Showing posts with label Tempat Bersejarah. Show all posts
Showing posts with label Tempat Bersejarah. Show all posts

Pesona Kota Wali di Timur Pulau Jawa

Kabupaten Tuban merupakan salah satu titik penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sunan Bonang yang memiliki nama asli Syech Mahnum Ibrahim merupakan tokoh penting penyebaran Agama Islam di Tuban. Sekitar abad ke 16 Sunan Bonang Mulai Berdakwah di Tuban dan sekitarnya.

Image : flickr.com

Melalui media tembang atau lagu berisi ajaran Islam. Iringannya menggunakan musik pukul bonang. Melalui Pantai Boom di Tuban Agama Islam masuk ke Tuban. Pantai ini di masa Kerajaan Majapahit jadi pelabuhan terbesar di Tuban. Dari sinilah para saudagar Timur Tengah datang dan menyebarkan Agama Islam untuk wilayah Tuban dan sekitarnya.

Baca Juga :
Pesona Islam Masjid Agung Kauman di Semarang
Masjid Sunan Muria, Situs Sejarah Islam di Ketinggian 1600 Meter 

Tuban tumbuh menjadi salah satu destinasi jelajah sejarah Islam. Apalagi Sunan Bonang yang merupakan salah satu Wali Songo juga dimakamkan disini. Bersebelahan dengan kawasan makam Sunan Bonang, berdiri kokoh masjid indah nan megah bernama Masjid Agung Tuban. Atap warna warni jadi ciri khas gaya bangunan masjid ini. Corak ini mirip dengan yang ada di India ataupun timur tengah.

Masjid ini merupakan masjid yang sangat bersejarah khususnya bagi warga muslim di Tuban Jawa Timur. Masjid ini terletak tepat di jantung Kota Tuban persisnya berada tepat di depan alun-aluk Kota Tuban. Tak hanya menyimpan sejarah yang panjang, masjid ini mempunyai keunikan yang berhasil menarik perhatian pengunjung. Atapnya yang berwarna cerah serta perpaduan arsitekturnya.

Bagian luar masjid diadopsi dari gaya masjid Iran, sedangkan interiornya dari masjid Cordoba Spanyol yang khas dengan lengkung-lengkungnya. Dibangun pada abad ke 15, bangunan ini sudah dirombak sebanyak tiga kali dan perombakan terakhir dilakukan pada 2004. Warna warni yang ada di masjid ini bukan tanpa makna, melainkan menjadi simbol Rukun Islam dan Rukun Iman.

Gaya arsitektur masjid yang sudah modern tetap tak meninggalkan bagian-bagian yang dibangun sejak masjid berdiri. Pintu utama masjid yang terbuat dari kayu dan berhiaskan ukiran khas Jawa serta jendela besi ini. Memasuki ruang sholat utama tampilkan gaya khas nusantara juga tercermin pada mimbar yang terbuat dari kayu berukir.

Luas bangunan masjid ini sebesar 3724 meter persegi, berdiri di atas tanah seluas 5246 meter persegi. Tempat ibadah ini tidak pernah sepi dari jamaahnya, mulai dari shalat atau membaca Al-Qur’an kala menunggu saat azan tiba. Salah satu kegiatan rutin yang lainnya adalah pembelajaran Al-Qur’an yang diselenggarakan setiap sore usai shalat Ashar dan anak-anak usia 6 hingga 12 tahun adalah para pesertanya.

Keelokan arsitektur masjid ini berhasil menarik minat peziarah dari luar kota. Banyaknya kegiatan yang rutin digelar di Masjid Agung Tuban, hanyalah salah satu cara untuk menarik minat umas muslim untuk rajin beribadah di masjid. Tak hanya megah bangunannya, Masjid Agung Tuban ini juga menjadi simbol semangat bagi umat muslim tuban dalam menjalankan ajaran Islam di Bumi.


Sumber : Net.

 

Kota Barus, Sejarah Yang Hilang

Barus, sebuah kota kecil dan terpencil di pesisir barat pantai Sumatera Utara. Barus berjarak 414 kilometer atau sekitar 12 jam perjalanan darat dari Medan Sumatera Utara. Barus adalah kota tertua di Nusantara. Tidak diketahui asal mula Barus serta penduduk aslinya. Seluruh catatan dan bukti sejarah yang ada menunjukkan bahwa masyarakat lokal penghuni Barus masa lalu adalah para pendatang dari Batak, Aceh, Melayu dan Minang.

Image : aswilblog.files.wordpress.com

Pada periode 627 Masehi atau sekitar tahun pertama hijriah, bangsa Arab mulai mengenalkan Islam di Barus. Saat Islam tiba di Barus, komunitas masyarakat Barus adalah penyembah berhala. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri. Misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 Masehi dalam bukunya silsilatus tawarih. Ajaran Islam yang pertama kali diperkanalkan di Barus hanya jalan Tauhid dengan bacaan dua kalimat syahadat.

Beberapa ayat Al-Quran yang telah diajarkan di Barus adalah surat-surat Tauhid yang diturunkan di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah pada tahun 621 Masehi. Di Barus inilah untuk pertama kalinya Islam dikenal oleh bangsa-bangsa di Nusantara. Ajaran Islam yang diajarkan belum sampai syariat, karena pada saat komunitas Islam pertama ada di Barus ini, Rasulullah belum menerima perintah shalat dan juta puasa.

Sejarah Islam di Barus dan keberadaan raja-raja Barus masih harus diteliti pembuktiannya. Hingga kini sisa-sisa sejarah tentang Kerajaan Barus belum dapat ditemukan para arkeolog maupun sejarawan yang ada. Belum ada prasasti yang menemukan bahwa dulu Barus merupakan kota perdagangan yang sibuk. Seperti halnya prasasti-prasasti pada kerajaan Malaka, Aceh, Sriwijaya dan lain-lainnya yang memang menjadi sebuah bukti kuat keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut.

Besar kemungkinan pada masa kesultanan Barus, kontrol penguasa terhadap kota-kotanya kurang. Nama Barus mengalami pasang surut dalam sejarah nusantara. Berdasarkan catatan sejarah tiga kemungkinan musnahnya kejayaan Barus disebabkan oleh alam, dampak peperangan dan karena adanya sistem perdagangan monopoli.


Sumber : Seputar Indonesia, RCTI

Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto

Museum Goedan Ransoem, awalnya kawasan dapur umum yang dibangun pada tahun 1918 oleh Kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat tambak. Dahulu kawasan ini terdiri dari dapur umum, sistem generator, pabrik es, gudang es, gudang pangan, dan rumah potong hewan. Museum ini diresmikan pada tanggal 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla.


RSUD Sawahlunto, dulu kawasan dibangun pada tahun 1915. Bangunan ini merupakan rumah sakit terbesar  di Sumatera bagian tengah pada saat itu. Kawasan pusat kota tua terdiri dari Gereja Santa Barbara, Sekolah Eropa Santa Lusia, Hotel Ombilin, Gedung Koperasi Onsblang, Teksin Kek, Kantor Pegadaian, Gedung Sociated, dan Perumahan Ir. Tambang Belanda, Bengkel Mobil Tambang, Perumahan Buruh Kontrak Tanah Lapak.

Kantor PT Bukit Asam (Persero) dulu lebih dikenal Kantor Ombilin Mijnan, dibangun 1916. Kawasan Saringan atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Zeb Huis merupakan pusat pengolahan batu bara. Disini juga terdapat bengkel sebagai penunjang aktivitas penambangan batu bara. Lubang Tambang Mbah Soero yang dulu juga lebih dikenal dengan nama Lubang Tambang Soegar dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898 yang berada di tengah kawasan perkampungan buruh tangsi baru.

Museum Kereta Api dulu merupakan stasiun kereta api yang dibangun pada tahun 1912 oleh Kolonial Belanda. Sekarang menjadi museum kereta api kedua di Indonesia setelah Ambarawa. Diresmikan 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla. Masjid Agung Nurul Iman, dahulunya merupakan pusat penghasil listrik untuk aktivitas penambangan batubara. Dibangun pada tahun 1894, bangunan ini memiliki menara dengan ketinggian 85 meter yang sekaran befungsi sebagai menara Masjid Agung.

Rumah dinas walikota Sawahlunto, dahulunya merupakan kediaman asli Asisten Resident Tanah Datar. Disamping rumah dinas Walikota terdapat dua bangunan yang dahulunya merupakan kediaman pejabat kejaksaan. Terowongan Kereta Api atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lubang Kalam. Terowongan ini menghubungkan Muaro Kelaban dengan Sawahlunto. Yang memiliki panjang 828 meter. Kompleks pemakaman Belanda atau yang dulu lebih dikenal dengan Kerkof yang terletak di daerah lubang panjang. Total makam yang ada disini yaitu 94 makam.






Kota Lama Semarang

Pertengahan abad ke 18, Semarang terkenal dengan kota modern yang menguasai perdagangan dunia. Jejak kota kosmopolitan masa lalu itu masih terasa dengan bangunan beraksitektur Eropa. Zaman dahulu kawasan tersebut terkenal dengan nama The Little Nederland atau Belanda Kecil. Kejayaan masa lalu yang pernah singgah 4 abad lalu itu meninggalkan sebuah kesan yang mendalam tentang sejarah masa lalu melalui bangunan indahnya.

Image : wikipedia.org

Kini wajah Venesia dari timur itu berangsung merana dan terancam hilang. Wajah bangunan megah itu berganti rupa dengan dinding-dinding yang semakin kusam tak terawat. Sejumlah bangunan terancam roboh dibiarkan tak terurus oleh pemiliknya. Dari sekitar 250 bangunan di kota lama, sebanyak 105 bangunan yang masuk dalam bangunan cagar budaya. Terdapat sekitar 15 bangunan penting yang bersejarah hilang begitu saja.

Baca Juga :
Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan
Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi

Usaha pelestarian dan perawatan sepertinya masih menjadi kendala terbesar. Revitalisasi yang direncanakan pemerintah seolah terhenti tanpa aksi. Namun bagi sebagian orang, kota lama selalu memberikan inspirasi dan gairah. Salah satunya adalah geliat sejumlah komunitas untuk menghidupkan kembali kota yang lama mati.

Menurut Wawan salah seorang penggiat Komunitas Kota Lama Semarang mentakan “Saat ini di kota lama sendiri sudah terdapat berbagai macam aktivitas kegiatan. Salah satunya dari teman-teman penggiat kota lama yang mempunyai agenda setiap bulan berupa kletian kota lama dari orat oret dan komunitas seni rupanya kemudian ada juga kegiatan besar setiap tahun. Saya disini sebagai perwakilan dari teman-teman komunitas di kota lama merasa tertantang.

Dimana saya sebagai warga semarang merasakan bahwa saya sedari kecil melihat kota lama ini terlalu lama tidur panjang. Untuk itu bersama teman-teman komunitas, kami berharap kota lama bisa hidup lagi. Dengan berbagai macam aktivitas di kota Semarang, maka kota lama dijadikan sebuah ikon baru Semarang. Namun sayangnya saat ini para pemilik dari bangunan-bangunan lama sangat tidak care. Untuk itu kami dari komunitas penggiat kegiatan di kota lama mempunyai suatu pandangan yang berbeda dengan pemerintah.

Dalam arti disini kami ikut mengampanyekan dan memiliki visi dan misi. Kami ingin menunjukkan bahwa kota lama juga sangat menarik untuk dinikmati. Disitu ada sebuah cafe yang dinamakan dengan Cafe Noeri yang baru sekitar satu tahun yang lalu dibuka. Didalamnya terdapat segala sesuatu yang unik dan menarik. Dimana isinya menyesuaikan dengan keberadaan bangunan di kota lama.

Keberadaan cefe ini tidaklah mengubah bentuk bangunan aslinya, hanya merawatnya dan mendesain ulang asesories yang ada di dalamnya. Karena menurut kami, sebuah bangunan tua jika tidak dirubah bentuknya namun hanya dirubah fungsinya, maka bangunan tersebut cenderung akan bisa menarik orang untuk masuk ke dalamnya tanpa rasa takut”. Cafe Noeri menjadi sebuah oase bagi wisatawan untuk sekedar duduk atau merasakan atmosfer masa lalu.


Sumber : Harian Kompas 


Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan

Tidak sekedar menyandang Kota Pahlawan, Kota Pahlawan Surabaya menyimpan sejarah perjuangan panjang dibaliknya. Hingga kini semangat pahlawan menjadi bagian tak terpisahkan dari warga dan kehidupan kota ini. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di nusantara. Pada usianya yang ke 270 tahun, Surabaya masih dan terus menjadi rumahnya bagi tak kurang 3 juta penghuninya.

Image : flickr.com

Kota ini juga tak henti torehkan deretan prestasi. Pemerintah masa depan terbaik se Asia Pasifik tahun 2013, kota ramah pejalan kaki, dan kota seribu taman baru sebagian diantaranya. Namun predikat yang senantiasa melekat erat, Surabaya adalah Kota Pahlawan. Predikat Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan berawal dari pertempuran besar pada tanggal 19 September 1945.

Baca Juga :
Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi
Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta

Sejarah tersebut bermula dari sebuah Hotel yang bernama Hotel Yamato yang sekarang berubah nama menjadi Hotel Majapahit. Berdiri sejak tahun 1910 tepat di jantung kota, pemilik awalnya pedagang asal Armenia Lucas Martin Sarkis, perancangnya seorang arsitek asal Inggris James Afprey. Melewati serangkaian cerita kota, sekaligus menjadi saksi sejarah sebuah bangsa, Yamato, Oranje, dan Majapahit masa kini senantiasa kokoh berdiri.

Masih di tahun yang sama yaitu 1945 pasca kemerdekaan, bendera Belanda berkibar di tiap sudut Kota Surabaya dan salah satunya di puncak Hotel Yamato. Kondisi tersebut memicu kemarahan arek-arek Suroboyo (anak-anak Surabaya) dan dengan tekad mempertahankan Indonesia. Seorang pemuda berani keluar dari kerumunan dan memanjat tiang setinggi 12 meter untuk merobek warna biru bendera Belanda.

Dan akhirnya Sang Saka Merah Putih tetap berkibar di Kota Surabaya. Hotel Majapahit bukan satu-satunya fragmen dalam kisah patriotisme kota ini. Sebuah bangunan megah di Jalan Tunjungan yang kini beralih fungsi menjadi salah satu sentra bergulirnya roda ekonomi juga menyimpan sejuta histori. Salah satu tempat perbelanjaan megah berdiri di Jalan Tunjungan yaitu Tunjungan City yang menjadi pusat perbelanjaan elektronik di Kota Surabaya.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa gedung Tunjungan City dahulu merupakan benteng untuk menahan serangan sekutu dari arah utara di tahun 1945. Sejatinya, setiap langkah, setiap ruas jalan dan setiap sudut Surabaya adalah sejarah. Tapi ada satu tempat yang merangkumkan semuanya dalam diorama-diorama juga mendokumentasi beragam prasasti, berbagai bukti serta menyimpan tekad dan semangat.

Puncak pertempuran besar terjadi 10 November 1945, salah satu tempatnya berada di sebuah bentang Jembatan Merah yang berada di pusat Kota Surabaya. Seorang Sejarawan Imam Widodo menorehkan sepenggal peristiwa berdarah ini di dalam bukunya. Kini 10 November di Kota Surabaya telah menjadi sejarah panjang membuat bukti kemerdekaan dan gelora perjuangan jadi bagian tak terpisahkan pada sendi kehidupan setiap warga.

Dan para penghuni kota punya sejuta cara mengenang perjuangan leluhur sekaligus pahlawan mereka. Salah satunya menghidupkan semangat juang dalam pertunjukan seni. Bukan sekedar unjuk gigi atau pamer kebolehan, melainkan berlandas kesadaran bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mengharga jasa pahlawan serta senantiasa ingat pada akar sejarahnya.


Sumber : Net.TV

Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi

Meski sumber alamnya tidak begitu banyak dan wilayahnya juga tidak begitu besar, namun Cimahi menjadi salah satu kawasan strategis dan memiliki potensi untuk menjadi kota maju. Terbukti kota ini pernah dijadikan basis militer terbesar dan juga berkembang menjadi kota otonom. Perkembangan tata kota dan pembangunan yang pesat merupakan suatu bukti perjalanan panjang perubahan yang terjadi pada suatu daerah.

Image : panoramio.com

Seperti Kota Cimahi, salah satu daerah di kawasan Bandung yang memiliki luas 48.000 kilometer persegi ini. Nama Cimahi berasal dari kata Cai dan Mahi yang berarti air yang cukup. Dalam hal ini dimaknai dengan air sungai yang mampu mencukupi hajat hidup masyarakat di sekitarnya. Di masa penjajahan, wilayah pegunungan dan lingkungan yang bersih seperti Cimahi kala itu menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga :
Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta
Sejarah Kota Mekkah

Bahkan Cimahi juga dipersiapkan untuk menjadi basis militer terbesar di tanah Hindia. Berbicara Cimahi tidak bisa lepas dari unsur militer. Sejumlah pembangunan sarana dan prasarana dilakukan untuk mendukung pertahanan Hindia Belanda kala itu. Mulai dari sarana transportasi dengan dibangunnnya jalur kereta api serta stasiun kereta api yang didirakan tahun 1884.

Selain memudahkan mobilitas warga saat  itu, jalur kereta api tersebut juga dianggap strategis karena menghubungkan kawasan Batavia dan Bandung. Bahkan hingga menjelang kemerdekaan rel kereta menjadi jalur pengiriman pasukan serta senjata dari pabriknya di Kiara Condong menuju gudang penyimpanan senjata di Cimahi sebelum disebar ke kawasan-kawasan pertempuran.

Sarana yang masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik hingga saat ini adalah rumah sakit. Rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Dustira yang dulunya dikenal dengan nama Militer Hospital. Dulu rumah sakit Dustira dibangun khusus para prajurit tentara Belanda yang sakit dan luka dalam pertempuran.

Di era kemerdekaan wilayah Cimahi mengalami beberapa kali perubahan sistem pemerintahan. Mulai dari menjadi bagian Kabupaten Bandung sebagai daerah kewedanaan yang terdiri dari lima kecamatan yaitu kecamatan Cimahi, Padalarang, Batujajar, Cipatat dan Cisarua. Pada tahun 1976 statusnya ditingkatkan menjadi kota administratif dan Cimahi menjadi kota ketiga di Indonesia setelah Bitung Sulawesi Utara dan Kota Banjar Kalimantan Selatan. Hal ini dikarenakan Cimahi memiliki beberapa potensi yang justru harus diperhatikan.

Selama 26 tahun menjadi kota administratif Cimahi menjadi salah satu wilayah penyokong pendapatan Kabupaten Bandung, namun pembangunan saat itu justru terasa minim. Hingga akhirnya masyarakat mendorong untuk dijadikannya sebuah daerah otonom. Hasil dari berbagai kajian yang dilakukan oleh pemerintah pusat, tahun 2001 Cimahi ditetapkan sebagai kota otonomi hingga saat ini.

Kota Cimahi yang dihuni 586.586 jiwa yang tersebar di 3 kecamatan serta 15 kelurahan kini dapat menentukan kebijakan sesuai kondisi daerah serta mengatur peruntukan dana di wilayah secara mandiri. Usaha dalam meningkatkan perkembangan kota kearah yang lebih baik dan maju tidak lantas budaya dan adat istiadat ditinggalkan. Salah satunya desa adat Cireundeu yang masih bertahan sejak tahun 1918.

Kepercayaan, budaya dan tradisi warisan leluhur masih terus dijalankan warga desa ada Cireundeu hingga saat ini. Perkembangan suatu kota bukan hanya semata-mata merubah status ataupun penampilan luarnya saja, tetapi semangat menjaga dan melestarikan budaya yang ada juga menjadi penting dalam mencapai suatu perubahan.


Sumber : Net Jabar

Kategori

Kategori