Showing posts with label Pertunjukan. Show all posts
Showing posts with label Pertunjukan. Show all posts

Mengenal Tarian Magis dari Papua

Siapa yang tidak mengenal Papua? Sebuah pulau yang dulunya bernama Irian Jaya ini memang sangat unik. Tidak hanya soal ras sukunya, namun juga tentang adat istiadatnya. Dahulu kala rakyat asli bertahan dengan saling berperang.

Image : pixabay.com

Perang bagi penduduk asli Papua bukan hanya tentang bertahan hidup, namun juga tentang kepercayaan. Setelah pembangunan masuk ke Bumi Cendrawasih, perlahan perang hanya menjadi simbol saja. Bahkan saat ini perang telah berevolusi menjadi sebuah tarian adat.

Baca Juga :
Tarian Martumba dari Tapanuli Tengah
Mengenal Tari Didong 

Tentunya di telinga kita tidak asing lagi dengan sebuah tari yang cukup terkenal di Indonesia yakni Tari Perang. Kesenian Tari Perang biasanya tumbuh di desa-desa tradisional. Salah satunya adalah salah satu desa yang ada di Kabupaten Wamena.

Biasanya kesenian Tari Perang diadakan sebagai upacara penyambutan tamu. Inilah tarian yang berasal dari Papua Barat. Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Tarian ini biasanya dibawakan oleh masyarakat pegunungan dan digelar ketika kepala suku memerintahkan untuk berperang.

Warga Papua menganggap tarian ini mampu mengobarkan semangat. Tari perang dari masyarakat Papua Barat ini mengarah pada seni pertunjukan periode prasejarah. Masyarakat Papua hingga kini tetap menjaga dan melestarikan tarian ini selain sebagai penghormatan terhadap nenek moyang juga sebagai harga diri sebuah suku.

Kelengkapan dari Tari Perang antara lain tombak, assesoris berupa topi dari bulu burung, dan sepasang taring dari taring babi. Penggunaan assesories berupa taring pada hidung sebenarnya sakit, karena hal ini diakusi sendiri oleh sang kepala suku setempat. Namun di menuturkan bahwa lama kelamaan rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Di Papua tari bukan hanya merupakan budaya, namun tarian juga sebuah ritual yang tentunya merupakan magis bagi mereka. Bagi mereka inilah cara untuk meluapkan kegembiraan, kebahagiaan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.



Sumber : CNN Indonesia

Tarian Martumba dari Tapanuli Tengah

Halo Sahabatku sekalian, bagaimana kabar kalian hari ini? Baik bukan. Seni dan budaya marupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan lagi dari masyarakat kita yaitu masyarakat Indonesia. Hadirnya seni tradisional adalah merupakan wujud dari refleksi sikap, sifat, pengalaman hidup dan perilaku sekelompok masyarakat. Tarian tradisional menunjukkan sebuah kreatifitas dari masyarakat ataupun kelompok-kelompok orang tertentu yang berada di suatu daerah.Pada kesempatan kali ini saya akan membahas sebuah kesenian tari  yang berasal dari Sumatera Utara yang diberi nama Tarian Martumba. Martumba adalah nama sebuah tarian dari salah satu suku di Sumatera Utara yaitu masyarakat Batak Toba.




Baca Juga :
Mengenal Tari Didong
Mengenal Tari Saman Dari Nanggroe Aceh Darussalam

Tarian Martumba menggambarkan alat atau media komunikasi yang menjadi gambaran perasaan suka cita dari masyarakatnya. Karena tarian ini merupakan media komunikasi, maka gerakan dan nyanyian dalam tarian ini berisikan tentang pesan-pesan alam dan juga lingkungan yang ada disekitarnya. Di Sumatera Utara ada sebuah tari daerah batak yang sangat terkenal di Indonesia yaitu tari Tor-Tor. Namun disamping tari tor-tor ini, ada juga jenis-jenis atau macam-macam tarian lagi yang belum dikenal di masyarakat Indonesia. Bila berbicara tentang tari martumba, maka tarian ini memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan tarian tor-tor Batak dan Batak Toba. Martumba merupakan jenis tarian yang dalam pementasannya diiringi dengan gerakan dan nyanyian.

Dalam tarian ini nyanyiannya berisi atau mengandung pesan tentang kekayaan alam dan lingkungan. Biasanya Martumba diperagakan oleh anak-anak dan juga muda mudi untuk mengekspresikan kegembiraan mereka. Di sekolah – sekolah, ternyata tarian Martumba masih diajarkan oleh guru-guru mereka di dalam pelajaran kesenian. Sejak usia dini anak-anak sudah diperkenalkan dengan tarian Tumba dengan filosofi-filosifi yang terkandung di dalamnya. Kesenian ini sudah lama ada sejak dahulu kala sehingga tarian ini secara turun-menurun diwariskan kepada anak cucu mereka karena mengandung nilai filosofi yang sangat kuat.

Kesenian tari yang berasal dari Batak Toba ini biasanya dilakukan oleh anak-anak pada waktu malam hari khususnya pada saat terjadinya bulan purnama. Pada awalnya sebenarnya musim Martumba dipegunakan untuk meminta hujan lewat nyanyian. Dalam prakteknya tarian Martumba diawali dengan tomba lalu nyanyian. Para anak-anak yang bernyanyi dan menari memperagakan tarian ini dengan penuh riang gembira. Di masa-masa seperti sekarang ini, keberadaan tari Martumba menjadi salah satu hiburan bagi masyarakat. Bahkan sekarang ini Martumba tidak hanya dilaksanakan pada waktu malam hari dan semata-mata untuk hiburan, namun juga pada kegiatan – kegiatan besar pada perayaan tertentu, martumba juga diselenggarakan bahkan sampai diperlombakan.

Tarian tumba merupakan identitas dari masyarakat Batak Toba terutama yang berdomisili di Pahae. Tumba merpakan warisan dari para leluhur masyarakat Batak Toba. Ternyata jika digali lebih jauh ternyata masyarakat Sumatera Utara memiliki khasanah yang masih banyak belum dikenal oleh masyarakat kita sendiri. Perkenalan kita terhadap tarian Tumba ini membuat kita sadar bahwa betapa luar biasa para leluhur kita dalam menciptakan karya kreatif yang disalurkan bentuk tarian tradisional.

Mengenal Tari Didong

Didong merupakan salah satu kesenian rakyat Gayo. Di dalam kesenian ini terdapat berbagai perpaduan antara unsur vocal, tari dan sastra. Tari Didong sudah ada sejak zaman dahulu, yaitu dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Ada beberapa seniman yang peduli akan kelestarian Didong ini. Salah satu seniman yang peduli tersebut adalah Abdul Kadir To’et. Semenjak muda beliau memang sudah sangat peduli dengan kesenian ini. Kesenian Didong cukup memiliki penggemar di dalam masyarakat. Ada dua kelompok masyarakat yang sangat menggemari Didong yaitu masyarakat Bener Meriah dan Takengon.


1. Makna Tari Didong

Secara makna memang belum ada yang bisa merinci secara baku makna dari Tari Didong. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kata ‘’didong’’ itu lebih mendekati ke kata ‘’denang’’ atau ‘’donang’’. Jika diartikan maka kedua kata tadi bermakna ‘’nyanyian sambil bekerja atau menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian’’. Namun selain itu ada pendapat lain tentang makma Didong, yaitu berasal dari kata ‘’din’’ dan ‘’dong’’. Disini ‘’din’’ memiliki arti agama dan ‘’dong’’ memiliki arti dakwah.

Baca Juga :
Mengenal Tari Saman Dari Nanggroe Aceh Darussalam
Tari Jaipong Sebagai Tari Tradisi Asli Sunda 

2. Fungsi Tari Didong

Awalnya kesenian didong ini hanya digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa zaman dahulu media untuk menyebarkan agama islam sangatlah terbatas. Salah satu fasilitas yang sangat ampuh untuk menyebarkan agama islam adalah dengan mengadakan pertunjukan seni. Tentu kita ingat kesenian di Jawa yaitu Wayang yang dipakai oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Sebutan untuk senimann didong adalah ceh didong. Agar pertunjukan tari didong ini tidak cuma sekedar pertunjukan biasa, maka peran seorang ceh didong sangatlah penting agar seni ini bisa memberi pesan kepada penontonnya.

Disini para ceh didong tidak semata-mata hanya menyampaikan tutur terhadap penonton yang dipoles dengan nilai-nilai estetika, akan tetapi para ceh didong memiliki tugas agar bisa menjadikan masyarakat pendengarnya bisa memaknai hidup. Maksudnya memaknai hidup disini adalah hidup sesuai dengan realitas dari kehidupan para Nabi dan para tokoh Islam. Di dalam pertunjukan Tari Didong terdapat nilai-nilai yang religius, nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai keindahn dan lain-lain. Maka dari itu, di dalam penyajian Didong para ceh tidaklah cuma dituntut untuk bisa menguasai cerita-cerita yang religius tetapi juga dituntut untuk mampu bersyair. Selain itu juga para ceh juga harus mempunyai suara yang indah dan merdu serta dia memiliki tindak tanduk dan perilaku yang baik.

Singkat kata, seorang seniman sejati seperti ceh ini adalah salah satu seniman yang mempunyai banyak sekali kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut menyangkut segala aspek yang memiliki kaitan dengan fungsinya untuk bisa menyebar luaskan ajaran Agama Islam. Tari Didong pada saat itu hampir senantiasa turut dipentaskan pada perayaan hari-hari besar Agama Islam. 

3. Perkembangan Tari Didong

A. Penari Didong Pada Masa Hindia Belanda


Di dalam perkembangannya, Tari Didong tidak cuma dipertunjukkan pada saat datangnya hari-hari besar Agama Islam saja, tetapi juga di dalam penyelenggaraan upacara adat. Contoh dari upacara adat antara lain khitanan, perkawinan, panen raya, mendirikan rumah dan penyambutan tamu dsb. Biasanya para pe-didong di dalam pementasannya memakai tema yang disesuaikan dengan jenis upacara yang sedang berlangsung. Misalnya pada penyelenggaraan upacara perkawinan, maka disana akan disampaikan teka-teki yang seputar aturan adat perkawinan setempat. Sehingga seorang pe-didong wajib untuk menguasai dengan mendalam seputar adat perkawinan yang berlaku di masyarakat. Diharapkan dengan menggunakan cara ini maka masyarakat akan bertambah pengetahuannya tentang adat istiadat masyarakatnya dan supaya bisa terus dilestarikan. Para ceh akan mencari nilai-nilai yang hampir punah untuk dikolaborasikan kedalam kesenian didong.

Setelah Tentara Jepang masuk ke Indonesia, maka penampilan dari kesenian Didong mengalami perubahan. Kerasnya pemerintahan pada masa Penjajahan Jepang mengakibatkan kesenian Tari Didong ini menjadi porak-poranda. Di saat Jepang berkuasa, Kesenian Didong hanya digunakan untuk sarana hiburan bagi para tentara Jepang yang menguasai tanah Gayo. Persoalan ini justru membuat masyarakat Gayo terinspirasi untuk mengembangkan Didong. Yang awalnya dulu hanya berfokus kepada hal-hal yang religius dan adat istiadat, namun lambat laun berkembang ke arah permasalahan sosial dengan disisipkan simbol-simbol protes kepada pemerintahan Jepang kala itu. Setelah datang masa proklamasi, maka seni pertunjukan Tari Didong dipakai untuk sarana bagi pemerintah Indonesia di dalam menjembatani informasi sampai ke pelosok desa.

Dalam hal ini untuk menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan juga semangat bela negara. Disamping itu, Didong juga dipakai untuk mendorong semangat bergotong-royong, khususnya untuk pencarian dana pembangunan sekolah, masjid, madrasah, bahkan juga pembangunan jembatan. Tetapi sekitar tahun 1950-an saat pemberontakan DI/TII bergejolak maka mengakibatkan kesenian ini terhenti karena pemberontak DI/TII melarang adanya acara ini. Karena pelarangan ini, maka kesenian Didong diganti dengan kesenian yang baru yang dinamakan Saer, diamana bentuknya hampir sama dengan kesenian Didong. Yang membedakan kesenian Didong dengan kesenian Saer bisa dilihat dari bentuk unsur gerak dan tari dan juga tidak dibolehkannya tepok tangan dalam Saer.

Baru-baru ini telah muncul kembali Didong yang memakai lirik-lirik yang hampir mirip saat kekuasaan Jepang, yaitu berupa protes atau anti kekerasan. Perbedaannya, protes yang dialamatkan kepada pemerintah yang selama ini menerapkan Provinsi Aceh sebagai Daerah Operasi Militer yang pada akhirnya membuat sengsara masyarakat. Gerakan protes anti kekerasan sebetulnya tidak hanya terjadi terhadap kesenian Tari Didong, akan tetapi juga pada kesenian-kesenian yang lainnya yang ada di Provinsi Aceh.

B. Pemain dan Peralatan Tari Didong

Di dalam kesenian Didong, biasanya satu kelompok terdiri atas para “Ceh” serta anggota lainnya yang dinamakan dengan “Penunung”. Untuk jumlahnya sendiri bisa mencapai 30 orang, yang mana disana terdiri dari 4 – 5 orang ceh dan sisanya penunung. Ceh merupakan orang yang diwajibkan mempunyai bakat yang lengkap dan memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Seorang Ceh harus juga bisa membuat puisi-puisi dan bisa menyanyi. Dalam penguasaan lagu-lagu, maka seorang Ceh juga harus memiliki kreativitas. Sebab irama dalam lagu-lagu tersebut belum tentu bisa cocok dengan berbagai karya sastra yang berbeda.

Umumnya para anggota kelompok Tari Didong ini terdiri atas laki-laki dewasa. Tapi, akhir-akhir ini sudah bergeser menjadi perempuan-perempuan dewasa. Selain itu juga ada juga dari kalangan para remaja baik itu laki-laki semua, perempuan semua maupun campuran dari keduanya. Biasanya kalau didalam kelompok campuran, peran perempuan hanya sebagai seorang Ceh. Zaman dahulu untuk peralatan yang dipakai menggunakan bantal dengan cara ditepuk dan juga menggunakan tangan dengan cara tepukan tangan para pemainnya. Akan tetapi pada perkembangannya, penggunaan alat musik sudah mulai ditambahkan, yaitu berupa harmonika, seruling dan alat-alat musik yang lainnya.

C. Pementasan Tari Didong

Untuk pementasan tari Didong sendiri ditandai dengan tampilnya dua kelompok (Didong Jalu) pada arena pertandingan. Dimana disitu terdapat juga tenda ataupun ada juga yang menggunakan tempat terbuka untuk pementasannya. Kelompok yang sedang bertanding semalam suntuk akan saling mendengarkan teka-teki serta saling manjawab satu sama lain. Disini para seniman yang terjun disitu akan bergantian saling membalas ‘’serangan’’ yang berupa lirik-lirik yang yang diucapkan oleh lawannya. Liriknya bertemakan tentang seputar pendidikan, pesan-pesan pemerintah (saat zaman orba), keluarga berencana, keindahan alam ataupun mengeluarkan kritik tentang kelemahan-kelemahan, dan juga kerancuan yang sedang ada di dalam masyarakat.

Jawaban-jawaban yang disampaikan maka akan dinilai oleh para juri yang ada. Para juri ini biasanya beranggotakan para masyarakat yang secara umum sudah memahami tentang seputar Tarian Didong dan sudah mendalaminya. Demikianlah artikel kita kali ini yang bertemakan Mengenal Tari Didong. Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan budaya yang ada di Indonesia. Sampai bertemu lagi di artikel-artikel berikutnya yang tentunya lebih menarik. Saran dan kritik yang membangun saya harapkan supaya blog ini bisa terus eksis di Indonesia. Salam.



Mengenal Tari Saman Dari Nanggroe Aceh Darussalam

Tari Saman merupakan tarian dari provinsi Nanggre Aceh Darussalam tepatnya Suku Gayo yang biasanya selalu diadakan saat merayakan dan memperingati peristiwa-peristiwa penting didalam masyarakat. Syair yang dipakai di dalam tari saman adalah memakai bahasa Gayo. Disamping untuk penyelenggaraan acara adat, Tari Saman sering juga diselenggarakan pada saat masyarakat merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menurut sejarah dan beberapa literatur menyebutkan bahwa tari saman itu didirikan dan dikembangkan oleh seorang ulama bernama Syekh Saman. Dia adalah ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara.

Baca Juga :
Mengenal Tari Didong
Tari Jaipong Sebagai Tari Tradisi Asli Sunda

UNESCO menetapkan Tari Saman sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia. Penetapan status Tari Saman ini dikeluarkan oleh UNESCO di Bali. Yaitu pada sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tanggal 24 November 2011.

1. Makna dan Fungsi Tari Saman

Di dalam Tari Saman terdapat pesan-pesan (dakwah) yang menjadi salah satu media di dalam penyebaran Agama Islam. Di dalam tarian ini terdapat cerminan tentang keagamaan, pendidikan, kekompakan, sopan santun, kebersamaan dan kepahlawanan. Sebelum acara Tari Saman dimulai, biasanya didahului oleh pembukaan atau mukaddimah. Mukaddimah tersebut dibawakan oleh pemuka adat ataupun orang tuah cerdik pandai yang fungsinya sebaga perwakilan dari masyarakat setempat. Pemuka agama tadi memberikan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan berguna kepada penonton maupun pemain. Dalam tari saman terdapat iringan lagu dan syair yang pengungkapannya dilakukan secara bersama-sama dan berkesinambungan.

Para pemainnya terdiri dari anak-anak muda laki-laki yang menggunakan pakaian adat. Di dalam penyajian Tarian Saman kadang-kadang ada yang dipertandingkan dan dipentaskan. Biasanya pertandingannya dilakukan antar group dengan gropu sepangkalan atau dua group. Untuk penilaian umumnya dititikberatkan pada kemampuan masing-masing group. Dimana tari, lagu (syair) dan gerak diikuti oleh masing-masing group yang disajikan oleh pihak lawan.

2. Paduan Suara Dalam Tari Saman

Biasanya di dalam pertunjukan Tari Saman tidak menggunakan iring-iringan alat musik. Untuk mengiringi Tari Saman menggunakan suara dari para penari dan juga tepuk tangan dari mereka. Suara dan tepuk tangan ini dikombinasikan dengan memukul dada serta pangkal paha. Ini sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai penjuru arah. Pemimpin dari tarian ini disebut syekh yang merupakan pemandu Tari Saman. Tarian ini juga menuntut ketepatan waktu dan keseragaman formasi di dalam gerakan yang disajikan.

Oleh karena itu para penari Saman harus selalu fokus agar tidak ada kesalahan. Untuk mendapatkan kekompakan dan fokus yang tinggi memang memerlukan latihan yang serius. Tarian ini khusus ditampilkan oleh para pria. Tari Saman biasa ditampilkan pada acara-acara adat tertentu pada zaman dahulu. Salah satunya adalah saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di dalam konteks masa kini, tarian ini dipertunjukkan pada acara-acara yang resmi saja. Contohnya saat ada tamu kehormatan yang berkunjung ke kabupaten ataupun berkunjung ke negara. Ada juga yang dipertunjukkan saat ada acara-acara besar seperti festival dan lain-lain.

3. Nyanyian di Dalam Tari Saman

Tari Saman tampak lebih dinamis saat para penarinya mengalunkan nyanyian. Penyajian lagu-lagu dalam tari saman dibagi ke dalam 5 macam cara antara lain : Pertama Rengum adalah auman yang  yang diawali oleh pengangkat. Kedua Dering adalah rengum yang selanjutnya segera diikuti oleh para penari. Ketiga Redet adalah lagu singkat dengan suara yang pendek yang nyanyiannya dibawakan oleh seorang penari pada bagian tengah-tengah tari. Keempat Syekh adalah sebuah lagu yang dinyanyikan oleh penari menggunakan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda dari perubahan suatu gerak. Kelima Saur adalah suatu lagu yang diulang bersama-sama oleh seluruh penari sesudah dinyanyikan oleh penari solo. 

4. Garakan Tari Saman

Pada Tari Saman terdapat dua unsur gerakan yang menjadi unsur dasar. Dua unsur gerakan itu adalah tepuk tangan dan tepuk dada. Diperkirakan saat penyebaran agama Islam dilakukan oleh Syekh Saman, Sang Syeck mempelajari tari-tarian dari Melayu kuno. Dari hasil mempelajari tari dari Melayu kuno tersebut, lalu dikolaborasikan. Hasilnya menjadi sebuah tarian yang berupa gerakan dan diserta dengan syair-syair dahwah Islam. Hal inilah yang memudahkan Syekh Saman dalam penyebaran Agama Islam sehingga mudah diterima di tengah-tengah masyarakat.

Di dalam konteks kekinian, Tari Saman yang merupakan tarian ritual yang sifatnya religius ini, masih dipakai untuk alat / media penyampaian pesan-pesan dakwah lewat berbagai pertunjukan yang diadakan. Tarian ini merupakan satu diantara berbagai macam tarian yang unik di Indonesia. Hal ini disebabkan karena tari ini menyajikan suatu gerakan tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya yang sangat indah dan kompak. Contohnya adalah gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring dan seterusnya. Dan kesemua gerakan-gerakan tadi diiringi dengan penggunaan bahasa Gayo. 

5. Penari Dalam Tari Saman

Kebanyakan di dalam pertunjukan Tarian Saman dimainkan oleh belasan sampai puluhan penari laki-laki. Namun jumlah penari yang ditentukan berjumlah ganjil. Akan tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwasanya tarian ini ada yang ditarikan oleh 10 orang. Dimana dari kesepuluh orang tersebut dirinci menjadi 8 orang penari dan 2 orang pemberi aba-aba. Sang pemberi aba-aba dalam Tari Saman versi 10 orang ini juga ikut bernyanyi. Dengan semakin berkembangnya zaman seperti sekarang ini, maka tarian ini juga ikut mengalami perkembangan. Sehingga ada yang menginginkan tarian ini lebih semarak dengan diperbanyaknya jumlah penari. Kemudian untuk mengatur gerakan-gerakannya, maka dipilihlah seseorang yang disebut syekh untuk memimpin. Selain untuk mengatur para penari agar gerakannya kompak, maka syech juga memiliki tugas untuk menyanyikan syair lagu saman yaitu yang disebut ganit.


Tari Jaipong Sebagai Tari Tradisi Asli Sunda


1. SEJARAH TARI JAIPONG DARI DAERAH JAWA BARAT

Kesenian tari jaipong merupakan tarian yang berasal dari Bandung Jawa Barat. Berdasarkan catatan dari sejarah dari kebudayaan Indonesia, awalnya tarian ini diciptakan oleh Gugum Gumbira, yaitu seorang seniman yang berdarah Sunda. Akan tetapi ada sumber lainnya yang menyebutkan bahwasanya gerakan dan tarian jaipongan ini penciptanya adalah H. Suanda. Sedangkan Gugum Gumbira hanya sebatas sebagai orang yang pertama kali mengenalkannya kepada masyarakat Bandung kala itu. Tari jaipong yang merupakan tarian pergaulan, di dalam perjalannya dikembangkan dan disebarluaskan oleh seniman Sunda menjadi sebuah tarian yang cukup memasyarakat serta sangatlah digemari oleh masyarakat Jawa Barat pada umumnya.

Tari jaipong bahkan bisa sampai populer ke luar daerah Jawa Barat. Orang akan teringat akan tradisi Sunda dan sejenisnya bila menyebut kata Jaipongan, dimana di dalam tradisi tari Sunda umumnya identik dengan tarian yang menggunakan gerakan yang dinamis dan atraktif. Pukulan kendang akan mengiringi pola gerakan lincah berupa pinggul, bahu dan tangan yang dominan dan kesenian tari Sunda. Terlebih lagi pada para penarinya yang kebanyakan dari kalangan perempuan, seluruhnya dibarengi dengan senyuman yang manis diiringi dengan kerlingan mata. Hingga saat ini tarian pergaulan ini di dalam tradisi tari Sunda yang muncul di akhir tahun 1970-an masih populer di tengah masyarakat.

Baca Juga :
Mengenal Tari Didong 
Mengenal Tari Saman Dari Nanggroe Aceh Darussalam

Di awal kehadirannya, jaipong adalah salah satu tarian modern yang memiliki perbedaan dibandingan dengan tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya dimana lebih mengedepankan segi sopan dan santun serta kehalusan budi dari para penarinya. Para penari yang biasanya terdiri dari para perempuan bahkan lebih menundukkan pandangan matanya dan tidak dibolehkan untuk memandang pasangannya. Berbeda dengan tari jaipong yang pada waktu itu dipengaruhi oleh budaya dansa dari Barat di ball room, dimana dituntut untuk fokus menatap lawan mainnya atau pasangannya sebagai suatu bentuk komunikasi visual.

2. LATAR BELAKANG SEJARAH TARI JAIPONG

Munculnya bentuk tari pertunjukan ini sebelumnya dipengaruhi oleh beberap faktor. Misalnya di daerah Jawa Barat. Munculnya jenis tari dari Ball Room telah mempengaruhi tari pergaulan ini, dimana dalam pertunjukkan tari-tari pergaulan biasanya tidak lepas dari keberadaan pamogoran dan ronggeng. Di dalam tari pergaulan, ronggeng tidak lagi dipertunjuukan untuk kegiatan upaya saja, akan tetap sudah beralih menjadi hiburan ataupan cara gaul. Kaum pamogoran menaruh simpati terhadap daya tarik tari ronggeng di dalam seni pertunjukan. Tari Ketuk Tilu misalnya, oleh masyarakat Sunda sangatlah dikenal dan kesenian ini diperkirakan sudah populer di kalangan masyarakat sejak tahun 1916.

Keberadaan seni ini sebagai pertunjukan rakyat hanyalah disokong oleh unsur-unsur yang sederhana, seperti widitra yang mencakup kendang, rebab, tiga buah ketuk, dua buah kulanter dan gong. Begitu juga dengan gerakan tariannya yang tidak mempunyai pola yang baku di dalam gerakannya, dan merupakan cerminan kerakyatan karena kostumnya yang sederhana. Dengan berjalannya waktu, kesenian diatas sudah mulai memudar. Sehingga mantan pamogoran yang merupakan penonton yang mempunyai peran serta dan aktif di dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Tayu/Doger mulai mengalihkan perhatinnya pada seni Kliningan. Seni pertunjukan Kliningan ini sangat populer di daerah Kawarang, Purwakarta, Bekasi, Indramayu dan sumedang.

Kesenian ini lebih dikenal dengan nama Kliningan Bajidoran yang pola gerakan tarinya dan juga peristiwa yang ditampilkan di pertunjukan memiliki kesamaan dengan kesenian-kesenian sebelumnya. Yang dimaksud kesenian-kesenian sebelumnya adalah Kesenian Ketuk Tilu/Tayub/Doger. Disamping itu, keeksistensian tari-tarian dalam Topeng Bajet masih digemari, terutama di daerah Karawang, yang mana pola gerakan Bajidoran diambil berdasarkan tarian di dalam Topeng Banjet ini. Tarian itu sebenarnya secara koreografis masih mempertontonkan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mana masih terkandung unsur gerakan buka-bukaan, pencugan, nibakeun dan juga beberapa gerakan mincid yang pada akhirnya akan menjadi dasar dari terciptanya tari Jaipongan. Tari Jaipongan yang mana gerakan-gerakan dasarnya selain dari Ketuk Tilu, Topeng Banjet serta Ibing Bajidor adalah Pencak Silat dan Tayuban. 

3. PERTUMBUHAN TARI JAIPONG

Tari jaipong ini melahirkan penari-penari Jaipongan yang cukup handal, katakanlah Yeti Mamat, Tati Saleh, Pepen Dedi Kirniadi dan eli Somali. Lahirnya tari Jaipongan memberi kontribusi lumayan besar terhadap pencintan seni tari supaya berperan aktif lagi untuk mempelajari dan menggali jenis-jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang dapat perhatian. Semenjak munculnya tari Jaipongan ini, mulai tergeraklah berbagai kalangan untuk membuat berbagai kursus tari Jaipongan, dan banyak berbagai kalangan terutama para pengusaha memanfaatkan untuk menarik minat para tamu undangan. Di daerah Subang, tari Jaipongannya dengan gaya “Kaleran” mempunyai ciri khas yaitu erotis, humoris, keceriaan, spontanitas, semangat dan kesederhanaan. Hal tersebut telah tercermin di dalam bentuk pola sajian tari pada pertunjukannya. Pola yang dipakai yaitu pola (Ibing Pola) mirip dengan seni Jaipongan yang terdapat di Bandung.

Namun begitu, ada juga tarian yang tidak diberikan pola (Ibing Saka) contohnya yaitu pada seni Jaipongan Karawang dan Subang. Istilah tersebut bisa kita jumpai pada Seni Tari Jaipongan gaya kaleran utamanya yang terdapat di daerah Subang. Pada masa sekarang ini Tari Jaipong merupakan salah satu seni tari khas Jawa Barat. Ini dapat dilihat pada acara-acara yang penting saat penyamputan tamu-tamu dari Luar Negeri yang berkunjung ke Jawa Barat. Di dalam perkembangannya, Tari Jaipongan ini telah banyak memberikan pengaruh kepada kesenian-kesenian yang lain yang terdapat di Jawa Barat. Hal ini mencakup berbagai kesenian seperti seni pertunjukan degung, genjring, wayang dan lain sebagainya. Bahkan malah ada juga yang dikolaborasikan dengan pertunjukan modern seperti Dangdut Modern sehingga menjadi kesenian tersendiri yang dinamai Pong-Dut, dan hal ini digagas oleh Mr. Nur dan Leni.

4. BERBAGAI GERAKAN TARIAN

Kalau dalam tari serampang dua belas kita mengetahui 12 keunikan di dalam berbagai gerakannya, maka di dalam tari jaipong gerakannya yang signifikan diperagakan oleh penari dengan cukup sederhana yaitu 4 ragam jumlahnya. Keempat gerakan tari jaipong yang secara signifikan dilakukan dapat diterangkan sebagai berikut :

A. Gerakan Bukaan

Adalah suatu gerakan pembukaan di dalam pertunjukan Jaipongan dari Bandung. Pada gerakan ini, si penari umumnya memperagakan jalan berputar yang disertai dengan permainan selendang yang diletakkan pada leher penari.

B. Gerakan Pencungan

Gerakan pencungan adalah berbagai gerak yang beragam dan cepat di dalam tarian Jaipong. Pada gerakan ini diiringi dengan musik dan lagu yang cepat yang menuntut gerakan yang cepat pula.

C. Gerakan Ngala

Di dalam tarian jaipongan, ngala adalah salah satu ragam gerakan yang memperagakan gerakan patah-patah ataupun di dalam satu gerakan ke gerakan lain ada titik pemberhentian. Gerakannya dilakukan dengan cepat.

D. Gerakan Mincit

Mincit adalah suatu gerak berpindah dari satu gerakan ke gerakan yang lain. Pada gerakan ini khusus dilakukan setelah ada gerakan ngala dalam seni pertunjukan tari Jaipong. 

5. PROPERTI YANG DIPAKAI DI DALAM PEMENTASAN

Untuk mengatahui properti apa yang dipakai oleh para penari dan juga para pengirinya diantaranya dikelompokkan kedalam beberapa bagian berikut :

A.    KOSTUM

Untuk urusan kostum atau busana yang dipakai, dalam pementasan tari jaipong sangatlah beragam.
Walaupun ada perbedaan dalam hal corak diantara tari jaipong tradisional dan tari jaipong gaya baru tetapi kebanyakan properti busana yang dipakai para penarinya adalah pakaian tradisional. 

•    Sinjang

Apa itu sinjang? Sinjang adalah sebuah kain berukuran panjang yang dipakai oleh para penari jaipongan yang digunakan untuk celana panjang.

•    Apok

Apok merupakan pakaian ataupun baju yang dipakai oleh penari. Umumnya pada busana wanita dan pakaian jenis ini juga sering dinamakan sebagai kebaya. Untuk mengetahui ciri-ciri pakaian apok bisa dilihat pada ornamen dan pernak-pernik yang melekat di dalamnya.

•    Sampur

Sampur adalah kain panjang yang merupakan bagian properti utama dari tari jaipong. Sampur dinamakan juga dengan sebutan selendang yang dipakai pada leher para penarinya. Adanya sampur penting sekali sebab menjadi salah satu properti yang dipakai dan diperagakan pada gerakan tari dimulai dari pembukaan sampai dengan akhir pertunjukan.


B.    ALAT MUSIK

Pada tari jaipong, terdapat alat musik yang sangat mencolok yaitu kendang. Tetapi selain kendang yang dimainkan serta ditabuh menggunakan tangan, peralatan musik ini merupakan panduan bagi penari jaipong untuk memperagakan gerakan yang menarik penonton, disamping itu juga ada alat musik lainnya sebagai pelengkap antara lain :

•    Ketuk

Ketuk adalah salah satu alat musik tradisional yang mirip dengan bonang. Alat musik ini digunakan dan dimainkan dengan diketuk dan menghasilkan bunyi yang  nyaring sebagai suatu suara tekanan di dalam sebuah musik pengiring tari jaipong.

•    Rebab

Alat musik ini merupakan pelengkap di dalam mempersembahkan sebuah lagu yang mengiringi tari jaipongan. Sekilas alat rebab sangat mirip dengan alat musik gitar yang mempunyai senar.

•    Gong

Saya kita semua orang sudah tahu apa itu alat musik gong. Suaranya yang menggelegar adalah ciri khas dari alat musik yang satu ini. Cara memainkannyapun juga sangat sederhana hanya dengan dipukul dengan alat pemukul saja. Namun untuk memukulnya harus disesuaikan dengan irama musik yang dimainkan saat pementasan berlangsung.

•    Kecrek

Saat kita menonton suatu pertunjukan pementasan wayang kulit, tentunya kita tidak lagi asing dengan kecrek, yang mana kecrek merupakan perkusi di dalam seni pertunjukan wayang. Ciri-Ciri Khas Tari Jaipong Jawa Barat. Diantara ciri-ciri khas dari tari jaipong Jawa Barat adalah keceriaan, erotis, kaleran, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan yang alami dan apa adanya.

Kategori

Kategori