal Mula Jalan Malioboro di Yogyakarta

Halo sahabatku sekalian, apa kabar kalian hari ini, mudah-mudahan kalian senantiasa dalam keadaan sehat, murah rezeki dan dipanjangkan umurnya. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang artikel berjudul Sejarah Asal Mula Jalan Malioboro di Yogyakarta. Malioboro. Siapa yang tidak mengenalnya? Sebuah kawasan yang menjadi jantung kota atau simbol keberadaan kota Yogyakarta. Bahkan bagi orang luar daerah serasa belum ke Yogyakarta bila tak menginjakkan kaki di kawasan Malioboro.


Tapi dibalik itu ada sejarah panjang tersimpan bagaimana kawasan ini disebut Malioboro. Diawali akan keberadaan Keraton Yogyakarta yang berdiri sekitar abad 18 jalan Malioboro saat itu masih merupakan tanah tanpa nama.

Baca Juga :
Inilah 8 Situs Warisan Dunia UNESCO yang Harus Dikunjungi
Sejarah Tugu Jogja Yang Menjadi Landmark Kota Jogjakarta 

Seorang sejarawan Yogyakarta bernama Prof. Djoko Suryo menuturkan bahwa :

‘’Dulunya dari Pangurahan ke Tugu tidak ada toko-toko. Cuma ada pasar kemudian berdirilah Gedung Kepatihan dan selanjutnya cuma ada jalan. Mulai ramainya kawasan Malioboro ini diawali keberaan rel kereta api dan Stasiun Tugu. Dimana saat itu kereta api menjadi sentral alat transportasi utama. Selanjutnya hubungan daerah antara Jogja dengan luar Jogja menjadi ramai. Lama kelamaan Jogja menjadi kota yang baru dan otomatis menjadi kota modern. Banyak orang asing yang mulai berdatangan ke Jogja baik itu orang-orang Belanda maupun orang China. Orang-orang China kemudian mendirikan tempat usaha berupa toko-toko yang menambah ramai suasana kota Yogyakarta’’.

Hingga terbentuklah kota modern dengan tumbuh pesatnya pula usaha perhotelan di kawasan ini. Jalan itu dibuat untuk menghubungkan Keraton Yogyakarta dengan Tugu Golong Gilik yang membentuk garis imajiner lurus dengan Gunung Merapi. Kanan kirinyapun masih berupa sawah dan sebagian berupa perkampungan. Hingga akhirnya pada tahun 1912 Kerajaan Inggris dibawah pimpinan Raffles menyerang Kesultanan Yogyakarta yang saat itu diperintah Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Demi menggugah semangat pasukan Inggris melawan pasukan Yogyakarta kala itu Raffles menanamkan jiwa dan semangat perjuangan seorang pahlawan dalam Kerajaan Inggris bernama Don Curcil yang bergelar Duke of Malborough. Duke of Malborough merupakan panglima Kerajaan Inggris yang menaklukkan pasukan Kerajaan Spanyol dan Perancis dalam puluhan pertempuran. Keberanian dan kegemilangan peperangan Duke of Malborough itulah yang dipompakan kepada pasukan Kerajaan Inggris di Yogyakarta. Sejak itulah masyarakat Yogyakarta tidak asing dengan nama Malborough.

Seringnya pasukan Malborough melewati jalan yang tidak bernama di pusat kota yakni gedung residen dan benteng yang sekarang menjadi Istana Gedung Agung dan benteng vredeburg membuat masyarakat Yogyakarta lantas menamai jalan dengan nama jalan Malborough. 

Prof. Djoko Suryo menuturkan kembali bahwa :

‘’Lidah orang-orang jawa yang tidak bisa mengucapkan kata dalam bahasa Belanda, Inggris dan lain sebagainya membuat penyebutan nama Malborough bergeser menjadi Malioboro. Sehingga pengucapan ini lebih mudah bagi orang jawa dan memang disesuaikan dengan lidah orang jawa itu sendiri’’.

Penamaan secara spontan itu berlangsung terus hingga Belanda kembali menguasai Yogyakarta melalui Perjanjian London tahun 1824 dan berlanjut pasca Indonesia merdeka. Sebutan itupun bertahan hingga kini meski tak semua orang tahu tentang asal muasal nama kawasan ini dinamai Malioboro.

Demikianlah artikel kali ini yang membahas tentang Sejarah Asal Mula Jalan Malioboro di Yogyakarta. Semoga artikel ini bisa lebih menambah pengetahuan dan wawasan kita. Sampai berjumpa lagi di artikel-artikel selanjutnya yang tentunya lebih menarik. Terima kasih.

Kategori

Kategori